Wearemania.net - Arema Noise yang identik dengan kebisingan ternyata mampu membuat kebisingan menjadi sebuah alunan musik yang enak didengar
Dalam suatu pertandingan sepak bola sebuah klub takkan lepas dari suporter yang selalu setia mendukung timnya ketika bertanding, dengan segala kreatifitasnya Aremania selalu menyanyikan lagu lagu yang disertai dengan alunan genderang musik untuk memberikan suntikan spirit bagi pemain pemain Arema Indonesia.
Setiap kali kita melihat pertandingan Arema Indonesia baik langsung distadion maupun ketika ditayangkan di televisi pasti kita sering mendengar nyanyian - nyanyian yang sering dinyanyikan para supporter Aremania untuk memberikan suntikan spirit bagi pemain Arema Indonesia.
Nyanyian yang sering dinyanyikan oleh Aremania sangat kompak apalagi diiringi dengan gerakan gerakan yang atraktif serta hentakan sner dan bass drum layaknya 1 kompi prajurit yang mau berperang sehingga sebagian dari kita yang mendengar dan melihat bisa terhipnotis oleh semua itu.
Alunan serta hentakan sner dan bass drum yang berirama mengikuti komando dari sang dirijen bisa memberikan semangat tersendiri bagi suporter dan pemain yang bertanding, seperti yang dilakukan salah satu suporter Aremania yang menamakan dirinya Arema Noise.
Arema Noise pertama kali berdiri pada 8 Januari 2009 dan terbentuk dari sekumpulan pecinta musik rock yang ingin memberikan support terhadap tim kesayangannya Arema Indonesia melalui musik ketika bertanding. Nama Arema Noise sendiri identik dengan kebisingan namun kebisingan itu oleh Arema Noise mampu dibuat alunan musik yang enak didengar.
Ketika mendukung timnya Arema Indonesia bertanding di stadion Kanjuruhan Arema Noise selalu menempati tribun papan score dan berdampingan dengan Aremania 87 untuk memberikan irama ketika para suporter Aremania memulai menyayikan lagu lagu yang bisa memberikan support para pemain.
Dengan segala kreatifitas yang ditunjukkan oleh para suporter Aremania seperti Arema Noise tetap selalu ada dan loyalitas tanpa batas untuk selalu mendukung Arema Indonesia. Salam Satu Jiwa, Arema Indonesia!!! (fiky)
Memang benar Arema tidak kemana-mana tapi ada di mana-mana termasuk aremania yang berada di kota hujan bogor. Aremania Bogor Berkarakter begitulah mereka manamakan diri, mulai resmi tebentuk tanggal 26 Mei 2010 yang ditandai dengan tour Batavia waktu arema juara liga Indonesia 30 mei 2010.
Aremania bogor merupakan kumpulan anak-anak malang yang bekerja di bogor yang senang dengan sepak bola jumlah terdaftar sampai saat ini kurang lebih 50 orang yang berasal dari Tumpang, Celaket, Poncokusumo, Bululawang dan tempat lain. Ada juga anak-anak dari bogor sendiri selain juga luar Malang seperti Jember, Blitar Padang dan Purbalingga, mereka ikut dalam wadah Aremania Bogor karena mereka senang melihat kekompakan arek malang dalam berteman dan sportif.
Kegiatan yang rutin diadakan adalah pertemuan bulanan, tabungan untuk mudik, futsal dan ada acara khusus seperti tour, sahur on the road waktu bulan puasa. Sampai saat ini stuktur kepengurusanya belum ada karena mereka dalam paguyubpan ini punya motto satu rasa satu kata sehingga diharapkan nantinya kalau ada acaraacara yang diadakan aremania bogor ini tidak saling melempar tanggung jawab semua dikerjakan bersama-sama.
Untuk sementara base camp aremania bogor di rumah Mas Bram yang berasal dari blitar di Cluster Cimanggu Hijau, kadang juga berkumpul di Sam Rudi di Patiasri juga kadang di rumah bakso Tahes di jalan Pajajaran Bogor.
Waktu piala AFF kemarin aremania bogor selalu aktif menonton untuk memberikan suport kepada timnas karena disitu ada pemain arema, ada juga cerita kurang mengenakkan waktu aremania tour Batavia tanggal 9 januari 2011 rombongan aremania bogor waktu pulang angkutan umum yang ditumpangi di rusak oleh anak bogor yang mendukung persib bandung atau Viking.
Harapan Aremania bogor kepada tim arema semoga tetap eksis di liga Indonesia, kalau saat ini arema ikut LPI ya rugi karena saat ini LPI belum jelas juaranya akan mewakili Indonesia ke mana dan LPI tidak ada tim yang degradasi. Dan harapan terhadap aremania mari kita dukung tim arema dengan sportifitas yang tinggi tanpa anarki. Di kesempatan itu juga Tabloid Singo Edan juga dikenalkan dengan aremania bogor ada sam Idur, Arief, Okim, Ical, Bram dan masih banyak lagi yang ikut nimbrung di rumah sam Bram.
Selamat buat aremania Bogor teruslah berkreasi untuk mendukung tim AREMA SALAM SATU JIWA. ( Hans )
Dulu, stadion Inggris sama saja seperti stadion manapun. Menurut FIFA, harus ada pagar pembatas. Apalagi kalau mau dipakai buat hajatan besar dan resmi. Tapi Inggris kepentok masalah di tahun 1985.
Gara-garanya suporter Liverpool bikin rusuh di Belgia sewaktu final Liga Champions lawan Juventus. Soal ini bisa baca Tragedi Heysel.
Kalian pasti sudah tahu dengan kerusuhan yang dilakukan supporter Liverpool di Belgia sewaktu final Liga Champions lawan Juventus. Kerusuhan yang terjadi 29 Mei 1985 yang kemudian dikenal dengan Tragedi Heysel ini memakan korban jiwa 39 orang. Tragedi tersebut berdampak besar bagi sepakbola Eropa.
Ada kesalahan tentu ada sanksi. Soal kerusuhan, Eropa paling tegas. UEFA akhirnya melarang Liverpool main di Eropa selama 5 tahun. Eh uniknya, FA Inggris malah ikut nambahi hukuman. Bukan cuma Liverpool, tapi semua klub Inggris nggak boleh main di luar Inggris selama 5 tahun! Yang saya salut, nggak ada protes.
“Lho Liverpool yang salah, kok gue kena getahnya?” Semua pasrah. Ulah fans Liverpool (yang mabuk berat dan berkategori hooligans) benar-benar menampar muka sepakbola Inggris. Mereka sepakat introspeksi.
Hukuman FA nggak berhenti di situ. Ada banyak perubahan parameter keamanan lainnya.
Yang paling mencolok adalah menghilangkan pagar pembatas tribun penonton dan lapangan serta nggak boleh lagi ada tribun kelas berdiri (tanpa kursi) di seantero negeri. Di Eropa, setahu saya cuma Inggris Raya yang nggak menjual tiket tanpa kursi. Ini paling sering diprotes banyak blogger bola dari Inggris. Jelas banyak yang sewot karena tiket berdiri harganya murah meriah. Mirip tiket kereta ekonomi Perumka yang nggak ada nomor bangkunya itu.
Tapi buat FA, kelas suporter berdiri justru pusatnya biang kerok. Jadi, sekarang ini semua stadion di Inggris tanpa pagar dan tidak menjual tiket bernomor kursi.
FA sempat dicap gila oleh publik. Ada pagar saja rusuh, apalagi ompong melompong?
Tapi FA memang organisasi berpengalaman. Ide mereka ternyata berhasil. Penghilangan pagar pembatas justru membuat dewasa suporter Inggris. FA juga bikin aturan buat mencatat identitas penonton yang masuk stadion. Sekali bikin rusuh, si suporter bakal di-bannedmasuk stadion di seluruh Inggris. Bahkan biasanya juga dikirim tembusan ke Eropa. Di dalam stadion juga nggak boleh terlihat pasukan polisi alias harus menyamar. Indikator sebuah pertandingan tertentu aman atau enggak, juga bisa dilihat dari jumlah aparat keamanan di stadion. Contoh nyata ada di sepakbola kita.
Balik ke soal stadion. Pasti nggak mungkin sepakbola Inggris adem ayem saja. Sebelum insiden itu, juga ada beberapa tawuran suporter. Dulu ada kasus “tendangan kung fu” Eric Cantona kepada suporter Crystal Palace di pinggir lapangan. Cuma, insiden kekerasan di sana bukan lagi kebiasaan atau tradisi. Suporter Inggris yang dulu sering bikin orang resah, sekarang justru relatif lebih santun. Bandingkan dengan tarkam Liga Indonesia.
Saya kadang berpikir, jika Inggris sukses dengan cara itu, apakah bola Indonesia juga bisa? Ayas cuman menjawab, mugo mugo ae iso.
Salam Saoe Jiwa
source : http://junedoyisam.wordpress.com/2012/03/24/stadion-di-inggris-tanpa-pagar-koq-iso-ya/
Tak jauh dari tempat kami, ada depot bakso Arema. Sayang, di kota yang notabene sebagai ibu kota sebuah propinsi ini, hanya ada 4 TV swasta yang membangun stasiun pembantu/pemancar. ANTV sebagai satu-satunya stasiun TV yang menayangkan ISL tidak ada di kota ini. Kecuali bagi mereka yang mempunyai parabola.
Sudah menjadi hal umum bahwa sebagai arek-arek Malang, kami juga Aremania. Kaos, syal, sticker AREMA pasti masing-masing dari kami memiliki. Kecintaanku pada AREMA, kuwujudkan dengan selalu memakai kaos AREMA kemanapun kupergi di kota ini kecuali pada saat jam kerja. Tapi sayang, karena tidak punya parabola, kami kesulitan nonton bareng saat pertandingan Arema di tayangkan langsung oleh ANTV. Sehingga sering kali kami hanya bisa update score dari media online.
Pernah sekali waktu saat Arema sedang bertanding, aku dan Nugroho sok akrab mendatangi depot bakso Arema, bermaksud dapat melihat pertandingan, ternyata kami malah mendengar keluhan ( di ndi ki ker osi tail AREMA neam ?) kata mereka. Semangkuk Bakso telah habis dan kami pun pulang ke kost dengan wajah murung dan kecewa karena tak dapat menyaksikan pertandingan AREMA. Kami baru bisa nonton bareng saat di kantor kedatangan tamu dari cabang Surabaya. Kamar hotel tempat tamu menginap menjadi ajang nonton bareng. Kami sangat tertolong karena tamu kantor biasanya bisa tinggal lebih dari sebulan. Sam Dimas Yudo Bramantyo mantan drummer Arema Voice juga pernah ikut nonton bareng saat Dia bertugas sementara di BII kota Kupang.
Suatu hari, aku, Nugroho dan Hadi sedang duduk-duduk di plataran Flobamora Mall. Satu-satunya Mal yang ada di NTT. Tiba-tiba aku melihat seseorang memakai kaos putih bergambar besar Logo AREMA. Tanpa sungkan-sungkan aku pun menyapa dia. Melihat aku juga memakai kaos AREMA, dia pun menyambut dengan senyuman. Saat itu kami langsung akrab. Dia adalah Eko anak Batu dan Catur anak banyuwangi yang sama sama terdampar di kota Kupang (Eko sekarang jadi salah satu dedengkot AREMANIA KUPANG). Sejak saat itu kami tak bingung lagi menonton pertandingan AREMA. karena bisa menonton kapanpun AREMA bertanding di tempat Eko. Aku lantas berfikir bahwa sebenarnya banyak orang Malang yang tinggal di Kupang. Timbulah sebuah ide untuk membuat sebuah acara untuk mengumpulkan orang-orang Malang di Kupang. Ide ku disambut dengan hangat oleh Nugroho, Bashori dan Eko lewat sebuah obrolan yang berakhir dengan rencana serius mengadakan sebuah acara.
Dengan nada optimis dan ciri khas SPIRIT AREMA kami pun mulai membuat stiker dan undangan. Teman-teman yang lain mulai promo on air di radio-radio lokal kota Kupang dengan judul TEMU KANGEN WARGA MALANG RAYA. Semula acara akan di adakan tepat dengan hari ulang tahun arema 11 Agustus 2008 yang akhirnya mundur jadi tanggal 13 Agustus 2008. Tepat pada tanggal 13 Agustus 2009 acara terlaksana dengan memuaskan. 37 orang Malang hadir dalam acara itu. Setelah pertemuan itu, setiap dari kami melihat orang memakai kaos Arema, tanpa sungkan kami akan mengejar dan meminta nomer HP untuk di hubungi saat akan ada pertemuan. Tiap ada informasi tempat orang Malang berada, kamipun langsung menuju sasaran dengan jurus sok kenal sok dekat. Tak heran kalau kadang banyak orang yang takut dan salah paham ketika kami kejar. Kami pun sering juga salah sasaran. Sering kami kira orang Malang karena berbaju Arema, ternyata orang lokal yang nggak ngerti bahasa Jawa.
Beberapa dari kami, Nugroho, Bashori, Hadi dan Wiga ditarik kembali ke cabang Surabaya. Pendiri aremania Kupang tinggal aku dan Eko. Kegiatan-kegiatan bertema sosial, nonton bareng dengan layar lebar, nongkrong tiap malam minggu serta futsal setiap hari minggu rutin dilaksanakan sehingga nama Aremania Kupang semakin di kenal di kota Kupang. Anggota semakin banyak dan berasal dari berbagai macam kalangan. Penjual basho, pedagang, mekanik, karyawan, farmasi, wiraswasta, sales, polisi, tentara, dosen,pegawai negri bahkan kepala Koramil Kota Kupang yang membuat persaudaraan ini semakin solid walaupun jauh dari kampung halaman. Tercatat sudah lebih dari 200 orang Malang di Kota Kupang. Tak hanya orang Malang, namun ada juga orang Jogja, Palembang,Surabaya, Kendari, Mojokerto, Banyuwangi, serta Lamongan yang terdaftar sebagai anggota Aremania Kupang. Dan juara ISL 09/10 merupakan kado istimewa bagi ultah ke-1 Aremania Kupang tahun 2010 kemaren. Yang membuat kami semakin bangga selalu berbaju Arema di kota Kupang ini.
Aremania Kupang mulai dikenal lewat dunia maya. Lewat facebook, Agung Hartadi sebagai salah satu aktivis Aremania kupang bersama Arema Senayan bahkan sempat mengadakan halal bihalal Aremania perantauan. Sudah 2 edisi lebaran mereka adakan. tahun 2010 dan 2011 kemaren. Kedua edisi tersebut selalu bertempat di food court MOG. Untuk edisi 2011 kemaren di hadiri juga oleh sam Ade Dcross yang membagikan undangan HALAL BIHALAL AREMA SE INDONESIA (kongres arema). Ada juga Andre aka Brigandine lionheart yang merupakan salah satu admin di Aremania facebook yang juga pernah berada di Kupang. Beberapa dari kami (eko, andre dan aku) hadir di acara HALAL BIHALAL AREMA SEINDONESIA. Di dalam GOR Ken Arok, terlihat hanya kami yang memasang bendera pada saat kongres berlangsung. Dan bendera itupun langsung di serbu sebagai background foto oleh Aremania yang lain.
Aremania di Nusa Tenggara Timur bukan Cuma ada di Kota kupang, namun di pulau-pulau lain yang pernah aku datangi juga kujumpai Aremania. AREMA TIDAK KEMANA-MANA NAMUN ADA DI MANA-MANA. Dimanapun Aremania berada, pasti selalu merindukan AREMA dan Bhumi Arema. Tak peduli siapa, bagaimana pengurus dan pengelola AREMA, kami yakin AREMA akan selalu hidup dan menjadi Juara-juara lagi di kompetisi-kompetisi berikutnya. Auman Singo Edan akan selalu menebarkan SPIRIT AREMA'' dimanapun Arek Malang berada. Semoga catatan ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi di daerah lain yang belum ada korwil Arema namun berpotensi untuk mendirikanya. Terimakasih kepada Aremania aremania di Malang dan di kota-kota lain yang telah menjadi inspirasi bagi kami. Terimakasih juga kepada www.wearemania.net selalu menampilkan berita ter update yang membuat saya tidak pernah terlewat info-info tentang AREMA.Pergilah Dualisme-dualisme yang meracuni hati kita. terimalah semua dengan lapang dada. solidaritas bagaikan sapu lidi yang tak terurai.
SATUKAN HATI SATUKAN TEKAD DAN KOBARKAN SEMANGAT!!!! SALAM SATU JIWA (Spesial By RUDYCOOL AREMANIA)
FOTO KEGIATAN AREMANIA KUPANG
Wearemania.net -
16 Januari 2008, sore hari
mendung disertai hujan gerimis di kota Kediri menambah suasana magis di
hari pertandingan perdana Babak 8 Besar antara Arema vs Persiwa dimana
pada akhirnya terjadilah peristiwa besar yang kami kenal dengan "Tragedi
Brawijaya Obong". Sebuah tonggak awal untuk sebuah pergerakan
memperbaiki kualitas sepak bola negeri ini yang dikenal dengan Revolusi
PSSI.
Bagi
kami, peristiwa itu adalah patokan kilometer nol untuk memulai sebuah
pergerakan/revolusi yang kami mulai dari dalam diri kami sendiri dan
dari komunitas kami sendiri. Revolusi kebangkitan dari caci maki dan
degradasi moral pasca teracuni oleh puja-puji atas sebuah penghormatan
tertinggi.
16 Januari 2011, 3 hari pasca tragedi penyerangan
kereta api yang ditumpangi Aremania di Kediri setelah mendukung Arema
pada pertandingan melawan Persija. Tanggal dimana kami disibukkan untuk
mengumpulkan dokumentasi atas fakta yang terjadi di lapangan dan saat
itulah kami jadikan sebagai sebuah tonggak perlawanan kami atas sebuah
tindakan anarki yang melekat dalam dunia suporter bola negeri ini,
berikut dengan bumbu segala macam provokasi penebar benci. Maka
dimulailah revolusi mulai dari diri sendiri dan dari komunitas kami
sendiri untuk membangkitkan hingar-bingar kemeriahan dukungan Aremania
yang mulai menurun kualitasnya. Dan kami pun mulai memikirkan konsep
dukungan penuh kreativitas dan sportivitas yang sudah menjadi dasar
Aremania.
16 Januari 2012, sebuah tanggal di musim terberat Arema
dengan tajuk dualisme yang sudah menjadikan Arema sebagai komoditi
berita sepak bola negeri. Dualisme Arema yang menjadi simbol sebagai
gambaran adanya dualisme liga yang ada di negeri ini. Di tanggal ini,
sebuah harapan akan kami apungkan agar segala permasalahan yang terjadi
di tubuh Arema segera terselesaikan dengan cara arek-arek Malang, dengan
demokrasi ala Aremania. Meskipun kami tahu bahwa hukum dan keadilan,
legalitas dan legitimasi bisa kalian permainkan dan bisa dimiliki oleh
orang-orang yang punya harta, kedudukan, dan jabatan. Akan tetapi bagi
kami rakyat biasa yang disebut Aremania, yang kami punya hanya SATU
JIWA.
Jangan rampas satu jiwa yang menjadi kebanggaan kami,
kembalikan ke pada kami di tempat yang semestinya. Api yang membawa
simbol kerusuhan sudah kami ganti dengan api kobaran semangat untuk
selalu mendukung kebanggaan kami, jadi kami mohon kembalikan rasa-rasa
yang hilang karena tragedi ini, biarkan kami rasakan kembali rasa senang
ketika menang dan rasa susah ketika kalah. Jangan biarkan kami mati
rasa dan jangan TABUkan demokrasi kami!
-here we are-
AREMANIA KEDIRI
source : http://www.wearemania.net/aremania/korwil-aremania/1434-refleksi-16-januari
“Arema are more than just a football club. They are a way of life. They are the St. Pauli of Indonesia. A culture with in a culture. Satu Jiwa, one heart or one soul”
Sepenggal kalimat diatas ditulis oleh Anthony Sutton, seorang jurnalis ESPN setelah meliput pertandingan Persija Jakarta vs Arema Indonesia di Stadion Gelora Bung Karno pada Mei 2010. Membandingkan kota Malang dengan kota-kota lain yang ada di Indonesia, kota ini memiliki citarasa tersendiri bagi para penikmat sepakbola: tidak hanya permainan keras dan lugas, tetapi juga suguhan kreatifitas dari pendukungnya. Saat Arema bertanding, nuansa kota Malang berubah, seolah ada perayaan besar disana, sehingga dalam satu hari semua orang menggunakan atribut bernuansa biru-biru Arema. Walaupun laga baru dimulai pada sore hari, sejak pagi kesibukan akan persiapan menonton pertandingan Arema terlihat di berbagai sudut kota Malang.
Apabila anda berkeliling kota Malang pada pagi hari, anda akan melihat ada orang-orang yang memakai atribut biru khas Arema sedang mencari tiket, menjual tiket, mencari tumpangan, dan berbagai kegiatan lain yang berhubungan dengan pertandingan Arema di sore hari. Memasuki siang hari, nuansa biru Arema di kota Malang semakin terasa. Aremania mulai berdatangan dari berbagai penjuru kota Malang menuju Stadion Kanjuruhan yang terletak di sudut selatan Kabupaten Malang. Ada Aremania yang datang sendiri, ada yang bersama keluarga atau teman-teman, bahkan ada juga yang konvoi bersama sembari menabuh sner-drum dan bass-drum, sambil menyanyikan yel-yel dukungan terhadap Arema, dan mengibarkan bendera-bendera bergambar singa yang dibalut background warna biru-putih. Penulis masih ingat, kala Arema masih bertanding di Stadion Gajayana, untuk masuk ke dalam stadion haruslah sebelum jam dua siang, padahal pertandingan baru dimulai pukul empat sore. Bisa dipastikan sejak pukul dua siang stadion sudah hampir terisi penuh, sehingga agak sulit mencari tempat yang nyaman untuk menonton Arema.
Arema dan Aremania tidak hanya sekedar menjadi fanatisme terhadap klub sepakbola saja, tetapi juga terdapat identitas kebanggaan di dalamnya. Bagi orang Malang yang merantau, menyebut diri sebagaiarema atau arek Malang menjadi kebanggaan tersendiri. Kebanggaan menyebut diri sebagai arematidak hanya dialami oleh mereka yang menggemari sepakbola (khususnya suporter Arema Malang), tetapi juga dirasakan oleh mereka yang tidak suka sepakbola sekalipun. Uniknya, bagi mereka yang membuka usaha di berbagai bidang, juga menggunakan identitas arema sebagai identitas usahanya. Sehingga jangan heran apabila ada “Warung Makan Arema”, “Bakso Arema”, “Toko Mebel Arema”, “Kripik Singkong Arema”, dan lainnya.
Arema, Solusi Masalah Geng Pemuda
Sejak tahun 1970-an, geng-geng pemuda bermunculan di berbagai kota besar di Indonesia, tak terkecuali di Malang dan Surabaya. Kelompok geng pemuda di Jawa Timur terpusat pada dua kota yang selalu bersaing dalam segala hal: Malang dan Surabaya. Kera Ngalam tidak akan pernah mau mengalah dengan arek Suroboyo. Manifestasi dari persaingan ini diwujudkan dalam berbagai hal, terutama di bidang balapan, musik, dan tinju. Dalam pengakuannya, Lucky Acub Zaenal yang dulu dikenal sebagai atlet balap nasional mengaku tidak pernah mau kalah dari pembalap Surabaya. Begitu juga dalam bermusik, pernah suatu hari konser Slank di Stadion Tambaksari Surabaya berujung kerusuhan yang melibatkan arek Malang dengan arek Suroboyo. Setiap kali terdapat kerusuhan besar, baik di Malang maupun Surabaya, selalu saja melibatkan dua kelompok pemuda dari masing-masing kota.
Geng pemuda yang ada di Malang memiliki basis wilayah yang tersebar di berbagai sudut kota. Saat itu muncul nama-nama geng seperti Argom (Armada Gombal, asal Kidul Dalem), Fanhalen (Federasi Anak Nakal Halangan, asal Celaket), Saga (Sumbersari Anak Ganas, asal Sumbersari), Arpanja (Arek Panjaitan, asal Betek), dan lainnya. Arek-arek Malang ini tampil dengan mewakili asal wilayah dimana ia tinggal, sehingga loyalitas akan kelompok wilayah dan egoisme yang berbalut identitas wilayah masing-masing kerap menjadi pemicu tawuran antar kelompok pemuda di Malang. Area pertarungan pemuda pun menyebar di berbagai sudut kota Malang, beberapa yang tempat yang terkenal antara lain: Bioskop Jl. Kelud, Alun-alun Kota, Stadion Gajayana, dan Pujasera Pulosari.
Generasi muda di Malang saat itu kebanyakan pengangguran yang tidak memiliki penyaluran potensi dan energi berlebih. Banyak dari mereka hanya berkegiatan seperti mengamen, menjadi juru parkir, berdagang asongan, atau hanya sekedar cangkruk saja. Ketiadaan penyaluran energi serta keinginan untuk memperluas wilayah kekuasaan memicu pertarungan antar kelompok pemuda di Malang, serta pertarungan eksistensi & perebutan wilayah strategis seperti pada beberapa tempat yang sudah penulis sebut di atas. Kondisi inilah yang membuat Mayjend TNI (purn) H. Acub Zainal berkewajiban untuk mengelola dan mengembangkan potensi yang dimiliki arek Malang agar berproses ke arah yang positif dan mampu meningkatkan harkat dan martabat arek Malang.
Mayjend TNI (purn) H. Acub Zainal yang saat itu menjabat sebagai Danrem 084 Baladika Jaya Surabaya melihat sepakbola dapat menjadi solusi bagi masalah pemuda. Berbekal pengalaman beliau sebagai pengelola klub sepakbola NIAC Mitra dan pernah membina anak-anak muda Irian Jaya guna dikirim ke kompetisi sepakbola internasional di Bangkok, beliau menawarkan kepada putranya (Lucky Acub Zainal) untuk mendirikan klub sepakbola di Malang. Kebijakan PSSI pada tahun 1987 yang membuka keran pendirian klub sepakbola profesional untuk berlaga pada kompetisi Galatama (Liga Sepakbola Utama), serta animo masyarakat Malang yang cukup tinggi pada setiap pertandingan Persema menjadi alasan utama mengapa Arema didirikan. Selain itu, generasi muda arek Malang di mata H. Acub Zainal memiliki energi dan potensi yang cukup besar untuk dikembangkan, tetapi tidak memiliki wadah pemersatu, sehingga kerap terjadi tawuran antar geng pemuda di Malang.
Walaupun di Malang ada klub sepakbola Persema, tetapi klub ini tidak mampu mengakomodir potensi yang dimiliki arek Malang saat itu. Tetap saja pada beberapa pertandingan Persema di Stadion Gajayana terjadi kericuhan antar geng pemuda. Selain karena Persema adalah klub amatir yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Malang, prestasi klub ini tidak pernah menonjol dalam kancah persepakbolaan nasional. Oleh karenanya banyak orang Malang yang menempuh perjalanan 3 jam ke Surabaya untuk menonton pertandingan NIAC Mitra dalam kompetisi Galatama. Sementara Persebaya yang bermain dalam kompetisi Perserikatan tetap menjadi musuh abadi arek Malang, sehingga tiap pertandingan Persema melawan Persebaya di Stadion Gajayana selalu dipenuhi penonton dan tak jarang terjadi kericuhan di dalam stadion.
Tanggal 11 Agustus 1987 klub sepakbola Arema resmi didirikan dan dipersiapkan untuk mengarungi kompetisi Galatama VIII / 1988. Peran militer dalam pembentukan tim sangat kuat, selain sumbangsih fisik berupa penyediaan asrama bagi pemain beserta fasilitas latihan di Kompleks TNI AU Abdulrachman Saleh, pihak TNI juga berperan dalam pelatihan dan seleksi pemain yang dilakukan dengan cara-cara militer. Guna menarik animo penonton dalam mengenalkan Arema, diundanglah tim elit Hallelujah FC asal Korea Selatan yang saat itu terkenal di wilayah Asia. Pertandingan yang dimenangkan oleh tim tamu dengan skor telak 1-5 itu mampu menarik perhatian warga Malang. Animo masyarakat terhadap Arema semakin tinggi, dan terus meningkat pada dua laga ujicoba berikutnya melawan Merpati Airlines FC dan Persema.
Arema dipilih menjadi nama resmi klub karena merupakan singkatan dari kata Arek Malang. Sudah menjadi hal yang umum bahwa nama klub saat itu bisa membedakan mana tim yang profesional dan mana yang amatir. Klub-klub sepakbola profesional yang berlaga pada kompetisi Galatama kebanyakan tidak menyebut daerah asal mereka, seperti: Pelita Jaya, Arseto, NIAC Mitra, Arema, Warna Agung, Perkesa 78, dan lainnya. Lima huruf A-R-E-M-A dipilih dengan tujuan menjadi simbol identitas pemuda (arek) yang berasal dari Malang, dengan kata lain Arema menjadi manifestasi bersatunya arek-arek Malang yang berasal dari berbagai kelompok pemuda.
Mengatasi masalah geng pemuda di Malang tidak cukup hanya dengan mendirikan Arema, tetapi setidaknya sejak tahun 1987 arek-arek Malang sudah memiliki wadah untuk menyalurkan energi dan potensi yang dimiliki. Apa yang dilakukan H. Acub Zainal dengan mendirikan Arema mampu melokalisir potensi-potensi kericuhan oleh arek Malang yang semula tersebar di berbagai wilayah Jawa Timur menjadi terpusat di Stadion Gajayana. Pemerintah beserta perangkat keamanan turut meredam masalah geng pemuda di Malang dengan berbagai cara seperti memunculkan Peraturan Daerah tentang peredaran minuman keras dan mengembangkan kebijakan tata wilayah kota. Bioskop Kelud yang kerap menjadi lokasi tawuran antar pemuda pun ditutup, fasilitas penerangan disana diperbanyak, dan dibangun pos polisi untuk menjaga keamanan. Begitu juga dengan Alun-alun Kota yang juga kerap menjadi ajang tawuran pemuda, penerangan dan fasilitas pariwisata dibangun disana, tidak lupa pos polisi di 2 sudut areal alun-alun.
Sentralisasi kegiatan arek-arek Malang di Stadion Gajayana membuat pendukung Arema saat itu memiliki kesan brutal. Yuli Sugianto yang kini menjadi dirigen Aremania menceritakan bahwa dirinya selalu membawa pedang ke stadion untuk jaga-jaga apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, dia mengatakan bahwa perlengkapan senjata tajam adalah hal yang umum dibawa ke dalam stadion saat itu. Suasana seperti itu membuat toko-toko dan rumah-rumah di sekitar Stadion Gajayana memilih tutup apabila Arema bertanding, geng pemuda kerap tawuran untuk memperebutkan eksistensi di dalam stadion atau sekedar membalas perlakuan kelompok lain di masa lalu. Bahkan kota Malang menjadi kota mati pada saat Arema bertanding, image buruk penonton sepakbola Arema cukup meresahkan warga Malang dan menggentarkan mereka untuk keluar rumah, apalagi bergerak ke arah stadion Gajayana.
Arema yang dikenal sebagai tim jago kandang di Galatama membuat stadion Gajayana terkesan angker bagi tim tamu yang akan melawan Arema. Raihan hasil positif Arema ketika bermain di kandang menarik animo masyarakat untuk menonton Arema. Hal ini membuat Lucky Acub Zainal berinisiatif untuk membentuk Arema Fans Club (AFC), sebuah wadah suporter yang dikelola oleh klub sepakbola Arema. Kehadiran Arema Fans Club rupanya kurang mendapat respon positif dari pendukung Arema, hal ini berujung pada pembubaran Arema Fans Club pada tahun 1994. Beberapa alasan yang mengemuka dalam pembubaran Arema Fans Club adalah masalah eksklusifitas organisasi dan tidak ada regenerasi. Arema Fans Club selama berdiri lebih banyak menjalin komunikasi dengan elemen suporter lain di luar kota. Kondisi ini tidak disukai oleh beberapa kelompok geng pemuda yang saat itu banyak menjadi pendukung Arema. Lagipula pengaruh pihak keamanan (kepolisian dan tentara) dalam Arema Fans Club sangat kental, sehingga menambah sikap antipati arek-arek Malang terhadap Arema Fans Club. Beberapa kelompok geng pemuda yang semula saling bertikai berkumpul untuk membahas penolakan terhadap Arema Fans Club. Penolakan geng-geng pemuda terhadap Arema Fans Club muncul karena keinginan untuk tidak disetir oleh Yayasan PS Arema (klub), apalagi saat itu ada isu bahwa Arema Fans Club ini memiliki “bau” aranet (tentara) dan silup (polisi), musuh utama geng-geng pemuda.
Medio 1994 Aremania muncul, belum jelas siapa dan darimana inisiator nama Aremania. Kata “Aremania” berasal dari “Arema” dan “Mania”, sebuah frase simbol fanatisme pendukung Arema. Suporter Arema yang pada dasarnya memiliki basis geng-geng pemuda dari berbagai wilayah kota Malang bersatu dalam satu identitas “Aremania” dan salam “satu jiwa”. Sikap independen Aremania terwujud pada tidak adanya pemimpin di dalam tubuh Aremania, pimpinan tertinggi adalah musyawarah mufakat dari korwil-korwil Aremania yang ada di Malang. Pembubaran Arema Fans Club sebagai instrumen suporter berbasis pada korwil tidak serta merta menghilangkan dukungan terhadap Arema. Sistem korwil (koordinator wilayah) menjadi peninggalan dari Arema Fans Club pasca pembubarannya, walaupun struktural di atas korwil secara resmi dihapuskan.
Berbagai korwil Aremania hadir di stadion membawa bendera dan desain pakaian sendiri-sendiri, dengan menitikberatkan pada warna biru, gambar singa, dan pernak-pernik lain yang membedakan dengan kelompok lain. Di dalam stadion setiap korwil Aremania memiliki wilayah sendiri-sendiri, korwil yang beranggotakan banyak orang jelas memiliki wilayah terluas di tribun stadion, sementara korwil-korwil kecil pada akhirnya masuk menjadi bagian di korwil besar tersebut. Adu kreatifitas menjadi pertarungan utama bagi kelompok-kelompok arek Malang di dalam stadion. Semula mereka saling beradu dalam bentuk desain bendera dan pakaian, selanjutnya setelah Juan Rodriguez “Pacho” Rubio bermain di Arema, persaingan mereka melebar dalam bentuk nyanyian dan tarian. Setiap korwil selalu berusaha untuk menyajikan sesuatu yang baru dan diterima oleh khalayak ramai penonton Arema. Oleh karenanya mereka berusaha mencipta yel-yel baru dan tarian-tarian baru untuk mendukung kesebelasan Arema.
Apa yang dilakukan kera-kera Ngalam ini berbuah positif. Termotivasi oleh keinginan untuk membedakan diri dengan karakter arek Suroboyo yang bondho nekat, Aremania berusaha melepaskan diri dari image brutal dan anarkis yang dulu pernah melekat erat. Kreatifitas dalam mendukung Arema di dalam stadion serta sikap santun kala melakoni tour ke luar kota berbuah apresiasi dari Agum Gumelar berupa penyerahan gelar The Best Supporter untuk pertama kalinya di Indonesia kepada Aremania pada tahun 2000. Apresiasi lain juga muncul dari luar kota Malang, banyak komunitas suporter lahir di kota-kota lain seperti The Jakmania di Jakarta, Slemania di Sleman, dan Pasoepati di Solo yang terinspirasi oleh Aremania. Pada akhirnya, sesuai dengan harapan pendirinya bahwa Arema akan mampu menjadi penyalur potensi yang dimiliki arek Malang telah terwujud. Ada rasa bangga yang lebih dari sekedar mendukung klub sepakbola, yakni tentang identitas diri dalam lima huruf A-R-E-M-A. Oleh karenanya, jangan heran apabila kata “saya orang Malang” atau “saya anak Malang” jarang terucap dari perantau asal Malang, tapi “saya Arema!”.
source : http://junedoyisam.wordpress.com/2012/04/06/aremania-arti-sebuah-nama/
Diilhami dengan Jalur Gaza (yang sebenarnya) para nawak Aremania yang berdomisili di daerah Pandaan dan sekitarnya mendirikan suatu korwil Aremania tersendiri. Kenapa nama Jalur Gaza yang dipakai? Berikut penuturan dari admin FP Aremania Jalur Gaza Pandaan. Monggo disimak.
Salam satu jiwa Arema Indonesia. Puncak prestasi Arema bukanlah bertengger di posisi puncak klasemen liga ISL, namun Kemenangan yg diraih pada setiap laga pertandingan Arema Indonesia dan menjadikan itu JUARA. Faktor2 dilapangan tidak hanya taktik dan teknik dari pelatih, tetapi dukungan dan antusiasme dari supporter Arema yaitu Aremania.
Dimanapun Arema berlaga slalu ada Aremania yg mendukungnya, membuat para pemain bermotivasi ganda untuk menjalani setiap pertandingan.
Aremania yang tak pernah lelah mendukung tim kebanggan Arema Indonesia yg berlaga disetiap pertandingan. Tak terkecuali Aremania Jalur Gaza, sama dengan Aremania lain yang haus kreatifitas dan tak lelah memberikan dukungan terhadap tim pujaannya. Yang membedakan Aremania Jalur Gaza hanyalah letak geografi jalur gaza (Jalur Maut) dimana letak Jalur gaza (Jalur Maut) ini lepas dari Kabupaten Malang yaitu Pandaan, Tretes dan Trawas yg berdampingan dengan supporter lain seperti bonek, deltrasmania dan the lassak.
Walaupun jarak Pandaan ke Kepanjen cukup jauh, namun motivasi kami makin bertambah karena dukungan kami hanya untuk Arema Indonesia. Tak jarang setiap pulang dari mendukung tim kebanggan, kami sering mendapat sedikit gangguan dari oknum2 suporter lain. Luka2 akibat lemparan batu, kawan kami yg jadi bulan2an oknum tersebut. Namun dari itu semua kami tak kan pernah takut dan tak pernah luntur semangat untuk mendukung tim Kebanggaan Arema Indonesia. Karena kami Satu Jiwa untuk Arema Indonesia.
Aremania Jalur Gaza dulunya adalah Aremania pandaan yang lahir mulai tahun 2001 2002 dan mempunyai sekitar 100 orang. Sejak Arema Malang berganti Arema Indonesia, Aremania Pandaan berubah nama menjadi Aremania Jalur Gaza dengan meninggalkan sistem kedaerahannya karena Aremania Jalur gaza tidak berasal dari Pandaan saja namun juga dari, Tretes, dan Trawas.
Lahirnya Aremania Jalur Gaza ini tentu tidak bisa berdiri sendiri, namun dibantu oleh para dedengkot Aremania seperti Amin korwil sukorejo, Cak Sur tattoo dan Sam Helos Wagir. Aremania Jalur Gaza sudah memiliki KTA agar lebih mudah mengkoordinir dan tdk mudah disusupi oleh Oknum2 yg tidak bertanggung jawab.
Visi dan misi Aremania Jalur Gaza,Visi untuk mendukung Arema dimanapun berada, menjaga nama baik Arema dan Aremania. Misi Aremania Jalur Gaza untuk mendirikan sebuah korwil tetap, agar selalu bisa selalu mendampingi tim kesayangan Arema Indonesia. Aremania itu tidak kemana mana namun ada dimana mana, Kita tetap satu untuk Arema Indonesia. Salam satu Jiwa
Bertempat di Rumah makan lesehan beran karang jati pandaan,tepat tanggal 28 November 2010 AREMANIA-AREMANITA wilayah pandaan,tretes,pacet,pasuruan,trawas dan sekitarnya resmi mendirikan korwil aremania yang diberi nama korwil JALUR GAZA.Nama jalur gaza ini terinspirasi oleh daerah Negara palestina yang selalu tegang keadaannya.
Menurut ketua korwil jalur gaza sam deni korwil ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1994,yang waktu itu sama almarhum sam surtato didorong untuk deklarasi tapi keadaan waktu itu tidak memungkinkan karena daerah pandaan dan sekitarnya banyak supporter yang tidak suka dengan arema.Memang jalur gaza yang selama ini kita kenal indentik dengan sam AMIN sukorejo yang sebenarnya memakai nama arema militan.
Terlepas itu semua kata sam deni tidak jadi masalah karena tujuanya sama yaitu mendukung team AREMA SINGO EDAN.Sam deni berharap dengan adanya deklarasi ini nantinya korwil jalur gaza bisa diperhatikan untuk pendistribusian tiket pertandingan agar tidak kesulitan lagi untuk mendapatkan tiket yang selama ini daerah pandaan mendapatkan tiket dari sukorejo serta dari korwil dimalang.Pernah kejadiaan ketika mau menonton arema kurang lebih 20 orang dari pandaan berangkat ke stadion dan setelah sampai stadion tidak mendapatkan tiket padahal kalau menonton arema korwil jalur gaza berangkat dengan was-was sebab mereka harus siap-siap untuk dilempari oleh oknum bonek di daerah tsb,terlebih yang berangkat dari pacet,trawas mesti diganggu oleh oknum suporter bonek.
Kenapa mereka memilih arema padahal secara geografis daerah pandaan lebih dekat dengan pasuruan dan Surabaya,sam deni bilang karena senang,kreatif dan sikap setia kawan anak-anak arema dimanapun berada dan tidak anarki.ada seorang suporter anggota korwil jalur gaza yang dari pasuruan bilang pernah menonton pertandingan persekabpas yang waktu itu persekabpas sudah unggul tapi suporternya tetap aja berbuat anarki.makanya dia memilih menjadi suporter arema meskipun domisilinyadi pasuruan.
Deklarasi jalur gaza tidak diadakan seperti deklarasi di malang yang menggunakan panggung terbuka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.menurut sam andri sebagai humas jalur gaza pihak keamanan dari polsek,koramil,kecamatan mendukung acara deklarasi ini.deklarasi jalur gaza di hadiri oleh ,perwakilan korwil-korwil se malang raya serta dari management arema.
Anggota korwil jalur gaza kurang lebih 100 anggota yang be-kta dan diharapkan korwil jalur gaza ini kompak dan bersatu antara pandaan,trawas,pacet,pasuruan dan tretes kedepan korwil ini berharap tidak ada lagi gontok-gontokan antar supporter.ditambahkan juga oleh mbak ida sebagai sekertaris korwil jalur gaza mempunyai kegiatan rutin di samping nonton arema ada arisan keliling tiap 2 minggu sekali untuk mempererat silahturahmi antar anggota.
source : junedoyisam.wordpress.com/2012/12/26/mengenal-aremania-jalur-gaza-love-in-brotherhood/
Yuli Sumpil: Sang Dirigen Aremania
Pemuda nyentrik dengan anting-anting di kedua kupingnya, topi yang tak lepas dari kepala, dan mengenakan kaus Aremania itulah ciri khasnya. Ia selalu semangat dalam membela klub berjuluk ‘Singo Edan’ itu.
Yuli mengawali kiprah sebagai Aremania sudah cukup lama, sejak kelas 5 SD. Ia selalu hadir di lapangan untuk mendukung klub kesayangannya waktu masih berkiprah di Galatama.
Yuli pun mengenang. Kendati tidak memiliki uang untuk membeli tiket, ia tetap berusaha menonton pertandingan secara langsung di Stadion Gajayana Kota Malang . Caranya, dengan ikut penonton dewasa yang bertiket agar bisa masuk di stadion. Menonton pertandingan sepak bola seperti itu dilakoninya hingga SMP.
Ketika usianya beranjak remaja, Yuli semakin berani dan bersemangat. Ia sering nekat meloncat truk agar sampai di kota tujuan tempat Arema berlaga. Dari sinilah, bersama kawan-kawannya yang nekat, kemudian muncul istilah ‘bondo nekat’ (bonek).
Laki-laki muda itu sudah menjadi suporter fanatik klub sepakbola Arema (Arek Malang). Yuli Sugianto adalah salah satu suporter paling populer di kalangan Aremania, sebutan bagi suporter Arema. Bersama suporter Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya) yang disebut Bonek (bondho nekat/ modal nekat), Aremania terkenal sebagai suporter paling fanatik dalam sejarah sepakbola Indonesia.
Sekarang Yuli adalah dirigen Aremania. Seorang dirigen, layaknya seorang konduktor dalam pertunjukan orkestra, adalah orang yang memimpin para suporter untuk menyanyi dan menari dalam sebuah pertandingan sepakbola. Seorang dirigen menentukan lagu mana yang harus dinyanyikan dan gerakan tubuh macam apa yang mesti dilakukan. Aremania punya dua dirigen. Selain Yuli juga ada Yosep, yang biasa dipanggil Kepet.
Di kalangan Aremania, dirigen dipilih dengan cara yang tidak terlalu rumit. Tidak ada pemungutan sura yang berlangsung dengan ketat. Seseorang dipilih menjadi dirigen karena penampilan fisiknya yang menarik (ceria, nyentrik, dll.), kemampuannya berkomunikasi dengan suporter lain, dan kemampuannya membangkitkan semangat suporter untuk terus memotivasi tim yang didukungnya. Oleh sejumlah suporter seorang dirigen ditunjuk dengan cara yang sulit dijelaskan, hampir kebetulan saja, sebelum sebuah pertandingan sepakbola dimainkan. Tetapi begitu seorang dirigen terpilih, jabatan itu akan disandangnya terus, tanpa batas waktu yang jelas, sampai ia mengundurkan diri atau kehilangan kemampuan untuk memimpin. Begitulah, tujuh tahun lalu dan Kepet terpilih begitu saja sebagai dirigen Aremania. Dan hanya kepada mereka berdualah 30 ribuan Aremania mau tunduk. “Mungkin saya dipilih karena berambut gondrong dan suka menari sambil memanjat pagar pembatas lapangan. Kalau Kepet mungkin karena ia punya banyak teman. Ia kan tinggal dekat stadion,” kata Yuli.
Pertandingan sepakbola biasanya dimulai jam 4 sore, tetapi para suporter sudah memadati stadion sejak 2 jam sebelumnya. Mereka memainkan genderang, terompet, menyanyi, menari dan menyulut kembang api dan petasan. Sebelum dirigen datang, atraksi-atraksi ini berlangsung sporadis, dalam kelompok-kelompok kecil, dan tidak kompak. Tetapi begitu mereka melihat kedatangan Yuli dan Kepet, secara otomatis semuanya akan bertepuk tangan dan bertempik-sorak seperti menyambut kedatangan presiden mereka. Yuli dan Kepet tersenyum, dan begitu mereka melambaikan tangan, ribuan suporter ini menjadi lebih tenang. Semua musik, lagu, dan tarian dihentikan. Yuli dan Kepet akan segera menaiki singgasana mereka, yaitu pagar besi pembatas lapangan setinggi 2 meter. Mereka mulai menjalankan tugasnya; sambil berdiri di atas pagar menghadap ke tribun penonton mereka menggerakkan tangan dan kaki, memiringkan dan memutar tubuhnya ke kiri, kanan, depan, dan belakang sebagai alat untuk memberi aba-aba. Ribuan penonton menjadi kompak dan memainkan musik, menyanyi, dan menari. Semuanya mengikuti aba-aba dan contoh gerakan yang dilakukan Yuli dan Kepet.
Satu-satunya kelompok suporter besar yang tetap tinggal “liar” adalah Aremania. Klub dan Pemda tidak memberi bantuan dana atau berkeinginan membuat organisasi formal untuk suporter. Para suporter tetap membuat kelompoknya sendiri dengan keinginan mereka sendiri, kelompok-kelompok ini mereka sebut dengan Korwil (Koordinator Wiyalah). Di Malang sekarang ini sekurang-kurangnya ada 125 Korwil Aremania. Tiap Korwil punya seorang ketua yang hanya bertugas mengumpulkan suporter di wilayahnya menjelang Arema bertanding. “Tidak perlu organisasi-organisasian. Kalau ada organisasi itu repot, nanti malah diatur-atur, disuruh begini, disuruh begitu, bayar ini, bayar itu. Apalagi kalau sampai dikait-kaitkan sama partai politik segala,” kata Ponidi—dikenal sebagai Tembel—Ketua Korwil Stasiun. Meski tiap Korwil punya ciri khas sendiri, yang ditandai dengan bendera, spanduk, seragam, dan dandanannya, komando di stadion tetap ada di tangan dirigen. Hanya Yuli dan Kepet yang mampu mengatur dan menenangkan merea. “Pengurus klub atau walikota sekalipun tidak akan bisa ada artinya bagi suporter. Dia tak akan mampu mengatur 30 ribu orang. Tapi begitu Yuli atau Kepet yang ngomong, ya semuanya manut,” jelas Tembel.
Yuli adalah pemuda dari keluarga miskin yang tinggal di sebuah kampung di bagian timur Malang. Sebelum menjadi dirigen Aremania, sejak lulus dari sebuah Madarasah Aliyah, Yuli bekerja sebagai pencuci mikrolet—angkutan umum dalam kota. Ia biasa bekerja dari jam 4 sore hingga jam 12 malam, dari pekerjaannya, dalam sehari Yuli bisa memeroleh 10 ribu hingga 15 ribu rupiah.
Dalam kiprahnya sebagai seorang dirigen, sempat membuat seorang insan perfilman untuk mengangkatnya dalam sebuah film, yaitu The Conductors, film dokumenter karya Andi Bachtiar Yusuf.
The Conductors berusaha untuk mengungkap sisi lain dari Addie MS (Twilite Orchestra), AG Sudibyo (Paduan Suara Mahasiswa UI) dan Yuli “Sumpil” (Aremania), menampilkan kiat dan semangat dari anak manusia yang sangat mencintai profesinya tersebut. Film yang telah diputar pada ajang Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2007 lalu tersebut merupakan karya dokumenter kedua pria yang lebih akrab dipanggil “Ucup” setelah The Jak (2007). Dan setelah premiere di Jakarta, akan diputar di Bandung, Malang, Semarang, Yogyakarta, Jember, Purwokerto, Pusan (Korea Selatan).
“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,”
Jika Liga sedang berjalan—yang berarti setiap minggu hampir selalu saja ada pertandingan sepakbola—Yuli harus menyisihkan sedikit jatah uang rokoknya agar bisa membeli tikat dan masuk stadion. Tetapi kalau kondisi keuangan keluarganya yang benar-benar sulit, Yuli kadang terpaksa menjual asesoris-asesoris suporternya untuk bisa membeli tiket. Tak jarang ia harus merelakan kaus atau syal kesayangannya dengan harga 10 hingga 20 ribu rupiah. “Sebenarnya sedih juga, karena barang-barang itu punya nilai sejarah bagi saya. Tapi saya akan lebih sedih lagi kalau tidak bisa masuk ke stadion dan menjadi dirigen bagi teman-teman,” katanya. Kadang-kadang Yuli juga membantu menjual tiket pertandingan. Beberapa hari sebelum pertandingan Yuli akan mengambil tiket di Mess Arema. Untuk tiap tiket seharga 10 ribu rupiah bisa dijualnya ia mendapat bagian 10 persen atau seribu rupiah. Agar bisa nonton pertandingan sekurang-kurangnya Yuli harus bisa menjual 10 tiket.
Seperti kebanyakan pemuda kota yang tinggal di kampung padat dan miskin, Yuli gemar sepakbola dan sering terlibat tawuran (perkelahian massal) antarkampung. “Buat saya dulu tawuran adalah bagian dari sepakbola. Sepakbola nggak ada tawuran seperti sepakbola banci,” kata Yuli. Ia kemudian bercerita, beberapa tahun lalu—sebelum menjadi dirigen—bersama 30 temannya ia datang ke Jakarta untuk melihat Arema bertanding. Ia berangkat dari rumah dengan sudah menyiapkan sebilah pedang. “Waktu itu, ini perlengkapan standar,” katanya. Di Jakarta ia terlibat bentrokan dengan kelompok Bonek di depan Stasiun Pasar Senen. Mula-mula hanya saling melempar batu, tapi kemudian menjadi saling kejar, memukul dengan potongan kayu atau besi, bahkan hingga sabetan pedang. “Yang saya ingat, keesokan harinya saya baca di koran ternyata ada 3 orang Bonek yang mati. Sementara kami semua selamat,” katanya.
Yuli kini ingin melupakan masa lalunya. Di ruang tamu rumahnya yang sempit, ia memasang fotonya ketika bersalaman dengan Ketua PSSI Agum Gumelar. Di foto itu, Yuli—berambut gondrong dan berkaus Arema warna biru—tampak tersenyum bangga. Katanya, “Saya diundang di acara pembukaan Liga Indonesia dan dikirimi tiket pesawat untuk hadir mewakili suporter”.
Karena tak bekerja, sehari-hari Yuli menghabiskan waktunya dengan nongkrong sja. Saya ingat waktu bertemu dengannya pertama kali tiga tahun lalu, ia tengah nongkrong di Salon Cimenk yang terletak beberapa ratus meter saja dari rumahnya. Didik, pemilik salon ini, adalah teman Yuli sesama Aremania. Untuk urusan dandanan Yuli mengaku memang sering dibantu Didik. Sekali mencat rambut ia cuma akan membayar 10 atau 20 ribu. Tapi Yuli lebih sering tak membayar, karena ia memang jarang punya cukup uang. Suatu ketika karena merasa sungkan dan terlalu sering tidak membayar, sebelum berangkat ke stadion Yuli pernah mencat saja rambut gondrongnya dengan cat kayu, warna biru. Jelasnya, “Agar mudah membersihkannya, saya lumuri dulu rambut saya dengan minyak goreng, setelah itu baru saya cat. Saya ingin selalu bisa menarik perhatian di lapangan.”[ad#kumpulblogger]
Yuli punya cukup banyak koleksi asesoris Aremania. Yuli punya macam-macam kaus Arema, dari kaus seperti yang dipakai para pemain—warna biru putih—sampai kaus-kaus bergambar kepala singa, lambang Arema, yang memang punya julukan sebagai tim Singo Edan (singa gila). Kebanyakan kaus macam ini bertuliskan “Kera Ngalam” atau “Ongis Nade”. Keduanya adalah bahasa slang Malang yang berarti “Arek Malang” dan “Singo Edan”.
“Saya biasanya pakai kaus Arema, tapi bawahannya bisa ganti-ganti, yang penting warna dan modelnya menyolok mata. Seorang teman suporter pernah memberi saya pakaian Skotlandia,” kata Yuli . Sebentar kemudian ia mengeluarkan lagi beberapa pakaian, dari yang berbahan kulit sintetis hingga kain sarung dan kain perca. Hampir semua pakaian ini dirancang sendiri oleh Yuli. Biasanya ia mendapat ide model-model pakaian baru setelah menonton pertandingan sepakbola Liga Italia atau Inggris di televisi.
Saya membuka-buka koleksi foto Yuli. Ia memberikan penjelasan detil untuk tiap foto yang saya lihat. Ketika saya sampai pada sebuh foto yang memerlihatkan sepasang lelaki dan perempuan berbaju pengantin, sementara di sekelilingnya adalah laki-laki dan perempuan yang semuanya berkaos biru Arema, Yuli menjelaskan bahwa itu adalah acara pernikahan seorang Aremania. Ia malah menceritakan tentang seorang Aremania lain yang naik haji ke Mekkah dengan membawa syal dan bendera Arema.
Yuli Sumpil, dari sekian nyanyian seluruh Aremania yang kau pimpin selama ini, kami masih sering mendengar nyanyian yang bernada Rasis. Kami juga berharap dengan kepemimpinanmu di atas tribun akan bisa membawa nyanyian yang lebih sering hanya untuk mendukung skuad Arema yang sedang berjuang, dan tidak lebih sering menyanyikan tentang tetangga sebelah, biarlah mereka tetap J*****k, karena biar kita tidak menyebut mereka J*****k, mereka tetap J*****k juga. Oyi kan?
Biodata:
Nama lengkap : Yuli Sugianto
Nama lapangan: Yuli Sumpil
Tempat, tanggal lahir: Malang, 14 Juli 1976
Pendidikan: MA (SMA) Al-Amin Blimbing, Kota Malang
Ayah: Asip
Ibu: Djuariyah
Saudara: Anak ketujuh dari sembilan bersaudara
Keterlibatan di sepak bola:
- Menjadi suporter sejak kelas 5 SD
- Menjadi Dirijen Aremania sejak 1998-1999
Penghargaan :
- Terbaik film dokumenter The Conductors
- Mengantarkan Aremania menjadi The Best Supporter Piala Indonesia 2006
Sumber : mediaindonesia.com, aremastore.com
Belum habis rasa penasaran ayas atas posting ayas yang berjudul sumber permusuhan Aremania vs Bonek
yang mengulas tentang segala sesuatu yang menyebabkan perseteruan
antara dua kelompok supporter terbesar di Indonesia, yaitu antara
Aremania dengan Bonek. Setiap kali ayas buka internet, sudah dapat ayas
pastikan dalam satu tab terpisah, ayas pasti membuka Mr Google yang
sangat lengkap pengetahuannya tentang apapun. Dalam tab tersebut, ayas
mengetikkan judul2 yang sekiranya bisa ayas pakai untuk mencari file2,
artikel2, posting2 yang berbau dan memuat tentang Aremania vs Bonek.
Memang ayas ini tergolong agak bagus rejekinya, sehingga ada aja
posting2 yang ayas temui yang memuat tentang Aremania vs Bonek. Saat ini
ayas sedang membuka salah satu posting yang judulnya plek sama dengan
judul posting ayas, tapi ditambahi dengan istilah2 lainnya dalam
judulnya. Blog bernama cak-faris.blogspot.com memuat judul Sepakbola, Kapitalisme, dan Konflik Sosial: Sejarah Perseteruan Aremania dan Bonek.
Karena penasaran ayas mencoba untuk membukanya, ternyata puanjang
sekali isinya. Tapi demi memuaskan rasa penasaran ayas ayas membukanya.
Materinya buagus ternyata, ayas membacanya……..(sek tak moco yoooo……..)
setelah beberapa lama tik tok tik tok tik tok…….(bunyi jam), akhirnya
belum selesai ayas mbaca, ayas mikir, mending tak bagi2 ae nang nawak2
pembaca lainnya lewat blog ayas.
Ok, setelah ayas semedi dan berdo’a untuk memohon petunjuk (jare
arek2 lebay…..), ayas tekadkan untuk memuatnya ulang disini. Monggo
disimak :
Pendahuluan
Hari ini persepakbolaan nasional sudah mulai menapak maju, dimana
setiap klub sepakbola yang ada dibawah naungan PSSI (Persatuan Sepakbola
Seluruh Indonesia) dibina untuk lebih profesional. Bentuk
profesionalitas itu oleh PSSI dituangkan dalam format baru Liga
Indonesia, dimana sejak tahun 1994 kompetisi yang sebelumnya terbagi dua
disatukan dalam konsep Liga Indonesa dengan kasta tertinggi terletak
pada Divisi Utama. Setelah berganti-ganti konsep dan format kompetisi,
akhirnya pada tahun 2008 Divisi Utama Liga Indonesia berubah menjadi Indonesian Super League.
Proses pembinaan kompetisi beserta klub-klub yang ada didalamnya
diharapkan mampu membuat iklim sepakbola di Indonesia menjadi lebih
modern dan mampu menelurkan bibit-bibit baru pemain asli Indonesia yang
lebih berkualitas.
Kemajuan persepakbolaan nasional tentu harus diikuti oleh komunitas
suporter yang menjadi basis pendukung sebuah klub sepakbola. Karena
adalah sebuah omong kosong apabila sebuah klub sepakbola itu mampu
bertahan tanpa dukungan suporter yang ada dibelakangnya. Tetapi
sayangnya sudah menjadi rahasia umum bahwasanya persepakbolaan Indonesia
dikenal akan kerusuhan dan permainan yang menjurus kasar. Kerusuhan
demi kerusuhan, entah itu akibat ketidakdewasaan suporter atau provokasi
ofisial pertandingan kepada suporter menjadi cerita lama dalam dunia
persepakbolaan Indonesia. Konflik Jakarta-Bandung, Semarang-Jepara,
Jogja-Solo, dan Malang-Surabaya menjadi cerita pasti mengenai aroma
panas dalam konflik suporter di Indonesia.
Belum dewasanya suporter di Indonesia tentu menjadi penghambat bagi
pengembangan profesionalitas klub-klub di Indonesia. Aksi anarkis yang
dilakukan oleh oknum suporter menjadi salah satu faktor lambatnya
pengembangan profesionalitas klub Indonesia. Belajar dari kasus rasisme
Aremania beberapa saat yang lalu tentu menjadi sebuah pelajaran berharga
bagi seluruh elemen suporter yang ada. Kerugian sebesar hampir 1 miliar
rupiah bagi Arema tentu menjadi sebuah permasalahan tersendiri. Arema
yang merupakan klub profesional tanpa dukungan dana APBD tentu kesulitan
membayar gaji pemain dan lainnya. Padahal skala permasalahan baru
sekitar denda dan hukuman, belum pada level anarkisme tingkat tinggi
seperti perusakan stadion dan beberapa fasilitas, kerusuhan
antar-suporter, hingga aksi-aksi kejahatan yang melibatkan komunitas
suporter.
Salah satu pertarungan suporter yang paling sering disorot oleh media
massa adalah rivalitas Aremania dan Bonek. Dua elemen suporter dari
Arema Indonesia dan Persebaya Surabaya ini memiliki tensi rivalitas
yang sangat tinggi, dimana perseteruan antar kedua elemen suporter ini
tak jarang berakhir dengan bentrokan, kerusuhan, kerusakan material,
hingga jatuhnya korban jiwa. Ekspresi saling benci keduanya juga
tertumpah ketika mendukung kesebelasan masing-masing, walaupun yang
dihadapi adalah tim sepakbola selain Arema Indonesia atau Persebaya
Surabaya.
Konflik Aremania melawan Bonek sudah menjadi cerita lama dalam
diskusi antar-suporter di Indonesia. Pertarungan yang sudah
mendarah-daging dalam kedua elemen suporter tersebut menjadi bumbu pedas
dalam forum antar-suporter. Walaupun belum ada yang pernah
memfilmkannya layaknya film Romeo-Juliet, tetapi aroma panas
selalu terasa dalam kehidupan sehari-hari warga Malang dan Surabaya.
Tidak jarang ditemui di rumah seorang Aremania segala atribut Bonek
menjadi kain lap, sementara di Surabaya segala atribut Aremania menjadi keset.
Aroma panas kedua elemen ini tentu menarik untuk dikaji dan diteliti
lebih lanjut, karena sifat persaingannya yang begitu kental dan sudah
mendarah-daging. Belum lagi pembentukan iklim sepakbola Indonesia ke
arah modern tentu harus mewaspadai satu hal yang kini masih menjadi
kontroversi: industri sepakbola. Modernisasi sepakbola secara tidak
langsung membawa dunia sepakbola ke arah industri, dimana pada akhirnya
kapital juga ikut bermain dalam menentukan suasana dan atmosfir sebuah
pertandingan. Bukan tidak mungkin beberapa peristiwa yang berkaitan
dengan sepakbola Indonesia hari ini berkaitan erat dengan suasana pasar
ekonomi.
Selain dari perspektif industri sepakbola, tentu konflik-konflik yang
timbul juga tidak luput dari permasalah sosial dan budaya dalam sebuah
masyarakat. Masalah hegemoni dan pengakuan akan ‘the one and the best’
juga menjadi salah satu permasalah konflik suporter Indonesia.
Persoalan chauvinisme dan fanatisme dalam sebuah masyarkat juga tidak
dapat dihilangkan sebagai faktor-faktor pemicu konflik. Belum lagi soal
dendam yang berasal dari peristiwa yang terjadi sebelumnya. Begitu
banyak permasalahan yang timbul dalam masyarakat sehingga terbawa dalam
kancah sepakbola membuat stadion masih belum menjadi tempat yang nyaman
dalam menikmati pertandingan sepakbola.
Dengan mempelajari proses historis perseteruan kedua kelompok
suporter ini diharapkan adanya pembelajaran serta solusi agar
konflik-konflik yang terbangun menjadi sportif dan tidak anarkis.
Pengkajian akan sebuah konflik dengan memandang dari perspektif
sosiologi –dimana masyarakat dan kondisi kultural akan menjadi objek
yang dikaji– diharapkan akan timbul sebuah mediasi entah itu berupa
negoisasi atau yang lainnya. Dengan begitu posisi suporter sebagai
sebuah pendukung klub akan terjadi hubungan timbal balik dengan klub
yang didukung. Selain itu diharapkan pula perdamaian antar-suporter
sepakbola yang ada di Indonesia dapat terjadi.
Sejarah Aremania dan Rivalitas dengan Bonek
Tahun 1988 lahirlah Yayasan Arema Fans Club (AFC) yang didirikan oleh
Ir. Lucky Acub Zaenal. Yayasan ini hadir sebagai basis kelompok
suporter dari Yayasan PS Arema yang didirikan setahun sebelumnya. Tahun
pertama AFC berdiri dipimpin oleh Ir. Lucky Acub Zaenal dengan 13
korwil (koordinator wilayah) yang ada dibawahnya. Keberadaan AFC yang
begitu formal dan eksklusif membuat kalangan suporter yang berasal dari
kelas bawah tidak mampu menjangkau organisasi tersebut. AFC sendiri pada
akhirnya belum mampu menciptakan kerukunan antar-suporter di Malang,
sehingga harus dibubarkan pada tahun 1994.
Kondisi chaos dalam kota, dimana sering terjadi perselisihan
antar-geng yang berlanjut ke dalam stadion membuat kota Malang menjadi
sepi di kala Arema bertanding. Banyak toko-toko dan warung-warung tutup,
bahkan hingga mengunci pintu dan jendela. Beberapa narasumber bahkan
menceritakan bahwa ketika itu seorang suporter membawa batu, pentungan,
dan golok adalah hal biasa . AFC yang belum mampu menyatukan
elemen-elemen suporter yang ada di Malang akhirnya membubarkan diri.
Menjelang bubarnya AFC, beberapa suporter sepakbola Malang berkumpul dan
mendiskusikan mengenai Aremania. Beberapa nama seperti Handoko, Yuli
Sumpil, Ovan Tobing, Leo Kailola, dan Lucky Acub Zaenal yang merupakan
pentolan dari beberapa kelompok suporter PS Arema di Malang berkumpul
dan mengambil keputusan bahwa Aremania didirikan dalam sebuah organisasi
non-formal (tanpa bentuk) tetapi terus menjaga persatuan dan
sportivitas. Sehingga sejak saat itu tidak ada ketua resmi dari
Aremania.
Ketiadaan ketua bukan berarti menimbul perpecahan dalam Aremania.
Kultur masyarakat Malang yang egaliter membangun kebersamaan dalam
ketiadaan struktur organisasi tersebut. Prinsip “sama rata, sama rasa, satu jiwa”
yang dimiliki oleh warga Malang menjadikan Aremania menjadi kelompok
suporter yang memiliki kekompakan dan persatuan yang kuat. Rasa egaliter
pula yang membuat Aremania kompak dan mudah dikendalikan oleh Yuli dan
Kepet, dirigen Aremania saat ini.
Titik balik Aremania terjadi pada tahun 1993, pasca PS Arema
menjuarai kompetisi Galatama PSSI. PS Arema yang pada tahun-tahun
sebelumnya belum memiliki begitu banyak pendukung, mendapatkan
perpindahan pendukung begitu banyak dari Ngalamania. Kedewasaan arek
Malang akan dampak negatif dari anarkisme membawa dampak positif bagi
perjalanan Aremania selanjutnya. Aremania lalu mempelopori untuk selalu
hadir mengawal pertandingan Arema di kandang lawan. Dimulai dari Cimahi
pada tanggal 31 Mei 1995, Aremania selalu mengikuti kemanapun Arema
pergi dan mendukung sembari menularkan virus suporter damai kepada
elemen-elemen suporter lawan.
Bulan Mei 1996 Aremania berani untuk melakukan lawatan ke stadion
‘musuh abadi’ untuk mendukung Arema dan menularkan virus perdamaian ke
Bonek yang menjadi elemen suporter Persebaya. Aremania datang dengan
pengawalan dari DANDIM Kota Malang pada pertandingan yang disaksikan
oleh para petinggi PSSI dan gubernur Jawa Timur, dimana mereka
menunjukkan eksistensi perdamaian yang dibawanya. Stadion Tambaksari
yang dikenal ‘biadab’ karena jarangnya suporter lawan yang berani
memasuki stadion tersebut akibat tekanan, intimidasi, kerusuhan, dan
provokasi Bonek menjadi saksi eksistensi Aremania .
Rivalitas Malang Surabaya
Berbicara masalah persaingan dan rivalitas dua elemen suporter di
Jawa Timur ini, maka kita tidak dapat mengesampingkan sejarah dan kultur
sosial masyarakat masing-masing kota. Malang yang secara demografis
adalah sebuah kota yang ada di pinggiran gunung, dimana
pembangunan-pembangunan yang dilakukan sejak pemerintahan kolonial
Hindia Belanda hingga zaman Orde Baru membawa kemajuan yang sangat pesat
bagi kota ini. Kemajuan yang membuat masyarakatnya merasa mampu untuk
menyaingi kota metropolitin sekelas Surabaya. Surabaya yang selalu
dianggap ‘number one’ dalam berbagai kondisi membuat masyarakat
Malang tidak terima dan menganggap arek Suroboyo adalah saingan utama
mereka. Dalam tataran propinsi misalnya, dimana Malang merupakan kota
kedua setelah Surabaya. Hal ini memicu kecemburuan sosial yang sangat
tinggi oleh arek Malang terhadap arek Suroboyo .
Kondisi ‘tidak mau kalah’ ini membuat suhu konflik Malang-Surabaya
begitu panas. Begitu juga dengan sepakbola, dimana suporter asal Malang
selalu berusaha menyaingi suporter asal Surabaya. Arek Suroboyo sudah
lama memiliki sifat bondho nekat, dimana pernah mereka aplikasikan dalam
upaya melawan tentara sekutu dalam pertempuran 10 November 1945. Sifat
bondho nekat yang masih menjadi kultur masyarakat Surabaya modern juga
terbawa dalam sepakbola. Pada akhirnya, bondho nekat ini menjadikan
suporter Surabaya saat itu terkesan brutal dan anarkis, seperti halnya
Hooligans di daratan Eropa.
John Psipolatis pernah menyinggung akan perbedaan ‘suporter brutal’
dan ‘hooligan’ dalam kajiannya tentang sepakbola Indonesia. Ia
menyatakan bahwa untuk di Indonesia lebih sesuai dengan sebutan
‘suporter brutal’, karena mereka datang ke stadion untuk menikmati
pertandingan dan sesudahnya membuat onar. Sementara ‘hooligan’ belum
pantas disandang oleh suporter di Indonesia karena Hooligan datang
dengan niat untuk membuat kerusuhan tanpa menikmati pertandingan
sepakbola.
Konflik dalam hal sepakbola dimulai sejak tahun 1967, dimana terjadi
kerusuhan dalam pertandingan Liga Perserikatan antara Persebaya Surabaya
melawan Persema Malang di Surabaya. Kondisi ini dibalas oleh arek-arek
Malang dalam pertandingan Persema Malang melawan Persebaya Surabaya di
Malang. Akhirnya, konflik suporter yang merupakan pertarungan geng
Malang-Surabaya ini terus berlanjut pada tahun 70’an. Periode 80’an
menjadi puncak ketegangan antara Bonek dan Ngalamania, dimana tahun 1984
terjadi ‘Perang Badar’ antara Ngalamania dengan Bonek. Peperangan yang
terjadi antara Arek Malang dan Arek Suroboyo itu membuat Presiden Soeharto kala itu menyikapinya dengan ucapan “kalau sepakbola membuat persatuan hancur, lebih baik tidak usah”.
Rivalitas Bonek – Aremania
Berdirinya
Armada 86 hingga berevolusi menjadi PS Arema pada tahun 1987 membuat
konflik semakin memanas. Dalam kompetisi Perserikatan, Persema dan
Persebaya sudah memanaskan suhu konflik antar-suporter di Jawa Timur.
Dengan hadirnya Arema yang mengikuti kompetisi Galatama, suhu itu kian
memanas dengan rivalitas Arema dan Niac Mitra Surabaya. Semifinal
Galatama tahun 1992 yang mempertandingkan PS Arema Malang melawan PS
Semen Padang di stadion Tambaksari Surabaya menghadirkan awalan baru
sejarah konflik Aremania-Bonek. Arek Malang (saat itu belum
bernama Aremania) membuat ulah di Stasiun Gubeng pasca kekalahan Arema
Malang dari Semen Padang. Kapolda Jatim saat itu akhirnya mengangkut
mereka dalam 6 gerbong kereta api untuk menghindari kerusuhan dengan
Bonek.
Kejadian di Stasiun Gubeng itu membuat panas Bonek yang ada di
Surabaya. Tindakan balasan mereka lakukan dengan mencegat dan menyerang
rombongan Aremania pada akhir tahun 1993 saat akan melawat ke Gresik.
Peristiwa ini dibalas oleh Aremania pada tahun 1996 dengan melakukan
lawatan ke Stadion Tambaksari dengan pengawalan ketat DANDIM. Keberanian
Aremania untuk hadir di Stadion Tambaksari kala pertandingan Persebaya
melawan Arema saat itu telah membuat Bonek tidak bisa berbuat apa-apa
dan harus menahan amarah mereka dengan cara menghina Aremania lewat
kata-kata saja. Hal ini karena pertandingan tersebut disaksikan oleh
para petinggi PSSI dan gubernur Jawa Timur saat itu, serta pengawalan
ketat DANDIM kota Malang terhadap Aremania. Bagi Aremania, hal ini sudah
sangat mempermalukan Bonek dengan datang langsung ke jantung pertahanan
lawan sembari menunjukkan kesantunan Aremania dalam mendukung tim
kesayangan. Semenjak itulah tidak ada kata damai dari Bonek kepada
Aremania, dan Aremania sendiri juga menyatakan siap untuk melayani Bonek
dengan kekerasan sekalipun.
Kejadian ini dibalas oleh Bonek di Jakarta pada tahun 1998. Tanggal 2
Mei 1998 dimana Aremania akan hadir dalam pertandingan Persikab Bandung
vs Arema Malang, Aremania yang baru turun dari kereta di Stasiun
Jakarta Pasarsenen diserang oleh puluhan Bonek. Ketika itu rombongan
Aremania yang berjumlah puluhan orang menaiki bus AC yang sudah
disiapkan oleh Korwil Aremania Batavia. Di tengah jalan, belum jauh dari
Stasiun Pasarsenen tiba-tiba bus yang ditumpangi Aremania dihujani
batuan oleh Bonek. Untuk menghindari jatuhnya korban, rombongan Aremania
langsung turun dari bus untuk melawan Bonek yang menyerang mereka.
Bahkan Aremania sampai mengejar-ngejar Bonek yang ada di Stasiun
Pasarsenen. Tindakan Aremania ini mendapat applaus dari warga setempat, sehingga Bonek harus mundur meninggalkan area Stasiun Pasarsenen.
Kondisi rivalitas yang begitu panas antara Aremania dan Bonek membuat
keduanya menandatangi nota kesepakatan bahwa masing-masing kelompok
suporter tidak akan hadir ke kandang lawan dalam laga yang mempertemukan
Arema dan Persebaya. Nota kesepakatan yang ditandatangani oleh Kapolda
Jatim bersama kedua pemimpin kelompok suporter tersebut ditandatangani
di Kantor Kepolisian Daerah Jawa Timur pada tahun 1999. Semenjak tahun
1999, maka kedua elemen suporter ini tidak pernah saling tandang dalam
pertandingan yang mempertemukan kedua klub kesayangan masing-masing.
Tetapi nota kesepakatan itu tidak mampu meredam konflik keduanya.
Tragedi Sidoarjo yang terjadi pada bulan Mei 2001 menunjukkan masih
adanya permusuhan kedua elemen ini. Kala itu pertandingan antara tuan
rumah Gelora Putra Delta (GPD) Sidoarjo melawan Arema Malang di Stadion
Delta Sidoarjo dalam lanjutan Liga Indonesia VII. Karena dekatnya jarak
Surabaya-Sidoarjo membuat sejumlah Bonek hadir dalam pertandingan
tersebut. Menjelang pertandingan dimulai, batu-batu berterbangan dari
luar stadion menyerang tribun yang diduduki oleh Aremania. Kondisi ini
membuat Arema meminta kepada panpel untuk mengamankan wilayah luar
stadion. Karena lemparan batu belum berhenti membuat Aremania turun ke
lapangan, sementara di luar stadion justru terjadi gesekan antara Bonek
dengan aparat. Turunnya Aremania ke lapangan pertandingan membuat
pertandingan dibatalkan. Terdesaknya aparat keamanan yang kewalahan
menghadapi Bonek membuat Aremania membantu aparat dengan memberikan
lemparan balasan ke arah Bonek. Aremania pun harus dievakuasi keluar
stadion dengan truk-truk dari kepolisian.
Kejadian
rusuh yang berkaitan antara Aremania dengan Bonek masih berlanjut pada
tahun 2006. Kekalahan Persebaya Surabaya atas Arema Malang di stadion
Kanjuruhan dalam laga first leg Copa Indonesia membuat kecewa
Bonek di Surabaya. Seminggu kemudian, kegagalan Persebaya Surabaya
mengalahkan Arema Malang di stadion Gelora 10 November Tambaksari
Surabaya membuat Bonek mengamuk. Laga yang berkesudahan 0-0 ini harus
dihentikan pada menit ke-83 karena Bonek kecewa dengan kekalahan
Persebaya dari Arema Malang. Kekecewaan ini mereka lampiaskan dengan
merusak infrastruktur stadion, memecahi kaca stadion, dan merusak
beberapa mobil dan kendaraan bermotor lain yang ada di luar stadion.
ANTV yang menayangkan pertandingan tersebut meliputnya secara vulgar,
bahkan berkali-kali menunjukkan gambar rekaman mengenai mobil ANTV yang
dirusak oleh Bonek. Aremania menyikapi hal ini dengan menyerahkannya
secara total kepada pihak berwajib dan PSSI.
Rivalitas keduanya tidak hanya hadir lewat kerusuhan dan peperangan,
tetapi juga dengan nyanyian-nyanyian saat mendukung tim kesayangannya.
Bonekmania, di kala pertandingan Persebaya melawan tim manapun, pasti
akan menyanyikan lagu-lagu yang menghina Arema dan Aremania. Lagu-lagu
yang menyebutkan Arewaria, Arema Banci, Singo-ne dadi Kucing,
dan beberapa lagu lain kerap mereka nyanyikan di Stadion Gelora 10
November Tambaksari Surabaya. Hal yang sama juga dilakukan oleh
Aremania, dimana lagu-lagu anti-Bonek juga mereka kumandangkan kala
Arema menghadapi tim lain di Stadion Kanjuruhan. Bahkan persitiwa
terbaru adalah tersiarnya kabar mengenai dikepruknya mobil ber-plat N
ketika malam tahun baru di Surabaya oleh pemuda berkaos hijau (oknum
Bonek?).
Atmosfir Malang – Surabaya
Seperti yang ditulis oleh Feek Colombijn dalam View from The Periphery: Football in Indonesia,
dimana ia menyebut bahwa dinamika suporter di Indonesia sangat
dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa. Kultur Jawa yang mengutamakan
keselarasan dalam harga diri, dimana penolakan yang amat sangat terhadap
hal yang bisa mempermalukan diri sendiri, menjadi faktor utama konflik
antar suporter di Indonesia. Kultur Jawa yang menghindar dari konflik
dan tidak mau dipermalukan menjadi semacam dari anti-thesis dari
sepakbola yang harus siap sedia untuk dipermalukan. Tetapi kultur Jawa
pula yang memicu reaksi apabila penghinaan itu terjadi di depan umum dan
sangat memalukan, maka ekspresi kemarahan dan anarkisme yang muncul
untuk menjaga wibawa dan harga diri.
Kondisi ini yang memicu atmosfir panas Malang–Surabaya. Geng pemuda
asal Malang yang dibantai oleh Bonek di tahun 1967 memicu perasaan
dendam dari Arek Malang. Belum lagi persoalan rivalitas “number one”,
dimana dalam level propinsi posisi Malang masih dibawah Surabaya. Sifat
tidak terima Arek Malang menjadi nomor dua dibawah Arek Suroboyo ini
membuat keduanya susah berjabat tangan. Persaingan atas dasar pride ini
berlanjut pasca melorotnya prestasi Persema Malang, dimana Arema
mengambil alih posisi rivalitas Malang-Surabaya tersebut.
Pergulatan harga diri ini terlihat jelas ketika Aji Santoso pindah
dari Arema ke Persebaya, akhirnya Aji Santoso pun dianggap pengkhianat
oleh Aremania. Ketika Aji Santoso ingin kembali ke Malang, ia pun harus
melalui begitu banyak tim sebelum akhirnya mengakhiri karirnya bersama
Arema Malang. Ahmad Junaedi pun menjadi korban rivalitas Aremania-Bonek.
Ketika Ahmad Junaedi sudah menjadi bintang sepakbola nasional dan
dibeli Surabaya, maka ketika Persebaya menawarkan Ahmad Junaedi untuk
kembali ke Arema pun ditolak oleh Aremania. Akhirnya Arema pun lebih
memilih untuk mengasah bakat Johan Prasetyo daripada memakai tenaga
Ahmad Junaedi . Dalam hal simbol pun tantangan kepada Bonek juga
dikumandangkan. Dengan pemilihan simbol singa menunjukkan bahwa di
belantara Jawa Timur Arema ingin menjadi nomor satu, diatas Ikan Sura
dan Buaya.
Arema menjadi identitas resistensi daerah terhadap pusat (Surabaya) ,
dimana melalui dialek jawa timur dengan tatanan huruf yang dibalik pada
osob kiwalan khas Malang seolah menunjukkan bahwa Arema
menjadi identitas kultural masyarakat Malang. Selain itu Arema juga
merupakan pemersatu warga kota Malang yang sebelumnya terpecah pada
beberapa desa/wilayah/daerah. Arek Malang selalu berusaha membedakan dirinya dengan arek Suroboyo. Ketika arek Suroboyo itu bondho nekad, maka arek Malang itu bondho duwit.
Ketika Bonek itu suka membuat kerusuhan, maka Aremania ingin
menyebarkan virus perdamaian. Konflik identitas juga menjadi lahan
rivalitas kedua kubu suporter besar Jawa Timur ini.
Kapitalisme Sepakbola
Secara disadari atau tidak, fanatisme dan pertarungan kedua elemen
suporter ini menjadi makanan empuk bagi kapitalisme. Sepakbola boleh
jadi hari ini tidak hanya berbicara masalah sportivitas dan kesehatan,
tetapi juga merambah dalam dunia politik dan ekonomi. Industri sepakbola
menjadi salah satu bisnis yang menguntungkan bagi pengusaha-pengusaha
kelas kakap hari ini, tentu dengan syarat mereka bisa mengendalikan
iklim sepakbola itu sendiri.
Dalam hal konflik suporter di Jawa Timur, boleh jadi media massa
menjadi provokator dalam berbagai peristiwa persepakbolaan di Jawa
Timur. Sebagai contoh Jawa Pos misalnya, dimana secara eksplisit
menyatakan keberpihakannya kepada Persebaya Surabaya. Dapat dimaklumi
sebenarnya apabila melihat kantor redaksi yang berada di Surabaya serta
posisi penting para pengurus Jawa Pos dalam kepengurusan Persebaya
Surabaya. Dalam beberapa tulisan yang ada, Jawa Pos selalu menampilkan
porsi lebih kepada Persebaya, bahkan tidak jarang dukungan kepada Bonek
selalu mereka tuliskan dalam berita-beritanya.
PT Bentoel Prima Tbk yang pernah mengakuisisi Arema juga merasakan
betul dampak menguntungkan bisnis sepakbola yang mereka bangun. Walaupun
menghadapi hambatan begitu banyak dari pesaingnya , tetapi secara
materiil PT Bentoel Prima Tbk mengalami keuntungan yang begitu besar
dari sekedar pasang tulisan bentoel-arema di kaos para pemain Arema.
Bisnis sepakbola inilah yang sedang menguasai persepakbolaan modern
hari ini. Di belahan dunia manapun, modernisasi sepakbola diikuti dengan
berkembang pesatnya industri sepakbola. Dalam buku How Soccer Explains The World: An Unlikely Theory of Globalization, Franklin Foer menuliskan bahwa virus globalisasi telah merasuk kian dalam ke dunia sepakbola, dan faktor pride (kebanggaan/fanatisme) menjadi faktor ekonomi yang sangat menguntungkan bagi para kapitalis-kapitalis besar.
Kesimpulan
Modernisasi dalam sepakbola secara tidak langsung diikuti oleh
berkembangnya kapitalisme dalam ranah sepakbola. Seolah-olah menjadi
kapitalis adalah syarat mutlak untuk mengembangkan sebuah persepakbolaan
dalam negeri. Melihat realitas di lapangan, bukan tidak mungkin hal
diatas benar adanya. Karena ketika mengembangkan sepakbola tanpa
sokongan dana yang kuat tentu akan membuat sebuah badan, klub, atau
kompetisi menjadi rontok. Hanya saja kekhawatiran muncul ketika suporter
sepakbola dijadikan obyek untuk mengkapitalisasi sepakbola tadi, dimana
pada akhirnya suporter sepakbola juga yang dipermasalahkan.
Terkadang, berdasarkan perbincangan dengan kawan-kawan pemerhati
sepakbola nasional, kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di lapangan selalu
diawali orang orang yang tidak jelas siapa pelakunya. Sebagai contoh
ketika terjadi kerusuhan di Madiun, baik Aremania dan Laskar Sakera
(pendukung Persekabpas Pasuruan) tidak tahu menahu siapa yang memulai
melempari batu-batu ke arah penonton. Tetapi karena yang hadir di
stadion saat itu adalah Aremania dan Laskar Sakera, tentu pada akhirnya
bentrok fisik tidak dapat dihindari. Efek pasca kejadian hari itu adalah
banyaknya toko-toko yang tutup di Madiun, image PT Bentoel Arema Tbk juga tercoreng, dan entah mengapa beberapa hari sesudahnya media massa begitu laku di pasaran.
Begitu pula yang terjadi saat kerusuhan Bonek di Stadion Gelora 10
November di Surabaya beberapa tahun lalu. Dimana mau tidak mau Aremania
harus mengakui bahwa kemenangan PS Arema atas Persebaya Surabaya hari
itu cukup kontroversial, ada kesan wasit memihak Arema. Kemenangan 2-1
untuk Arema pun harus dibayar mahal dengan perusakan stadion dan
beberapa fasilitas umum beserta kendaraan pribadi oleh Bonek yang
menonton hari itu.
Begitu banyaknya tangan-tangan tak terlihat yang bermain-main diatas
konflik suporter tentunya harus diwaspadai oleh Aremania maupun Bonek.
Jangan sampai begitu banyak orang mati sia-sia saat pertempuran kedua
suporter tersebut ternyata hanya menjadi ‘mainan globalisasi’ oleh
segelintir orang yang ingin mengambil keuntungan didalamnya. Untuk
itulah perlunya melihat kembali sejarah konflik antar kedua elemen
suporter ini, supaya kejadian-kejadian negatif dapat diminimalisir dan
era baru yang lebih damai dapat tercipta.
Kultur masyarakat Jawa yang melingkupi konflik Aremania-Bonek
seharusnya bukan menjadi kambing hitam atas berbagai peristiwa yang
terjadi. Sudah seharusnya dua elemen suporter yang sudah dikenal akan
militansinya ini berdamai dan menciptakan suasana kondusif dalam
persepakbolaan nasional. Sudah saatnya baik Aremania maupun Bonek untuk
mendewasakan diri dengan melihat dari kacamata modernisasi dan
sportivitas dalam mendukung tim kesayangannya. Tidak ada salahnya Bonek
turut bergabung dalam usaha mewujudkan suporter Indonesia damai,
sehingga mampu membuat suasana stadion begitu damai dan orang tidak
perlu takut untuk menyaksikan secara langsung pertandingan sepakbola di
tanah air.
“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti
tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak
ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga
ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miskin, laki-laki
atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam
atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,”
Yuli Sumpil – Dirigen Aremania
Ayas sampaikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Cak Faris yang telah mengulas tuntas tentang judul ini.
AREMANIA: DARI LATAR BELAKANG HOOLIGANISME KE PARA SUPORTER SEPAKBOLA TELADAN
Oleh: John Psilopatis
Universitas Muhammadiyah Malang Bekerja sama ACICIS
Semester Februari-Juni 2002
BAB II Sejarah Aremania
A. Arema dan Arema Fans Club
PS Arema didirikan pada tanggal 11 Agustus 1987 oleh H. Acub Zaenal dan
Ir. Lucky Zaenal. Dari awalnya Arema klub swasta. Pada waktu Arema
berdiri Liga Indonesia dibagi dua: liga untuk klub semi-profesional
bernama Galatama dan Liga klub Perserikatan. Klub-klub Perserikatan
tergantung pada pemerintah daerah untuk dana. Sementara klub Galatama
tergantung pada sponsor swasta. Walaupun Arema belum pernah juara
selama zaman Ligina, Arema juara Galatama pada tahun 1993. Pada tahun
1994 klub semi-profesional digabungkan dengan klub Perserikatan untuk
menjadi Ligina.
Pada tahun 1988 yayasan Arema Fans Club (AFC) berdiri. Ketua
pertamanya adalah Ir. Lucky Zaenal. Pada awalnya ada 13 korwil. Setiap
korwil adalah pengurus hal suporter Arema di sebuah kampung atau daerah
di Malang (*Peran korwil akan dibicarakan secara lengkap di Bagian A,
BAB III). Di artikel `Aremania Junjung Sportivitas’ diterbitkan di
Bestari, no. 156, 2001 diceritakan bahwa menurut suporter Arema, AFC
itu sangat individual, yaitu berkaitan dengan hubungan antara suporter
dengan suporter lain. Akibatnya AFC terhadap kesulitan mendorong
kerukunan suporter. AFC pernah dianggap sebagai yayasan yang terlalu
ekslusif maupun kelas menengah untuk diterima oleh kebanyakan suporter
Arema. Sekitar tahun 1994 AFC dibubarkan. Menurut Lucky Zaenal itu
karena banyak kesibukan dan soal generasi. Walaupun keadaan tokoh-tokoh
AFC pasti mempengaruhi keruntuhan AFC, harus ditanyakan mengapa AFC
tidak diteruskan oleh kelompok atau orang baru. Mungin itu tidak
terjadi karena sudah jelas bahwa AFC tidak didukung oleh suporter.
Barangkali tokoh-tokoh AFC sadar pada fakta itu. Makanya mantan-tokoh
AFC langsung terlibat dalam proses mengembangkan nama dan simbol yang
akan mempersatukan suporter. Memang tidak semua inisiatip AFC gagal.
Harus diingatkan bahwa dengan AFC mulai sistem organisasi suporter yang
berdasarkan pada korwil. Korwil-korwil tidak hilang dengan kematian AFC
tetapi jumlahnya bertambah. Di samping itu AFC berdiri dalam konteks
keras yaitu pada waktu geng-geng pemuda Malang merupakan para suporter
B. Brutalisme ke Hooliganisme
Ada dua istilah yang dipakai untuk menggambarkan suporter yang tidak
sportif dan membuat kerusuhan: suporter brutal dan hooligan. Artinya
dua istilah hampir sama. Perbedaan antara dua istilah itu hanya soal
konteks. Istilah hooligan itu berasal di luar konteks Indonesia dan
bersifat perbandingan. Istilah suporter brutal lebih sering dipakai
dalam konteks Indonesia. Hooligan sama dengan suporter brutal karena
yang jelas kegiatannya berdasarkan pada egoisme buruk. Seorang hooligan
mau membuat kerusuhan dan kekerasan untuk membesarkan egonya. Seorang
hooligan tidak ikut pertandingan untuk menikmati sepak bola tetapi untuk
membuat kericuhan. Seorang Hooligan adalah musuh perkembangan sepak
bola apalagi komunitas suporter murni. Akhirnya kalau memakai contoh
suporter brutal Arema kelihatannya perbedaan antara dua istilah hanya
soal konteks.
Suporter Arema menjadi terkenal atas brutalisme antara waktu Arema
berdiri dan pertengahan tahun 1990-an. Ada kekerasan antara suporter
walaupun Arema menang atau kalah. Pada waktu itu beberapa geng pemuda
merupakan para suporter Arema. Setiap kampung memiliki geng sendiri.
Yang berikutnya adalah daftar nama geng-geng Malang sama tempat asalnya kalau ada:
Nama Geng Tempat Asal
Aregrek Sekitar Jl. Basuki Rachmat
Arnak (Armada Nakal) Sukun
Anker (Anak Keras) Jodipan
Argom (Armada Gombal) Kidul Dalem
Arpanja (Arek Panjaitan) Betek
Fanhalen (Federasi Anak Nakal Halangan) Celaket
(Sarang Anak Setan) -
Inggris Kasin
Jrot -
Ermera -
Saga (Sumbersari Anak Ganas) -
Geng-geng Malang dan tempat asalnya
Geng-geng ini membuat suasana menakutkan di stadion. Tempat
pertandingan menjadi kesempatan untuk geng-geng tersebut membuktikan
siapa yang paling keras. Persaingan keras antara geng-geng terjadi
walaupun semuanya medukung Arema. Jadi semua upaya untuk membuat
suporter Arema rukun dan kompak dihalangi. Tawuran terjadi antara
suporter Malang dan suporter dari luar tetapi juga di antara para
suporter Arema sendiri. Bentrokan tidak terjadi karena provokasi tetapi
disebab oleh suasana brutalisme ditimbulkan suporter Malang.
Masih diingatkan oleh supporter Arema (dengan malu) bahwa suporter
Malang brutal sebelum supoprter Surabaya menjadi brutal. Akhirnya, waktu
antara 1987 dan pertengahan tahun 1990-an suporter Arema membuktikan
bahwa mereka bisa mengimbangi egoisme Hooligan Inggris.
Suporter Malang menjadi terkenal sebagai Hooligan Indonesia. Sering
selama akhir 1980-an dan awal 1990-an sering ada tawuran antara
suporter Surabaya dan Malang. Sayangnya persaingan keras itu antara
Bonek dan suporter Arema sulit dibatasi. Di Surabaya orang dari Malang
diganggu dan kendaraan yang berplat N (plat Malang) dirusak.
Sementara di Malang kendaraan yang berplat L (plat Surabaya) mengalami
hal yang serupa. Pada tahun 1992 ada semacam sweeping’ menghadapi orang
yang berKTP Surabaya. Polisi terpaksa melakukan operasi untuk
menghentikan aski brutal itu. Akhirnya permusuhan berkembang antara
orang kedua kota Jawa Timur tersebut melainkan antara suporter saja.
Lagipula Bonek nama suporter Surabaya menjadi istilah berarti hooligan
Indonesia. Jadi kata bonek yaitu yang tidak pakai huruf besar artinya
hooligan walaupun Bonek itu berarti suporter Surabaya. Karena
persaingan keras itu sering Aremania dan Bonek dianggap sama saja.
Khususnya di luar Malang banyak orang yang bersikap bahwa Aremania
adalah bonek juga. Banyak orang tidak membedakan antaranya. Selama
tahun-tahun itu masyarakat Malang tutup jendela dan mengunci pintu kalau
ada pertandingan Arema. Sekarang suporter Arema telah benar-benar maju
tetapi terhadap peringatan masyarakat yang menganggap bahwa mereka
masih brutal.
C. AREMANIA muncul
Pada pertengahan tahun 1990-an geng-geng Malang mulai luntur. Sementara
itu istilah Aremania muncul sebagai nama para suporter Arema.
Sebetulnya dua fenomena tersebut merupakan perubahan total dalam budaya
pemuda Malang yang dikatalisasikan oleh beberapa tokoh.
Di artikel `Aremania Mengukir Sejarah Baru’ diterbitkan di Bestari, no.
156, 2001 Gus Nul mantan pelatih Arema menceritakan bahwa walaupun
kurang jelas dari mana istilah Aremania itu muncul, nama itu
mempersatukan suporter Arema. Secara psichologis persamaan dasar antara
Arema dan Aremania membuat suporter merasa bersatu. Kata Aremania bisa
dibagi Arema dan Mania. Aremania itu muncul secara spontan dari
suporter Malang yang mulai bosan dengan perkelahian geng-geng tersebut.
Ada beberapa alasan untuk perubahan itu.
Pertama-tama geng-geng mulai luntur karena soal generasi. Anggota geng
walaupun masih muda selama akhir 1980-an, di pertengahan 1990-an lebih
dewasa. Karena sudah lumayan tua mulai bosan dengan kegiatan geng.
Di samping itu, pada 1994 Ligina yang pertama dimulai dan PSSI mulai
mendorong sepak bola Indonesia menjadi lebih profesional. Pemain asing
mulai main untuk klub Indonesia. Itu termasuk upaya untuk menaikkan
kualitas liga sepak bola. Pemain asing pernah main untuk Arema. Pernah
ada pemain dari Afrika, Amerika Selatan, Korea Selatan dan juga
Australia. Dari semua ini yang paling terkenal ada pemain dari Negara
Chile bernama Rodriguez `Paco’ Rubio. Sekarang menurut suporter Malang
dia semacam pahlawan sepak bola Arema. `Paco’ Rubio menembus gol lawan
selama putaran Delapan Besar Ligina VI. Di samping itu, selama Ligina
VII ada pemain dari Afrika namanya Frank Bob Manuel yang dengan sayang
dipanggil `Bobby’ (selama Ligina VIII main untuk klub perserikatan
Malang Persema). Selama Ligina VIII Jaime Rojas (mantan pemain
Persema) juga berasal dari Chile masuk klub. Dengan berupaya ke
profesionalisme suporter mulai lebih tertarik pada permainan khususnya
karena impor pemain luar negeri. Juga ada pemain lokal yang menjadi
bintang. Misalnya Ahmad Junaedi selama Ligina VI tetapi setelah itu dia
pindah ke Persebaya dan menjadi musuh suporter fanatik. Akhirnya mau
kembali ke Arema dia ditolak oleh pengurus Arema. Daripada membeli
Junaedi lagi mereka memilih mendidik pemain muda berasal dari Jawa
Tengah bernama Johan Prasetyo. Johan Prasetyo telah menjadi bintang
Aremaa. Selain Prasetyo ada Aji Santoso, pemain yang berpengalaman itu
pernah main untuk TimNas Indonesia. Karirnya setelah di Arema ke
Persebaya dan kemudian ke PSM Makassar. Akhirnya main untuk Persema
sebelum main di Arema lagi. Dengan impor pemain asing dan perhatian
pada pemain profesional orang Indonesia, yang berkembang antara para
suporter Indonesia adalah minat pada sepak bola bukan fanatisme terhadap
klub saja.
Di artikel `Supporter Bergeser Jadi Football Minded’ diterbitkan di Jawa
Pos 9 Maret 2002 perubahan sikap suporter digambarkan. Ternyata bahwa
para penonton mulai memilih menonton pertandingan menurut suguhan
kualitas sepak bolanya. Yaitu penonton mulai memilih pertandingan
dengan lawan kualitas sepak bola tinggi. Barangkali suporter Indonesia
dipengaruhi tayangan sepak bola dari luar negeri. Suporter mulai
menuntut kualitas dari sepak bola Liga Indonesia.
Di samping itu perubahan suporter Malang didorong beberapa tokoh
perintis Aremania. Sebenarnya munculnya generasi geng dapat dicegah
karena upaya tokoh Aremania. Di artikel `Aremania Sebuah Gerakan
Rakyat’ diterbitkan di Kompas, 1 April 2002 diceritakan bahwa suporter
didorong oleh tokoh seperti Ovan Tobing, Lucky Zaenal, Iwan Eko Subekti
dan Leo Kailolo untuk menjadi suporter bersatu dan sportif. Pasti
mereka sadar bahwa suporter brutal akan merugikan PS Arema, dan kalau
klub Arema akan berusaha ke profesionalisme seharusnya suporter juga.
Tokoh yang tersebut membantu membangun simbol klub Arema yang telah
menjadi simbol suporter juga. Di artikel `Aremania junjung sportivitas’
diterbitkan di Bestari, no 156 2001 bahwa tokoh perintis ini
mengusulkan Aremania dijuluki `Macan Putih’ atau `Singa Putih’ karena
Arema berdiri pada 11 Agustus yang termasuk zodiak Leo. Kemudian secara
spontan ada orang antaranya yang teriak `edan’. Mungkin itu mucul dari
bagian belakang istilah Aremania yaitu `mania’. Kata `mania’ berarti
edan. Dari latar belakang nama Aremania dan simbol Singo Edan semacam
bahasa Malang berkembang. Kata-kata bahasa Indonesia dan bahasa Jawa
terbalik merupakan bahasa Malang atau fenomena Ngalaman. Misalnya Singo
Edan menjadi Ongis Nade dan Orang Malang menjadi Genaro Ngalam. Di
samping itu arek-arek Malang menjadi Kera-kera Ngalam. Surat kabar
Radar Malang itu Jawa Pos-nya Kera Ngalam. Sekitar pertengahan tahun
1990-an suporter Arema mulai berubah. Citra negatif terhadap suporter
Arema ada sampai sekarang tetapi selama beberapa tahun yang lalu
Aremania pernah diakui sebagai suporter Indonesia terbaik. Pada waktu
ribuan suporter ke Jakarta untuk putaran Delapan Besar Ligina VI Ketua
Umum PSSI Agum Gumelar terkesan oleh penampilan suporter Arema di
Stadion Senayan. Dia mengakui Aremania sebagai suporter kreatif,
sportif dan atraktif. Di samping itu PSSI pernah mengundang Yuli
Sugianto (dirigen suporter Arema) untuk mewakili suporter Indonesia.
Selama Ligina VII sering diakui oleh suporter klub lain sebagai guru
suporter lain. Pada Januari tahun 2001 di Tangerang, suporter
mengucapkan selamat datang kepada Aremania dan sesudah ada insiden
lemparan terhadap Aremania mereka mengucapkan termima kasih karena
Aremania tidak terpancing oleh oknum provokator Tangerang.
Pada Juli tahun itu diakui oleh suporter Solo sebagai `guru hebat’.
Lagipula kemajuan Aremania mempengaruhi keadaan di Malang. Selama waktu
Krismon, Malang tenang walaupun dimana-mana di Jawa telah kacau. Itu
karena pemuda Malang telah merasa bersatu sebagai Aremania dan tidak
ingin membuat kerusuhan di kotanya. Katanya ada suporter Solo yang
mengirim sepasang bh dan celana dalam perempuan ke Aremania agar
mengucapkan Aremania para penakut. Namun Aremania tidak mudah
dipancing. Yang jelas dalam lingkungan suporter sepak bola telah
dianggap maju dari masa dulunya. Lagipula mereka dianggap suporter di
Indonesia. Namun proses ini mulai lebih dari 5 tahun yang lalu dan
Aremania sampai tahun 2001 berjuang untuk menghapus sisa-sisa
brutalisme.
D. Sisa-sisa Brutalisme
Aremania tidak langsung berhasil dalam perjuangan untuk menghapus citra
suporter brutal. Sampai tahun 1999 ada bentrokan antara suporter di
Malang tetapi khususnya dengan Bonek. Keadaan kacau hampir tidak bisa
dicegah aparat keamanan. Persaingan keras antara suporter Malang dan
Surabaya terjadi selama ada kesempatan Arema melawan Persebaya.
Akibatnya di Malang suporter Surabaya harus dilarang masuk Malang supaya
mencegah insiden yang tidak diinginkan. Pengurus Arema pernah minta
pertandingan Arema versus Persebaya diadakan di luar Malang agar tidak
ada tawuran. Namun ini diprotes
Aremania yang menuntut bahwa pertandingan Arema tetap milik masyarakat
Malang. Namun tahun-tahun tersebut harus dibedakan dari zaman
geng-geng. Mungkin tahun-tahun yang berikut kelunturan geng-geng Malang
bisa dianggap sebagai waktu peralihan. Sampai tahun 2001 ada insiden
yang terjadi di luar Malang. Salah satu contoh konflik antara suporter
Malang dan Surabaya adalah tragedi Sidoarjo yang terjadi pada bulan Mei
tahun 2001.
Tragedi Sidoarjo: Pada Ligina VII Aremania mendukung tim
kesayangannya di pertandingan away. Arema melawan Gelora Putra Delta
(GPD) di Sidoarjo. Soalnya tiga kelompok suporter mucul di stadion
Delta: Deltamania, Aremania dan Bonek. Karena jarak antara Surabaya dan
Sidoarjo jumlah sedikit suporter Surabaya datang untuk menjenkelkan
suporter Arema. Tiga kelompok ini dibagi supaya tidak ada bentrokan.
Aremania menempati sektor utara sementara Bonek dan Deltamania ada di
tribun VIP. Pertama-tama sebelum pertandingan mulai sekitar jam 14. 15
ada lemparan batu dari luar stadion. Dua suporter Arema terluka dan
Aremania menuntut bahwa tempat di luar stadion khususnya sekitar sektor
utara diamankan. Di samping itu Aremania dimarahkan kabar bahwa dua
mobil Aremania dirusak. Pada jam 15.10 lemparan batu antara sektor
utara dan tribun timur mulai. Polisi terhadap kesulitan membatasi
lemparan karena Bonek dapat sumber batu dari luar stadion. Pada jam
16.00 pertandingan sepak bola dimulai. Pada jam 16.20 aparat keamanan
megeluarkan tembakan peringatan untuk menghentikan lemparan. Pada menit
ke-29 pertandingan harus dihentikan karena suporter masuk lapangan dan
kerusuhan mulai terjadi di luar stadion. Aremania harus dievakuasi oleh
aparat keamanan. Akhirnya 15 orang terluka, 7 mobil dan 2 sepeda motor
dirusak. Juga stadion Delta dihancur dari aksi lemparan dan bentrokan
yang berikutnya. Reaksi Aremania penuh dengan kesedihan terhadap
tragedi Sidoarjo. Para suporter Arema merasa mereka salah dipersalahkan
untuk tragedi Sidoarjo walaupun Bonek adalah provokator. Pak Marheis
salah satu korwil Aremania yang dianggap oleh sebagian suporter sebagai
tokoh yang memperbolehkan ketertiban antara korwil-korwil tidak bisa
menahan tangisnya setelah insiden Sidoarjo. Ovan Tobing seorang
perintis Aremania setelah tragedi itu berpendapat bahwa tragedi di
Sidoarjo merupakan pelajaran untuk PSSI. Pada waktu Arema main di
Malang Aremania membawa spanduk yang protes disalahkan atas kejadian di
Sidoarjo. Sayangnya bahwa insiden seperti itu menegaskan citra Aremania
sebagai suporter brutal karena dalam insiden itu Aremania sebetulnya di
kedudukan sulit. Pertama-tama mereka dilempari dari luar stadion.
Lagipula mereka terhadap Bonek yang siap dengan sumber batu dari luar
stadion.
Aremania diserang di Jogja: Selain masalah Bonek ada kelompok lain
yang iri pada Aremania jadi mencoba memancingnya. Pada bulan Oktober
tahun 2001 Aremania diundang ke pertandingan di Jogjakarta. Di Jogja
Aremania diserang oleh Brajamusti (supporter PSIM). Seperti di Sidoarjo
ada lemparan batu dari luar stadion. Aremania terpaksa masuk lapangan
untuk menghindari lemparan dari luar stadion. Dan Aremania sempat
terkurung di stadion, karena hampir seluruh penjuru stadion sudah di
kepung oleh Brajamusti yang membawa berbagai alat sajam. Tragedi ini
berakhir setelah waktu itu Sri Sultan Hamengkubuwono datang ke stadion
untuk menenangkan para supporter Jogja untuk menyuruh mereka m[ulang dan
menghentikan aksinya, serta tak lupa Sultan juga memberikan bungkusan
nasi kepada Aremania yang masih terkurung di dalam stadion. Selanjutnya
di upayakan evakuasi sampai batas kota Jogja. Pertandingan dihentikan
dan harus dimain hari berikutnya di tempat yang dirahasiakan. Slemania,
para suporter Sleman pada umumnya sangat malu pada penyerangan itu.
Mereka mulai menyanyi dengan gaya Aremania:
Maaf Maaf Maaf Aremania
Maafkan kami atas kejadian ini
Pada umumnya ada persahabatan antara Aremania dan para suporter lain
tetapi kadang-kadang ada oknum kelompok yang mencoba memancing
Aremania. Dan jarang Aremania terpancing dengan mudah. Selama Ligina
VIII tidak ada masalah bentrokan kalau suporter lain datang ke Malang.
Aremania membuktikan bahwa telah sportif. Supporter apalagi pemain saja
butuh sportivitas. Setelah kejadian seperti di Jogja, Aremania
berjanji mereka tidak akan membalas dendam kalau suporter Sleman datang
ke Malang. Korwil Cilewung juga mendorong Aremania untuk tidak membalas
dendam Bonek. Dia sadar bahwa kalau membalas dendam pasti tidak akan
dibedakan dari Bonek. Harus diakui walaupun lama berjuang dengan
sisa-sisa brutalisme Aremania telah agak berhasil dalam tugasnya.
Suporter Arema bersemangat kepada tim kesayangannya tetapi juga
kepada negara Republik Indonesia. Dengan kompak suporter Arema sebelum
permulaian pertandingan menyanyi lagu nasionalis `Padamu Negeri'. Lagu
itu dinyanyi suporter dengan bangga. Nasionalisme merupakan salah satu
aspek dasar suporter Arema. Aremania mendukung Arema tetapi akhirnya
semua maupun suporter tim lawan bersaudara. Malang aman karena
persaudaraan itu. Lagipula Malang lepas daripada masalah pertentangan
kesukuan atau konflik agama yang timbul di mana-mana di Indonesia.
Aremania berpendapat bahwa kalau Malang bisa begitu rukun, mengapa
negara Indonesia belum bisa seperti itu? Yang jelas persatuan Aremania
muncul secara alami dan karena itu ada sikap positif terhadap persatuan
negara Indonesia.
[SALAM 1 JIWA]
by.http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/field_topics/john.doc
source : http://www.mail-archive.com/radioliner@yahoogroups.com/msg00903.html
FOLLOWER
Sample Text
INFO Bermanfaat
--------AREMANIA UNEJ----------
Entri Populer
-
Kematian adalah sebuah hal yang pasti dilalui setiap makhluk hidup yang ada didunia ini.Kematian bukan juga hal yang perlu ditakuti,Tapi hen...
-
Aremania menjadi barometer kreasi suporter yang ada di Indonesia. Pernyataan tersebut memang tidak berlebihan. Bisa dilihat dari pertandi...
-
Ciri-ciri Gejala Penyakit Jantung Dan Tips Cara Mencegah Sakit Jantung Juga Bagaimana Cara Mengobati/Pengobatan Secara Alami atau Tradisio...
-
kegiatan menghitung struktur bangunan membutuhkan kesabaran, ketelitian, serta pengetahuan struktur bangunan yang baik sehingga dapat diha...
-
saya mau berbagi ilmu tentang cara membobol password admin / user buat di Windows XP maupun Windows 7.Yg agan butuhin buat ngehack cuma 1 ba...
-
Masih ingat ketajaman Michael Owen ketika di Liverpool? Atau ketangguhan Iker Casilas di mistar gawang Real Madrid? Talenta-talenta terseb...
-
Siapa yang tidak kenal dengan istilah Jalur Gaza? itu adalah daerah dimana tempat para pejuang muslim Palestina berjuang untuk mendapatk...
-
Software teknik sipil sangat berguna untuk mempermudah pekerjaan rancang desain bangunan sehingga dapat menghemat penggunaan pikiran, wak...
-
Buat mas mas,om om,mbak - mbak dan tante-tante,kita hidup didunia ini tentunya gak ingin penyakitan kan?apa lagi dengan jadwal yang padat.In...
-
Kalah 1-0 atas PS Barito Putera Minggu lalu (20/1) menodai hasil sempurna dua laga awal Arema ISL . Arema ISL masih optimis meraih jua...
Translate