Profil Aremania Kupang

Wearemania.net - Kota Kupang adalah ibu kota propinsi Nusa Tenggara Timur. Kota yang mungkin masih kalah ramai di bandingkan dengan Kota Wisata Batu sekalipun. Awalnya asing dengan nama kota ini. Saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini pada tahun 2008, hanya ada 5 orang Malang yang ku kenal. Mereka adalah Nugroho, Setyo Hadi, Nurwiga Andi w, M ishak al Bashori dan istrinya. Itupun mereka satu tempat kerja denganku. Hari-hari kujalani hanya dengan mereka serta orang-orang di tempat kerjaku.
Tak jauh dari tempat kami, ada depot bakso Arema. Sayang, di kota yang notabene sebagai ibu kota sebuah propinsi ini, hanya ada 4 TV swasta yang membangun stasiun pembantu/pemancar. ANTV sebagai satu-satunya stasiun TV yang menayangkan ISL tidak ada di kota ini. Kecuali bagi mereka yang mempunyai parabola.

Sudah menjadi hal umum bahwa sebagai arek-arek Malang, kami juga Aremania. Kaos, syal, sticker AREMA pasti masing-masing dari kami memiliki. Kecintaanku pada AREMA, kuwujudkan dengan selalu memakai kaos AREMA kemanapun kupergi di kota ini kecuali pada saat jam kerja. Tapi sayang, karena tidak punya parabola, kami kesulitan nonton bareng saat pertandingan Arema di tayangkan langsung oleh ANTV. Sehingga sering kali kami hanya bisa update score dari media online.
Pernah sekali waktu saat Arema sedang bertanding, aku dan Nugroho sok akrab mendatangi depot bakso Arema, bermaksud dapat melihat pertandingan, ternyata kami malah mendengar keluhan ( di ndi ki ker osi tail AREMA neam ?) kata mereka. Semangkuk Bakso telah habis dan kami pun pulang ke kost dengan wajah murung dan kecewa karena tak dapat menyaksikan pertandingan AREMA. Kami baru bisa nonton bareng saat di kantor kedatangan tamu dari cabang Surabaya. Kamar hotel tempat tamu menginap menjadi ajang nonton bareng. Kami sangat tertolong karena tamu kantor biasanya bisa tinggal lebih dari sebulan. Sam Dimas Yudo Bramantyo mantan drummer Arema Voice juga pernah ikut nonton bareng saat Dia bertugas sementara di BII kota Kupang.

Suatu hari, aku, Nugroho dan Hadi sedang duduk-duduk di plataran Flobamora Mall. Satu-satunya Mal yang ada di NTT. Tiba-tiba aku melihat seseorang memakai kaos putih bergambar besar Logo AREMA. Tanpa sungkan-sungkan aku pun menyapa dia. Melihat aku juga memakai kaos AREMA, dia pun menyambut dengan senyuman. Saat itu kami langsung akrab. Dia adalah Eko anak Batu dan Catur anak banyuwangi yang sama sama terdampar di kota Kupang (Eko sekarang jadi salah satu dedengkot AREMANIA KUPANG). Sejak saat itu kami tak bingung lagi menonton pertandingan AREMA. karena bisa menonton kapanpun AREMA bertanding di tempat Eko. Aku lantas berfikir bahwa sebenarnya banyak orang Malang yang tinggal di Kupang. Timbulah sebuah ide untuk membuat sebuah acara untuk mengumpulkan orang-orang Malang di Kupang. Ide ku disambut dengan hangat oleh Nugroho, Bashori dan Eko lewat sebuah obrolan yang berakhir dengan rencana serius mengadakan sebuah acara.

Dengan nada optimis dan ciri khas SPIRIT AREMA kami pun mulai membuat stiker dan undangan. Teman-teman yang lain mulai promo on air di radio-radio lokal kota Kupang dengan judul TEMU KANGEN WARGA MALANG RAYA. Semula acara akan di adakan tepat dengan hari ulang tahun arema 11 Agustus 2008 yang akhirnya mundur jadi tanggal 13 Agustus 2008. Tepat pada tanggal 13 Agustus 2009 acara terlaksana dengan memuaskan. 37 orang Malang hadir dalam acara itu. Setelah pertemuan itu, setiap dari kami melihat orang memakai kaos Arema, tanpa sungkan kami akan mengejar dan meminta nomer HP untuk di hubungi saat akan ada pertemuan. Tiap ada informasi tempat orang Malang berada, kamipun langsung menuju sasaran dengan jurus sok kenal sok dekat. Tak heran kalau kadang banyak orang yang takut dan salah paham ketika kami kejar. Kami pun sering juga salah sasaran. Sering kami kira orang Malang karena berbaju Arema, ternyata orang lokal yang nggak ngerti bahasa Jawa.

Beberapa dari kami, Nugroho, Bashori, Hadi dan Wiga ditarik kembali ke cabang Surabaya. Pendiri aremania Kupang tinggal aku dan Eko. Kegiatan-kegiatan bertema sosial, nonton bareng dengan layar lebar, nongkrong tiap malam minggu serta futsal setiap hari minggu rutin dilaksanakan sehingga nama Aremania Kupang semakin di kenal di kota Kupang. Anggota semakin banyak dan berasal dari berbagai macam kalangan. Penjual basho, pedagang, mekanik, karyawan, farmasi, wiraswasta, sales, polisi, tentara, dosen,pegawai negri bahkan kepala Koramil Kota Kupang yang membuat persaudaraan ini semakin solid walaupun jauh dari kampung halaman. Tercatat sudah lebih dari 200 orang Malang di Kota Kupang. Tak hanya orang Malang, namun ada juga orang Jogja, Palembang,Surabaya, Kendari, Mojokerto, Banyuwangi, serta Lamongan yang terdaftar sebagai anggota Aremania Kupang. Dan juara ISL 09/10 merupakan kado istimewa bagi ultah ke-1 Aremania Kupang tahun 2010 kemaren. Yang membuat kami semakin bangga selalu berbaju Arema di kota Kupang ini.

1 Tahun Aremania Kupang 8 Agustus 2010
Semakin banyak anggota, jiwa wiraswastaku terpancing. Tercatat lebih dari 150 kaos dan beberapa atribut Arema yang kubawa dari Malang laku terjual. Pesanan semakin bertambah sehingga aku dan teman-teman memutuskan untuk membuat kaos serta kemeja Aremania Kupang.

Aremania Kupang mulai dikenal lewat dunia maya. Lewat facebook, Agung Hartadi sebagai salah satu aktivis Aremania kupang bersama Arema Senayan bahkan sempat mengadakan halal bihalal Aremania perantauan. Sudah 2 edisi lebaran mereka adakan. tahun 2010 dan 2011 kemaren. Kedua edisi tersebut selalu bertempat di food court MOG. Untuk edisi 2011 kemaren di hadiri juga oleh sam Ade Dcross yang membagikan undangan HALAL BIHALAL AREMA SE INDONESIA (kongres arema). Ada juga Andre aka Brigandine lionheart yang merupakan salah satu admin di Aremania facebook yang juga pernah berada di Kupang. Beberapa dari kami (eko, andre dan aku) hadir di acara HALAL BIHALAL AREMA SEINDONESIA. Di dalam GOR Ken Arok, terlihat hanya kami yang memasang bendera pada saat kongres berlangsung. Dan bendera itupun langsung di serbu sebagai background foto oleh Aremania yang lain.

Aremania di Nusa Tenggara Timur bukan Cuma ada di Kota kupang, namun di pulau-pulau lain yang pernah aku datangi juga kujumpai Aremania. AREMA TIDAK KEMANA-MANA NAMUN ADA DI MANA-MANA. Dimanapun Aremania berada, pasti selalu merindukan AREMA dan Bhumi Arema. Tak peduli siapa, bagaimana pengurus dan pengelola AREMA, kami yakin AREMA akan selalu hidup dan menjadi Juara-juara lagi di kompetisi-kompetisi berikutnya. Auman Singo Edan akan selalu menebarkan SPIRIT AREMA'' dimanapun Arek Malang berada. Semoga catatan ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi di daerah lain yang belum ada korwil Arema namun berpotensi untuk mendirikanya. Terimakasih kepada Aremania aremania di Malang dan di kota-kota lain yang telah menjadi inspirasi bagi kami. Terimakasih juga kepada www.wearemania.net selalu menampilkan berita ter update yang membuat saya tidak pernah terlewat info-info tentang AREMA.Pergilah Dualisme-dualisme yang meracuni hati kita. terimalah semua dengan lapang dada. solidaritas bagaikan sapu lidi yang tak terurai.

SATUKAN HATI SATUKAN TEKAD DAN KOBARKAN SEMANGAT!!!! SALAM SATU JIWA (Spesial By RUDYCOOL AREMANIA)

FOTO KEGIATAN AREMANIA KUPANG

2 Tahun Aremania Kupang, Berbagi Dengan Anak Yatim

Bandara El Tari Kupang, Jakarta Kami Datang.....

Bendera Aremania Kupang di GBK 2010

Bersama cak Mat Banteng di GOR Ken Arok

Deklarasi Aremania Kupang

Read more


Refleksi 16 Januari

Wearemania.net - 
 
16 Januari 2008, sore hari mendung disertai hujan gerimis di kota Kediri menambah suasana magis di hari pertandingan perdana Babak 8 Besar antara Arema vs Persiwa dimana pada akhirnya terjadilah peristiwa besar yang kami kenal dengan "Tragedi Brawijaya Obong". Sebuah tonggak awal untuk sebuah pergerakan memperbaiki kualitas sepak bola negeri ini yang dikenal dengan Revolusi PSSI.

Bagi kami, peristiwa itu adalah patokan kilometer nol untuk memulai sebuah pergerakan/revolusi yang kami mulai dari dalam diri kami sendiri dan dari komunitas kami sendiri. Revolusi kebangkitan dari caci maki dan degradasi moral pasca teracuni oleh puja-puji atas sebuah penghormatan tertinggi.
16 Januari 2011, 3 hari pasca tragedi penyerangan kereta api yang ditumpangi Aremania di Kediri setelah mendukung Arema pada pertandingan melawan Persija. Tanggal dimana kami disibukkan untuk mengumpulkan dokumentasi atas fakta yang terjadi di lapangan dan saat itulah kami jadikan sebagai sebuah tonggak perlawanan kami atas sebuah tindakan anarki yang melekat dalam dunia suporter bola negeri ini, berikut dengan bumbu segala macam provokasi penebar benci. Maka dimulailah revolusi mulai dari diri sendiri dan dari komunitas kami sendiri untuk membangkitkan hingar-bingar kemeriahan dukungan Aremania yang mulai menurun kualitasnya. Dan kami pun mulai memikirkan konsep dukungan penuh kreativitas dan sportivitas yang sudah menjadi dasar Aremania.
16 Januari 2012, sebuah tanggal di musim terberat Arema dengan tajuk dualisme yang sudah menjadikan Arema sebagai komoditi berita sepak bola negeri. Dualisme Arema yang menjadi simbol sebagai gambaran adanya dualisme liga yang ada di negeri ini. Di tanggal ini, sebuah harapan akan kami apungkan agar segala permasalahan yang terjadi di tubuh Arema segera terselesaikan dengan cara arek-arek Malang, dengan demokrasi ala Aremania. Meskipun kami tahu bahwa hukum dan keadilan, legalitas dan legitimasi bisa kalian permainkan dan bisa dimiliki oleh orang-orang yang punya harta, kedudukan, dan jabatan. Akan tetapi bagi kami rakyat biasa yang disebut Aremania, yang kami punya hanya SATU JIWA.
Jangan rampas satu jiwa yang menjadi kebanggaan kami, kembalikan ke pada kami di tempat yang semestinya. Api yang membawa simbol kerusuhan sudah kami ganti dengan api kobaran semangat untuk selalu mendukung kebanggaan kami, jadi kami mohon kembalikan rasa-rasa yang hilang karena tragedi ini, biarkan kami rasakan kembali rasa senang ketika menang dan rasa susah ketika kalah. Jangan biarkan kami mati rasa dan jangan TABUkan demokrasi kami!
-here we are-

AREMANIA KEDIRI

source : http://www.wearemania.net/aremania/korwil-aremania/1434-refleksi-16-januari

Read more


Aremania, Arti Sebuah Nama

Aremania
 “Arema are more than just a football club. They are a way of life. They are the St. Pauli of Indonesia. A culture with in a culture. Satu Jiwa, one heart or one soul”
 Sepenggal kalimat diatas ditulis oleh Anthony Sutton, seorang jurnalis ESPN setelah meliput pertandingan Persija Jakarta vs Arema Indonesia di Stadion Gelora Bung Karno pada Mei 2010. Membandingkan kota Malang dengan kota-kota lain yang ada di Indonesia, kota ini memiliki citarasa tersendiri bagi para penikmat sepakbola: tidak hanya permainan keras dan lugas, tetapi juga suguhan kreatifitas dari pendukungnya. Saat Arema bertanding, nuansa kota Malang berubah, seolah ada perayaan besar disana, sehingga dalam satu hari semua orang menggunakan atribut bernuansa biru-biru Arema. Walaupun laga baru dimulai pada sore hari, sejak pagi kesibukan akan persiapan menonton pertandingan Arema terlihat di berbagai sudut kota Malang.

Apabila anda berkeliling kota Malang pada pagi hari, anda akan melihat ada orang-orang yang memakai atribut biru khas Arema sedang mencari tiket, menjual tiket, mencari tumpangan, dan berbagai kegiatan lain yang berhubungan dengan pertandingan Arema di sore hari. Memasuki siang hari, nuansa biru Arema di kota Malang semakin terasa. Aremania mulai berdatangan dari berbagai penjuru kota Malang menuju Stadion Kanjuruhan yang terletak di sudut selatan Kabupaten Malang. Ada Aremania yang datang sendiri, ada yang bersama keluarga atau teman-teman, bahkan ada juga yang konvoi bersama sembari menabuh sner-drum dan bass-drum, sambil menyanyikan yel-yel dukungan terhadap Arema, dan mengibarkan bendera-bendera bergambar singa yang dibalut background warna biru-putih. Penulis masih ingat, kala Arema masih bertanding di Stadion Gajayana, untuk masuk ke dalam stadion haruslah sebelum jam dua siang, padahal pertandingan baru dimulai pukul empat sore. Bisa dipastikan sejak pukul dua siang stadion sudah hampir terisi penuh, sehingga agak sulit mencari tempat yang nyaman untuk menonton Arema.

Arema dan Aremania tidak hanya sekedar menjadi fanatisme terhadap klub sepakbola saja, tetapi juga terdapat identitas kebanggaan di dalamnya. Bagi orang Malang yang merantau, menyebut diri sebagaiarema atau arek Malang menjadi kebanggaan tersendiri. Kebanggaan menyebut diri sebagai arematidak hanya dialami oleh mereka yang menggemari sepakbola (khususnya suporter Arema Malang), tetapi juga dirasakan oleh mereka yang tidak suka sepakbola sekalipun. Uniknya, bagi mereka yang membuka usaha di berbagai bidang, juga menggunakan identitas arema sebagai identitas usahanya. Sehingga jangan heran apabila ada “Warung Makan Arema”, “Bakso Arema”, “Toko Mebel Arema”, “Kripik Singkong Arema”, dan lainnya.

Arema, Solusi Masalah Geng Pemuda
Sejak tahun 1970-an, geng-geng pemuda bermunculan di berbagai kota besar di Indonesia, tak terkecuali di Malang dan Surabaya. Kelompok geng pemuda di Jawa Timur terpusat pada dua kota yang selalu bersaing dalam segala hal: Malang dan Surabaya. Kera Ngalam tidak akan pernah mau mengalah dengan arek Suroboyo. Manifestasi dari persaingan ini diwujudkan dalam berbagai hal, terutama di bidang balapan, musik, dan tinju. Dalam pengakuannya, Lucky Acub Zaenal yang dulu dikenal sebagai atlet balap nasional mengaku tidak pernah mau kalah dari pembalap Surabaya. Begitu juga dalam bermusik, pernah suatu hari konser Slank di Stadion Tambaksari Surabaya berujung kerusuhan yang melibatkan arek Malang dengan arek Suroboyo. Setiap kali terdapat kerusuhan besar, baik di Malang maupun Surabaya, selalu saja melibatkan dua kelompok pemuda dari masing-masing kota.

Geng pemuda yang ada di Malang memiliki basis wilayah yang tersebar di berbagai sudut kota. Saat itu muncul nama-nama geng seperti Argom (Armada Gombal, asal Kidul Dalem), Fanhalen (Federasi Anak Nakal Halangan, asal Celaket), Saga (Sumbersari Anak Ganas, asal Sumbersari), Arpanja (Arek Panjaitan, asal Betek), dan lainnya. Arek-arek Malang ini tampil dengan mewakili asal wilayah dimana ia tinggal, sehingga loyalitas akan kelompok wilayah dan egoisme yang berbalut identitas wilayah masing-masing kerap menjadi pemicu tawuran antar kelompok pemuda di Malang. Area pertarungan pemuda pun menyebar di berbagai sudut kota Malang, beberapa yang tempat yang terkenal antara lain: Bioskop Jl. Kelud, Alun-alun Kota, Stadion Gajayana, dan Pujasera Pulosari.

Generasi muda di Malang saat itu kebanyakan pengangguran yang tidak memiliki penyaluran potensi dan energi berlebih. Banyak dari mereka hanya berkegiatan seperti mengamen, menjadi juru parkir, berdagang asongan, atau hanya sekedar cangkruk saja. Ketiadaan penyaluran energi serta keinginan untuk memperluas wilayah kekuasaan memicu pertarungan antar kelompok pemuda di Malang, serta pertarungan eksistensi & perebutan wilayah strategis seperti pada beberapa tempat yang sudah penulis sebut di atas. Kondisi inilah yang membuat Mayjend TNI (purn) H. Acub Zainal berkewajiban untuk mengelola dan mengembangkan potensi yang dimiliki arek Malang agar berproses ke arah yang positif dan mampu meningkatkan harkat dan martabat arek Malang.

Mayjend TNI (purn) H. Acub Zainal yang saat itu menjabat sebagai Danrem 084 Baladika Jaya Surabaya melihat sepakbola dapat menjadi solusi bagi masalah pemuda. Berbekal pengalaman beliau sebagai pengelola klub sepakbola NIAC Mitra dan pernah membina anak-anak muda Irian Jaya guna dikirim ke kompetisi sepakbola internasional di Bangkok, beliau menawarkan kepada putranya (Lucky Acub Zainal) untuk mendirikan klub sepakbola di Malang. Kebijakan PSSI pada tahun 1987 yang membuka keran pendirian klub sepakbola profesional untuk berlaga pada kompetisi Galatama (Liga Sepakbola Utama), serta animo masyarakat Malang yang cukup tinggi pada setiap pertandingan Persema menjadi alasan utama mengapa Arema didirikan. Selain itu, generasi muda arek Malang di mata H. Acub Zainal memiliki energi dan potensi yang cukup besar untuk dikembangkan, tetapi tidak memiliki wadah pemersatu, sehingga kerap terjadi tawuran antar geng pemuda di Malang.

Walaupun di Malang ada klub sepakbola Persema, tetapi klub ini tidak mampu mengakomodir potensi yang dimiliki arek Malang saat itu. Tetap saja pada beberapa pertandingan Persema di Stadion Gajayana terjadi kericuhan antar geng pemuda. Selain karena Persema adalah klub amatir yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Malang, prestasi klub ini tidak pernah menonjol dalam kancah persepakbolaan nasional. Oleh karenanya banyak orang Malang yang menempuh perjalanan 3 jam ke Surabaya untuk menonton pertandingan NIAC Mitra dalam kompetisi Galatama. Sementara Persebaya yang bermain dalam kompetisi Perserikatan tetap menjadi musuh abadi arek Malang, sehingga tiap pertandingan Persema melawan Persebaya di Stadion Gajayana selalu dipenuhi penonton dan tak jarang terjadi kericuhan di dalam stadion.

Tanggal 11 Agustus 1987 klub sepakbola Arema resmi didirikan dan dipersiapkan untuk mengarungi kompetisi Galatama VIII / 1988. Peran militer dalam pembentukan tim sangat kuat, selain sumbangsih fisik berupa penyediaan asrama bagi pemain beserta fasilitas latihan di Kompleks TNI AU Abdulrachman Saleh, pihak TNI juga berperan dalam pelatihan dan seleksi pemain yang dilakukan dengan cara-cara militer. Guna menarik animo penonton dalam mengenalkan Arema, diundanglah tim elit Hallelujah FC asal Korea Selatan yang saat itu terkenal di wilayah Asia. Pertandingan yang dimenangkan oleh tim tamu dengan skor telak 1-5 itu mampu menarik perhatian warga Malang. Animo masyarakat terhadap Arema semakin tinggi, dan terus meningkat pada dua laga ujicoba berikutnya melawan Merpati Airlines FC dan Persema.

Arema dipilih menjadi nama resmi klub karena merupakan singkatan dari kata Arek Malang. Sudah menjadi hal yang umum bahwa nama klub saat itu bisa membedakan mana tim yang profesional dan mana yang amatir. Klub-klub sepakbola profesional yang berlaga pada kompetisi Galatama kebanyakan tidak menyebut daerah asal mereka, seperti: Pelita Jaya, Arseto, NIAC Mitra, Arema, Warna Agung, Perkesa 78, dan lainnya. Lima huruf A-R-E-M-A dipilih dengan tujuan menjadi simbol identitas pemuda (arek) yang berasal dari Malang, dengan kata lain Arema menjadi manifestasi bersatunya arek-arek Malang yang berasal dari berbagai kelompok pemuda.

Mengatasi masalah geng pemuda di Malang tidak cukup hanya dengan mendirikan Arema, tetapi setidaknya sejak tahun 1987 arek-arek Malang sudah memiliki wadah untuk menyalurkan energi dan potensi yang dimiliki. Apa yang dilakukan H. Acub Zainal dengan mendirikan Arema mampu melokalisir potensi-potensi kericuhan oleh arek Malang yang semula tersebar di berbagai wilayah Jawa Timur menjadi terpusat di Stadion Gajayana. Pemerintah beserta perangkat keamanan turut meredam masalah geng pemuda di Malang dengan berbagai cara seperti memunculkan Peraturan Daerah tentang peredaran minuman keras dan mengembangkan kebijakan tata wilayah kota. Bioskop Kelud yang kerap menjadi lokasi tawuran antar pemuda pun ditutup, fasilitas penerangan disana diperbanyak, dan dibangun pos polisi untuk menjaga keamanan. Begitu juga dengan Alun-alun Kota yang juga kerap menjadi ajang tawuran pemuda, penerangan dan fasilitas pariwisata dibangun disana, tidak lupa pos polisi di 2 sudut areal alun-alun.

Sentralisasi kegiatan arek-arek Malang di Stadion Gajayana membuat pendukung Arema saat itu memiliki kesan brutal. Yuli Sugianto yang kini menjadi dirigen Aremania menceritakan bahwa dirinya selalu membawa pedang ke stadion untuk jaga-jaga apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, dia mengatakan bahwa perlengkapan senjata tajam adalah hal yang umum dibawa ke dalam stadion saat itu. Suasana seperti itu membuat toko-toko dan rumah-rumah di sekitar Stadion Gajayana memilih tutup apabila Arema bertanding, geng pemuda kerap tawuran untuk memperebutkan eksistensi di dalam stadion atau sekedar membalas perlakuan kelompok lain di masa lalu. Bahkan kota Malang menjadi kota mati pada saat Arema bertanding, image buruk penonton sepakbola Arema cukup meresahkan warga Malang dan menggentarkan mereka untuk keluar rumah, apalagi bergerak ke arah stadion Gajayana.

Arema yang dikenal sebagai tim jago kandang di Galatama membuat stadion Gajayana terkesan angker bagi tim tamu yang akan melawan Arema. Raihan hasil positif Arema ketika bermain di kandang menarik animo masyarakat untuk menonton Arema. Hal ini membuat Lucky Acub Zainal berinisiatif untuk membentuk Arema Fans Club (AFC), sebuah wadah suporter yang dikelola oleh klub sepakbola Arema. Kehadiran Arema Fans Club rupanya kurang mendapat respon positif dari pendukung Arema, hal ini berujung pada pembubaran Arema Fans Club pada tahun 1994. Beberapa alasan yang mengemuka dalam pembubaran Arema Fans Club adalah masalah eksklusifitas organisasi dan tidak ada regenerasi. Arema Fans Club selama berdiri lebih banyak menjalin komunikasi dengan elemen suporter lain di luar kota. Kondisi ini tidak disukai oleh beberapa kelompok geng pemuda yang saat itu banyak menjadi pendukung Arema. Lagipula pengaruh pihak keamanan (kepolisian dan tentara) dalam Arema Fans Club sangat kental, sehingga menambah sikap antipati arek-arek Malang terhadap Arema Fans Club. Beberapa kelompok geng pemuda yang semula saling bertikai berkumpul untuk membahas penolakan terhadap Arema Fans Club. Penolakan geng-geng pemuda terhadap Arema Fans Club muncul karena keinginan untuk tidak disetir oleh Yayasan PS Arema (klub), apalagi saat itu ada isu bahwa Arema Fans Club ini memiliki “bau” aranet (tentara) dan silup (polisi), musuh utama geng-geng pemuda.

Medio 1994 Aremania muncul, belum jelas siapa dan darimana inisiator nama Aremania. Kata “Aremania” berasal dari “Arema” dan “Mania”, sebuah frase simbol fanatisme pendukung Arema. Suporter Arema yang pada dasarnya memiliki basis geng-geng pemuda dari berbagai wilayah kota Malang bersatu dalam satu identitas “Aremania” dan salam “satu jiwa”. Sikap independen Aremania terwujud pada tidak adanya pemimpin di dalam tubuh Aremania, pimpinan tertinggi adalah musyawarah mufakat dari korwil-korwil Aremania yang ada di Malang. Pembubaran Arema Fans Club sebagai instrumen suporter berbasis pada korwil tidak serta merta menghilangkan dukungan terhadap Arema. Sistem korwil (koordinator wilayah) menjadi peninggalan dari Arema Fans Club pasca pembubarannya, walaupun struktural di atas korwil secara resmi dihapuskan.

Berbagai korwil Aremania hadir di stadion membawa bendera dan desain pakaian sendiri-sendiri, dengan menitikberatkan pada warna biru, gambar singa, dan pernak-pernik lain yang membedakan dengan kelompok lain. Di dalam stadion setiap korwil Aremania memiliki wilayah sendiri-sendiri, korwil yang beranggotakan banyak orang jelas memiliki wilayah terluas di tribun stadion, sementara korwil-korwil kecil pada akhirnya masuk menjadi bagian di korwil besar tersebut. Adu kreatifitas menjadi pertarungan utama bagi kelompok-kelompok arek Malang di dalam stadion. Semula mereka saling beradu dalam bentuk desain bendera dan pakaian, selanjutnya setelah Juan Rodriguez “Pacho” Rubio bermain di Arema, persaingan mereka melebar dalam bentuk nyanyian dan tarian. Setiap korwil selalu berusaha untuk menyajikan sesuatu yang baru dan diterima oleh khalayak ramai penonton Arema. Oleh karenanya mereka berusaha mencipta yel-yel baru dan tarian-tarian baru untuk mendukung kesebelasan Arema.

Apa yang dilakukan kera-kera Ngalam ini berbuah positif. Termotivasi oleh keinginan untuk membedakan diri dengan karakter arek Suroboyo yang bondho nekat, Aremania berusaha melepaskan diri dari image brutal dan anarkis yang dulu pernah melekat erat. Kreatifitas dalam mendukung Arema di dalam stadion serta sikap santun kala melakoni tour ke luar kota berbuah apresiasi dari Agum Gumelar berupa penyerahan gelar The Best Supporter untuk pertama kalinya di Indonesia kepada Aremania pada tahun 2000. Apresiasi lain juga muncul dari luar kota Malang, banyak komunitas suporter lahir di kota-kota lain seperti The Jakmania di Jakarta, Slemania di Sleman, dan Pasoepati di Solo yang terinspirasi oleh Aremania. Pada akhirnya, sesuai dengan harapan pendirinya bahwa Arema akan mampu menjadi penyalur potensi yang dimiliki arek Malang telah terwujud. Ada rasa bangga yang lebih dari sekedar mendukung klub sepakbola, yakni tentang identitas diri dalam lima huruf A-R-E-M-A. Oleh karenanya, jangan heran apabila kata “saya orang Malang” atau “saya anak Malang” jarang terucap dari perantau asal Malang, tapi “saya Arema!”.

source : http://junedoyisam.wordpress.com/2012/04/06/aremania-arti-sebuah-nama/

Read more


Mengenal Aremania Jalur Gaza ; Love In Brotherhood

jalur gazaSiapa yang tidak kenal dengan istilah Jalur Gaza? itu adalah daerah dimana tempat para pejuang muslim Palestina berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan dan pengakuan dunia sebagai negara yang berdaulat. Mereka (pejuang muslim Palestina) tidak mengenal kata menyerah untuk selalu bertaruh nyawa demi nama Palestina yang telah ditindas dan dijajah oleh zionis Israel. Meski hanya bermodal batu dan bongkahan semen reruntuhan gedung, pejuang Palestina dengan gigihnya melawan tank-tank dan senjata otomatis yang dimiliki oleh bangsa bangsat Israel.
Diilhami dengan Jalur Gaza (yang sebenarnya) para nawak Aremania yang berdomisili di daerah Pandaan dan sekitarnya mendirikan suatu korwil Aremania tersendiri. Kenapa nama Jalur Gaza yang dipakai?  Berikut penuturan dari admin FP Aremania Jalur Gaza Pandaan. Monggo disimak.
Salam satu jiwa Arema Indonesia. Puncak prestasi Arema bukanlah bertengger di posisi puncak klasemen liga ISL, namun Kemenangan yg diraih pada setiap laga pertandingan Arema Indonesia dan menjadikan itu JUARA. Faktor2 dilapangan tidak hanya taktik dan teknik dari pelatih, tetapi dukungan dan antusiasme dari supporter Arema yaitu Aremania.
Dimanapun Arema berlaga slalu ada Aremania yg mendukungnya, membuat para pemain bermotivasi ganda untuk menjalani setiap pertandingan.
Aremania yang tak pernah lelah mendukung tim kebanggan Arema Indonesia yg berlaga disetiap pertandingan. Tak terkecuali Aremania Jalur Gaza, sama dengan Aremania lain yang haus kreatifitas dan tak lelah memberikan dukungan terhadap tim pujaannya. Yang membedakan Aremania Jalur Gaza hanyalah letak geografi jalur gaza (Jalur Maut) dimana letak Jalur gaza (Jalur Maut) ini lepas dari Kabupaten Malang yaitu Pandaan, Tretes dan Trawas yg berdampingan dengan supporter lain seperti bonek, deltrasmania dan the lassak.
Walaupun jarak Pandaan ke Kepanjen cukup jauh, namun motivasi kami makin bertambah karena dukungan kami hanya untuk Arema Indonesia. Tak jarang setiap pulang dari mendukung tim kebanggan, kami sering mendapat sedikit gangguan dari oknum2 suporter lain. Luka2 akibat lemparan batu, kawan kami yg jadi bulan2an oknum tersebut. Namun dari itu semua kami tak kan pernah takut dan tak pernah luntur semangat untuk mendukung tim Kebanggaan Arema Indonesia. Karena kami Satu Jiwa untuk Arema Indonesia.
Aremania Jalur Gaza dulunya adalah Aremania pandaan yang lahir mulai tahun 2001 2002 dan mempunyai sekitar 100 orang. Sejak Arema Malang berganti Arema Indonesia, Aremania Pandaan berubah nama menjadi Aremania Jalur Gaza dengan meninggalkan sistem kedaerahannya karena Aremania Jalur gaza tidak berasal dari Pandaan saja namun juga dari, Tretes, dan Trawas.
Lahirnya Aremania Jalur Gaza ini tentu tidak bisa berdiri sendiri, namun dibantu oleh para dedengkot Aremania seperti Amin korwil sukorejo, Cak Sur tattoo dan Sam Helos Wagir. Aremania Jalur Gaza sudah memiliki KTA agar lebih mudah mengkoordinir dan tdk mudah disusupi oleh Oknum2 yg tidak bertanggung jawab.
Visi dan misi Aremania Jalur Gaza,Visi untuk mendukung Arema dimanapun berada, menjaga nama baik Arema dan Aremania. Misi Aremania Jalur Gaza untuk mendirikan sebuah korwil tetap, agar selalu bisa selalu mendampingi tim kesayangan Arema Indonesia. Aremania itu tidak kemana mana namun ada dimana mana, Kita tetap satu untuk Arema Indonesia. Salam satu Jiwa
Bertempat di Rumah makan lesehan beran karang jati pandaan,tepat tanggal 28 November 2010 AREMANIA-AREMANITA wilayah pandaan,tretes,pacet,pasuruan,trawas dan sekitarnya resmi mendirikan korwil aremania yang diberi nama korwil JALUR GAZA.Nama jalur gaza ini terinspirasi oleh daerah Negara palestina yang selalu tegang keadaannya.
Menurut ketua korwil jalur gaza sam deni korwil ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1994,yang waktu itu sama almarhum sam surtato didorong untuk deklarasi tapi keadaan waktu itu tidak memungkinkan karena daerah pandaan dan sekitarnya banyak supporter yang tidak suka dengan arema.Memang jalur gaza yang selama ini kita kenal indentik dengan sam AMIN sukorejo yang sebenarnya memakai nama arema militan.
Terlepas itu semua kata sam deni tidak jadi masalah karena tujuanya sama yaitu mendukung team AREMA SINGO EDAN.Sam deni berharap dengan adanya deklarasi ini nantinya korwil jalur gaza bisa diperhatikan untuk pendistribusian tiket pertandingan agar tidak kesulitan lagi untuk mendapatkan tiket yang selama ini daerah pandaan mendapatkan tiket dari sukorejo serta dari korwil dimalang.Pernah kejadiaan ketika mau menonton arema kurang lebih 20 orang dari pandaan berangkat ke stadion dan setelah sampai stadion tidak mendapatkan tiket padahal kalau menonton arema korwil jalur gaza berangkat dengan was-was sebab mereka harus siap-siap untuk dilempari oleh oknum bonek di daerah tsb,terlebih yang berangkat dari pacet,trawas mesti diganggu oleh oknum suporter bonek.
Kenapa mereka memilih arema padahal secara geografis daerah pandaan lebih dekat dengan pasuruan dan Surabaya,sam deni bilang karena senang,kreatif dan sikap setia kawan anak-anak arema dimanapun berada dan tidak anarki.ada seorang suporter anggota korwil jalur gaza yang dari pasuruan bilang pernah menonton pertandingan persekabpas yang waktu itu persekabpas sudah unggul tapi suporternya tetap aja berbuat anarki.makanya dia memilih menjadi suporter arema meskipun domisilinyadi pasuruan.
Deklarasi jalur gaza tidak diadakan seperti deklarasi di malang yang menggunakan panggung terbuka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.menurut sam andri sebagai humas jalur gaza pihak keamanan dari polsek,koramil,kecamatan mendukung acara deklarasi ini.deklarasi jalur gaza di hadiri oleh ,perwakilan korwil-korwil se malang raya serta dari management arema.
Anggota korwil jalur gaza kurang lebih 100 anggota yang be-kta dan diharapkan korwil jalur gaza ini kompak dan bersatu antara pandaan,trawas,pacet,pasuruan dan tretes kedepan korwil ini berharap tidak ada lagi gontok-gontokan antar supporter.ditambahkan juga oleh mbak ida sebagai sekertaris korwil jalur gaza mempunyai kegiatan rutin di samping nonton arema ada arisan keliling tiap 2 minggu sekali untuk mempererat silahturahmi antar anggota.

source : junedoyisam.wordpress.com/2012/12/26/mengenal-aremania-jalur-gaza-love-in-brotherhood/

Read more


Profil Yuli Sumpil: Sang Dirigen Aremania

Yuli Sumpil: Sang Dirigen Aremania

YULI Sugianto atau Yuli Sumpil. Demikian lajang kelahiran 14 Juli 1976 ini biasa dipanggil rekan-rekannya sesama Aremania, pendukung fanatik Arema Indonesia. Sumpil menunjukkan kampung tempat ia tinggal, yakni di Jalan Sumpil Gang I, RT 3/RW 4 Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur.
Pemuda nyentrik dengan anting-anting di kedua kupingnya, topi yang tak lepas dari kepala, dan mengenakan kaus Aremania itulah ciri khasnya. Ia selalu semangat dalam membela klub berjuluk ‘Singo Edan’ itu.
Yuli mengawali kiprah sebagai Aremania sudah cukup lama, sejak kelas 5 SD. Ia selalu hadir di lapangan untuk mendukung klub kesayangannya waktu masih berkiprah di Galatama.
Yuli pun mengenang. Kendati tidak memiliki uang untuk membeli tiket, ia tetap berusaha menonton pertandingan secara langsung di Stadion Gajayana Kota Malang . Caranya, dengan ikut penonton dewasa yang bertiket agar bisa masuk di stadion. Menonton pertandingan sepak bola seperti itu dilakoninya hingga SMP.
Ketika usianya beranjak remaja, Yuli semakin berani dan bersemangat. Ia sering nekat meloncat truk agar sampai di kota tujuan tempat Arema berlaga. Dari sinilah, bersama kawan-kawannya yang nekat, kemudian muncul istilah ‘bondo nekat’ (bonek).
Laki-laki muda itu sudah menjadi suporter fanatik klub sepakbola Arema (Arek Malang). Yuli Sugianto adalah salah satu suporter paling populer di kalangan Aremania, sebutan bagi suporter Arema. Bersama suporter Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya) yang disebut Bonek (bondho nekat/ modal nekat), Aremania terkenal sebagai suporter paling fanatik dalam sejarah sepakbola Indonesia.
Yuli berkisah sudah sejak anak-anak ia selalu berusaha melakukan apa saja demi menonton pertandingan Arema. Semasa duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) misalnya, jika tak ingin terlambat datang ke stadion, ia harus membolos sekolah sore. Dan jika pertandingan berlangsung di luar kota, itu berarti ia harus siap sejak pagi, bersiap menunggu di pinggir jalan raya, dan siap melompat ke dalam bak truk atau mobil angkutan barang lain untuk menuju kota tujuan.
Sekarang Yuli adalah dirigen Aremania. Seorang dirigen, layaknya seorang konduktor dalam pertunjukan orkestra, adalah orang yang memimpin para suporter untuk menyanyi dan menari dalam sebuah pertandingan sepakbola. Seorang dirigen menentukan lagu mana yang harus dinyanyikan dan gerakan tubuh macam apa yang mesti dilakukan. Aremania punya dua dirigen. Selain Yuli juga ada Yosep, yang biasa dipanggil Kepet.
Di kalangan Aremania, dirigen dipilih dengan cara yang tidak terlalu rumit. Tidak ada pemungutan sura yang berlangsung dengan ketat. Seseorang dipilih menjadi dirigen karena penampilan fisiknya yang menarik (ceria, nyentrik, dll.), kemampuannya berkomunikasi dengan suporter lain, dan kemampuannya membangkitkan semangat suporter untuk terus memotivasi tim yang didukungnya. Oleh sejumlah suporter seorang dirigen ditunjuk dengan cara yang sulit dijelaskan, hampir kebetulan saja, sebelum sebuah pertandingan sepakbola dimainkan. Tetapi begitu seorang dirigen terpilih, jabatan itu akan disandangnya terus, tanpa batas waktu yang jelas, sampai ia mengundurkan diri atau kehilangan kemampuan untuk memimpin. Begitulah, tujuh tahun lalu dan Kepet terpilih begitu saja sebagai dirigen Aremania. Dan hanya kepada mereka berdualah 30 ribuan Aremania mau tunduk. “Mungkin saya dipilih karena berambut gondrong dan suka menari sambil memanjat pagar pembatas lapangan. Kalau Kepet mungkin karena ia punya banyak teman. Ia kan tinggal dekat stadion,” kata Yuli.
Di Stadion Gajayana Malang, markas Arema, Yuli dan Kepet mesti berbagi wilayah kekuasaan. Wilayah kekuasaan Yuli adalah tribun bagian timur, tepat di bawah papan skor. Wilayah Kepet adalah tribun bagian selatan. Sementara tribun VIP dibiarkan tanpa dirigen.
Pertandingan sepakbola biasanya dimulai jam 4 sore, tetapi para suporter sudah memadati stadion sejak 2 jam sebelumnya. Mereka memainkan genderang, terompet, menyanyi, menari dan menyulut kembang api dan petasan. Sebelum dirigen datang, atraksi-atraksi ini berlangsung sporadis, dalam kelompok-kelompok kecil, dan tidak kompak. Tetapi begitu mereka melihat kedatangan Yuli dan Kepet, secara otomatis semuanya akan bertepuk tangan dan bertempik-sorak seperti menyambut kedatangan presiden mereka. Yuli dan Kepet tersenyum, dan begitu mereka melambaikan tangan, ribuan suporter ini menjadi lebih tenang. Semua musik, lagu, dan tarian dihentikan. Yuli dan Kepet akan segera menaiki singgasana mereka, yaitu pagar besi pembatas lapangan setinggi 2 meter. Mereka mulai menjalankan tugasnya; sambil berdiri di atas pagar menghadap ke tribun penonton mereka menggerakkan tangan dan kaki, memiringkan dan memutar tubuhnya ke kiri, kanan, depan, dan belakang sebagai alat untuk memberi aba-aba. Ribuan penonton menjadi kompak dan memainkan musik, menyanyi, dan menari. Semuanya mengikuti aba-aba dan contoh gerakan yang dilakukan Yuli dan Kepet.
Sepuluh menit sebelum pertandingan dimulai, Yuli dan Kepet memberi aba-aba berhenti. Kalau mereka sudah menaikkan tangan kanan ke atas, itu artinya tarian akan berhenti dan para suporter akan segera menyanyikan lagu Padamu Negeri.[1] Para pemain memasuki lapangan, wasit meniup peluit, pertandingan segera dimulai, tarian dan lagu dimainkan kembali. Karena atraksi-atraksinya yang menarik, Arema pernah memenangi penghargaan suporter terbaik dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).
Satu-satunya kelompok suporter besar yang tetap tinggal “liar” adalah Aremania. Klub dan Pemda tidak memberi bantuan dana atau berkeinginan membuat organisasi formal untuk suporter. Para suporter tetap membuat kelompoknya sendiri dengan keinginan mereka sendiri, kelompok-kelompok ini mereka sebut dengan Korwil (Koordinator Wiyalah). Di Malang sekarang ini sekurang-kurangnya ada 125 Korwil Aremania. Tiap Korwil punya seorang ketua yang hanya bertugas mengumpulkan suporter di wilayahnya menjelang Arema bertanding. “Tidak perlu organisasi-organisasian. Kalau ada organisasi itu repot, nanti malah diatur-atur, disuruh begini, disuruh begitu, bayar ini, bayar itu. Apalagi kalau sampai dikait-kaitkan sama partai politik segala,” kata Ponidi—dikenal sebagai Tembel—Ketua Korwil Stasiun. Meski tiap Korwil punya ciri khas sendiri, yang ditandai dengan bendera, spanduk, seragam, dan dandanannya, komando di stadion tetap ada di tangan dirigen. Hanya Yuli dan Kepet yang mampu mengatur dan menenangkan merea. “Pengurus klub atau walikota sekalipun tidak akan bisa ada artinya bagi suporter. Dia tak akan mampu mengatur 30 ribu orang. Tapi begitu Yuli atau Kepet yang ngomong, ya semuanya manut,” jelas Tembel.
Yuli adalah pemuda dari keluarga miskin yang tinggal di sebuah kampung di bagian timur Malang. Sebelum menjadi dirigen Aremania, sejak lulus dari sebuah Madarasah Aliyah, Yuli bekerja sebagai pencuci mikrolet—angkutan umum dalam kota. Ia biasa bekerja dari jam 4 sore hingga jam 12 malam, dari pekerjaannya, dalam sehari Yuli bisa memeroleh 10 ribu hingga 15 ribu rupiah.
Sejak menjadi dirigen, Yuli praktis berhenti bekerja. Menurutnya pilihan ini adalah saran orangtuanya yang tak tahan melihat Yuli menghabiskan hampir semua waktunya untuk mengurusi sepakbola, sepakbola, dan sepakbola. Ia kini menggantungkan hidupnya pada orangtuanya. Bapaknya, Asip, bekerja sebagai tukang kayu panggilan. Semenntara ibunya, Juwariyah, mendapatkan uang dengan menjual makanan rumahan bikinannya ke warung-warung di sekitar kampungnya. Yuli mengatakan setiap hari mendapat uang saku antara 500 hingga 2000 rupiah dari bapak atau ibunya. “Yul, ini ada sedikit uang untuk beli rokok,” kata Yuli menirukan ibunya.
Dalam kiprahnya sebagai seorang dirigen, sempat membuat seorang insan perfilman untuk mengangkatnya dalam sebuah film, yaitu  The Conductors, film dokumenter karya Andi Bachtiar Yusuf.
The Conductors berusaha untuk mengungkap sisi lain dari Addie MS (Twilite Orchestra), AG Sudibyo (Paduan Suara Mahasiswa UI) dan Yuli “Sumpil” (Aremania), menampilkan kiat dan semangat dari anak manusia yang sangat mencintai profesinya tersebut. Film yang telah diputar pada ajang Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2007 lalu tersebut merupakan karya dokumenter kedua pria yang lebih akrab dipanggil “Ucup” setelah The Jak (2007). Dan setelah premiere di Jakarta, akan diputar di Bandung, Malang, Semarang, Yogyakarta, Jember, Purwokerto, Pusan (Korea Selatan).
“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,”
Jika Liga sedang berjalan—yang berarti setiap minggu hampir selalu saja ada pertandingan sepakbola—Yuli harus menyisihkan sedikit jatah uang rokoknya agar bisa membeli tikat dan masuk stadion. Tetapi kalau kondisi keuangan keluarganya yang benar-benar sulit, Yuli kadang terpaksa menjual asesoris-asesoris suporternya untuk bisa membeli tiket. Tak jarang ia harus merelakan kaus atau syal kesayangannya dengan harga 10 hingga 20 ribu rupiah. “Sebenarnya sedih juga, karena barang-barang itu punya nilai sejarah bagi saya. Tapi saya akan lebih sedih lagi kalau tidak bisa masuk ke stadion dan menjadi dirigen bagi teman-teman,” katanya. Kadang-kadang Yuli juga membantu menjual tiket pertandingan. Beberapa hari sebelum pertandingan Yuli akan mengambil tiket di Mess Arema. Untuk tiap tiket seharga 10 ribu rupiah bisa dijualnya ia mendapat bagian 10 persen atau seribu rupiah. Agar bisa nonton pertandingan sekurang-kurangnya Yuli harus bisa menjual 10 tiket.
Seperti kebanyakan pemuda kota yang tinggal di kampung padat dan miskin, Yuli gemar sepakbola dan sering terlibat tawuran (perkelahian massal) antarkampung. “Buat saya dulu tawuran adalah bagian dari sepakbola. Sepakbola nggak ada tawuran seperti sepakbola banci,” kata Yuli. Ia kemudian bercerita, beberapa tahun lalu—sebelum menjadi dirigen—bersama 30 temannya ia datang ke Jakarta untuk melihat Arema bertanding. Ia berangkat dari rumah dengan sudah menyiapkan sebilah pedang. “Waktu itu, ini perlengkapan standar,” katanya. Di Jakarta ia terlibat bentrokan dengan kelompok Bonek di depan Stasiun Pasar Senen. Mula-mula hanya saling melempar batu, tapi kemudian menjadi saling kejar, memukul dengan potongan kayu atau besi, bahkan hingga sabetan pedang. “Yang saya ingat, keesokan harinya saya baca di koran ternyata ada 3 orang Bonek yang mati. Sementara kami semua selamat,” katanya.
Yuli kini ingin melupakan masa lalunya. Di ruang tamu rumahnya yang sempit, ia memasang fotonya ketika bersalaman dengan Ketua PSSI Agum Gumelar. Di foto itu, Yuli—berambut gondrong dan berkaus Arema warna biru—tampak tersenyum bangga. Katanya, “Saya diundang di acara pembukaan Liga Indonesia dan dikirimi tiket pesawat untuk hadir mewakili suporter”.
Karena tak bekerja, sehari-hari Yuli menghabiskan waktunya dengan nongkrong sja. Saya ingat waktu bertemu dengannya pertama kali tiga tahun lalu, ia tengah nongkrong di Salon Cimenk yang terletak beberapa ratus meter saja dari rumahnya. Didik, pemilik salon ini, adalah teman Yuli sesama Aremania.  Untuk urusan dandanan Yuli mengaku memang sering dibantu Didik. Sekali mencat rambut ia cuma akan membayar 10 atau 20 ribu. Tapi Yuli lebih sering tak membayar, karena ia memang jarang punya cukup uang. Suatu ketika karena merasa sungkan dan terlalu sering tidak membayar, sebelum berangkat ke stadion Yuli pernah mencat saja rambut gondrongnya dengan cat kayu, warna biru. Jelasnya, “Agar mudah membersihkannya, saya lumuri dulu rambut saya dengan minyak goreng, setelah itu baru saya cat. Saya ingin selalu bisa menarik perhatian di lapangan.”[ad#kumpulblogger]
Yuli punya cukup banyak koleksi asesoris Aremania.  Yuli punya macam-macam kaus Arema, dari kaus seperti yang dipakai para pemain—warna biru putih—sampai kaus-kaus bergambar kepala singa, lambang Arema, yang memang punya julukan sebagai tim Singo Edan (singa gila). Kebanyakan kaus macam ini bertuliskan “Kera Ngalam” atau “Ongis Nade”. Keduanya adalah bahasa slang Malang yang berarti “Arek Malang” dan “Singo Edan”.
“Saya biasanya pakai kaus Arema, tapi bawahannya bisa ganti-ganti, yang penting warna dan modelnya menyolok mata. Seorang teman suporter pernah memberi saya pakaian Skotlandia,” kata Yuli . Sebentar kemudian ia mengeluarkan lagi beberapa pakaian, dari yang berbahan kulit sintetis hingga kain sarung dan kain perca. Hampir semua pakaian ini dirancang sendiri oleh Yuli. Biasanya ia mendapat ide model-model pakaian baru setelah menonton pertandingan sepakbola Liga Italia atau Inggris di televisi.
Saya membuka-buka koleksi foto Yuli. Ia memberikan penjelasan detil untuk tiap foto yang saya lihat. Ketika saya sampai pada sebuh foto yang memerlihatkan sepasang lelaki dan perempuan berbaju pengantin, sementara di sekelilingnya adalah laki-laki dan perempuan yang semuanya berkaos biru Arema, Yuli menjelaskan bahwa itu adalah acara pernikahan seorang Aremania. Ia malah menceritakan tentang seorang Aremania lain yang naik haji ke Mekkah dengan membawa syal dan bendera Arema.
Yuli Sumpil, atraksimu dan kiprahmu sebagai dirigen bagi Aremania kala Arema bertanding akan selalu dinanti. Dirimu sebagai dirigen bagai seorang conductor dalam orkestra Aremania, orkestra yang menampilkan nyanyian, atraksi dan tarian Aremania.
Yuli Sumpil, dari sekian nyanyian seluruh Aremania yang kau pimpin selama ini, kami masih sering mendengar nyanyian yang bernada Rasis. Kami juga berharap dengan kepemimpinanmu di atas tribun akan bisa membawa nyanyian yang lebih sering hanya untuk mendukung skuad Arema yang sedang berjuang, dan tidak lebih sering menyanyikan tentang tetangga sebelah, biarlah mereka tetap J*****k, karena biar kita tidak menyebut mereka J*****k, mereka tetap J*****k juga. Oyi kan?
Biodata:
Nama lengkap : Yuli Sugianto
Nama lapangan: Yuli Sumpil
Tempat, tanggal lahir: Malang, 14 Juli 1976
Pendidikan: MA (SMA) Al-Amin Blimbing, Kota Malang
Ayah: Asip
Ibu: Djuariyah
Saudara: Anak ketujuh dari sembilan bersaudara
Keterlibatan di sepak bola:
- Menjadi suporter sejak kelas 5 SD
- Menjadi Dirijen Aremania sejak 1998-1999
Penghargaan :
- Terbaik film dokumenter The Conductors
- Mengantarkan Aremania menjadi The Best Supporter Piala Indonesia 2006
Sumber : mediaindonesia.com, aremastore.com

Read more

FOLLOWER

Sample Text

MENUNGGU KESUKSESAN ADALAH TINDAKAN BODOH YANG SIA - SIA

INFO Bermanfaat

--------AREMANIA UNEJ----------

--------AREMANIA UNEJ----------

Entri Populer

Translate

Web hosting for webmasters