Tampilkan postingan dengan label Info Arema. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Arema. Tampilkan semua postingan

Arema Noise - Suara Bising Untuk Mendukung Arema

Ditulis Oleh WeAremania     
 
http://wearemania.net/images/berita/2011_02/2010_02_15_aremanoise_1.jpg


Wearemania.net - Arema Noise yang identik dengan kebisingan ternyata mampu membuat kebisingan menjadi sebuah alunan musik yang enak didengar

Dalam suatu pertandingan sepak bola sebuah klub takkan lepas dari suporter yang selalu setia mendukung timnya ketika bertanding, dengan segala kreatifitasnya Aremania selalu menyanyikan lagu lagu yang disertai dengan alunan genderang musik untuk memberikan suntikan spirit bagi pemain pemain Arema Indonesia.

Setiap kali kita melihat pertandingan Arema Indonesia baik langsung distadion maupun ketika ditayangkan di televisi pasti kita sering mendengar nyanyian - nyanyian yang sering dinyanyikan para supporter Aremania untuk memberikan suntikan spirit bagi pemain Arema Indonesia.


Nyanyian yang sering dinyanyikan oleh Aremania sangat kompak apalagi diiringi dengan gerakan gerakan yang atraktif serta hentakan sner dan bass drum layaknya 1 kompi prajurit yang mau berperang sehingga sebagian dari kita yang mendengar dan melihat bisa terhipnotis oleh semua itu.

Alunan serta hentakan sner dan bass drum yang berirama mengikuti komando dari sang dirijen bisa memberikan semangat tersendiri bagi suporter dan pemain yang bertanding, seperti yang dilakukan salah satu suporter Aremania yang menamakan dirinya Arema Noise.



Arema Noise pertama kali berdiri pada 8 Januari 2009 dan terbentuk dari sekumpulan pecinta musik rock yang ingin memberikan support terhadap tim kesayangannya Arema Indonesia melalui musik ketika bertanding. Nama Arema Noise sendiri identik dengan kebisingan namun kebisingan itu oleh Arema Noise mampu dibuat alunan musik yang enak didengar.

Ketika mendukung timnya Arema Indonesia bertanding di stadion Kanjuruhan Arema Noise selalu menempati tribun papan score dan berdampingan dengan Aremania 87 untuk memberikan irama ketika para suporter Aremania memulai menyayikan lagu lagu yang bisa memberikan support para pemain.

Dengan segala kreatifitas yang ditunjukkan oleh para suporter Aremania seperti Arema Noise tetap selalu ada dan loyalitas tanpa batas untuk selalu mendukung Arema Indonesia. Salam Satu Jiwa, Arema Indonesia!!! (fiky)

Read more


Profil Aremania Bogor Berkarakter

Ditulis Oleh WeAremania     
 
http://wearemania.net/images/berita/2011_02/2011_02_26_aremania_bogor_1.jpg

Wearemania.net - Bukan Arema dimana yang pasti Aremania mendukung dimanapun Arema berlaga..kata sam Arief

Memang benar Arema tidak kemana-mana tapi ada di mana-mana termasuk aremania yang berada di kota hujan bogor. Aremania Bogor Berkarakter begitulah mereka manamakan diri, mulai resmi tebentuk tanggal 26 Mei 2010 yang ditandai dengan tour Batavia waktu arema juara liga Indonesia 30 mei 2010.

Aremania bogor merupakan kumpulan anak-anak malang yang bekerja di bogor yang senang dengan sepak bola jumlah terdaftar sampai saat ini kurang lebih 50 orang yang berasal dari Tumpang, Celaket, Poncokusumo, Bululawang dan tempat lain. Ada juga anak-anak dari bogor sendiri selain juga luar Malang seperti Jember, Blitar Padang dan Purbalingga, mereka ikut dalam wadah Aremania Bogor karena mereka senang melihat kekompakan arek malang dalam berteman dan sportif.

Kegiatan yang rutin diadakan adalah pertemuan bulanan, tabungan untuk mudik, futsal dan ada acara khusus seperti tour, sahur on the road waktu bulan puasa. Sampai saat ini stuktur kepengurusanya belum ada karena mereka dalam paguyubpan ini punya motto satu rasa satu kata sehingga diharapkan nantinya kalau ada acaraacara yang diadakan aremania bogor ini tidak saling melempar tanggung jawab semua dikerjakan bersama-sama.


Untuk sementara base camp aremania bogor di rumah Mas Bram yang berasal dari blitar di Cluster Cimanggu Hijau, kadang juga berkumpul di Sam Rudi di Patiasri juga kadang di rumah bakso Tahes di jalan Pajajaran Bogor.

Waktu piala AFF kemarin aremania bogor selalu aktif menonton untuk memberikan suport kepada timnas karena disitu ada pemain arema, ada juga cerita kurang mengenakkan waktu aremania tour Batavia tanggal 9 januari 2011 rombongan aremania bogor waktu pulang angkutan umum yang ditumpangi di rusak oleh anak bogor yang mendukung persib bandung atau Viking.


Harapan Aremania bogor kepada tim arema semoga tetap eksis di liga Indonesia, kalau saat ini arema ikut LPI ya rugi karena saat ini LPI belum jelas juaranya akan mewakili Indonesia ke mana dan LPI tidak ada tim yang degradasi. Dan harapan terhadap aremania mari kita dukung tim arema dengan sportifitas yang tinggi tanpa anarki. Di kesempatan itu juga Tabloid Singo Edan juga dikenalkan dengan aremania bogor ada sam Idur, Arief, Okim, Ical, Bram dan masih banyak lagi yang ikut nimbrung di rumah sam Bram.
Selamat buat aremania Bogor teruslah berkreasi untuk mendukung tim AREMA SALAM SATU JIWA. ( Hans )

Read more


Stadion di Inggris Tanpa Pagar, Di Indonesia kenapa tidak bisa ya?



Dulu, stadion Inggris sama saja seperti stadion manapun. Menurut FIFA, harus ada pagar pembatas. Apalagi kalau mau dipakai buat hajatan besar dan resmi. Tapi Inggris kepentok masalah di tahun 1985.
Gara-garanya suporter Liverpool bikin rusuh di Belgia sewaktu final Liga Champions lawan Juventus. Soal ini bisa baca Tragedi Heysel.


Kalian pasti sudah tahu dengan kerusuhan yang dilakukan supporter Liverpool di Belgia sewaktu final Liga Champions lawan Juventus. Kerusuhan yang terjadi 29 Mei 1985 yang kemudian dikenal dengan Tragedi Heysel ini memakan korban jiwa 39 orang. Tragedi tersebut berdampak besar bagi sepakbola Eropa.
Ada kesalahan tentu ada sanksi. Soal kerusuhan, Eropa paling tegas. UEFA akhirnya melarang Liverpool main di Eropa selama 5 tahun. Eh uniknya, FA Inggris malah ikut nambahi hukuman. Bukan cuma Liverpool, tapi semua klub Inggris nggak boleh main di luar Inggris selama 5 tahun! Yang saya salut, nggak ada protes.
“Lho Liverpool yang salah, kok gue kena getahnya?” Semua pasrah. Ulah fans Liverpool (yang mabuk berat dan berkategori hooligans) benar-benar menampar muka sepakbola Inggris. Mereka sepakat introspeksi.
Hukuman FA nggak berhenti di situ. Ada banyak perubahan parameter keamanan lainnya.
Yang paling mencolok adalah menghilangkan pagar pembatas tribun penonton dan lapangan serta nggak boleh lagi ada tribun kelas berdiri (tanpa kursi) di seantero negeri. Di Eropa, setahu saya cuma Inggris Raya yang nggak menjual tiket tanpa kursi. Ini paling sering diprotes banyak blogger bola dari Inggris. Jelas banyak yang sewot karena tiket berdiri harganya murah meriah. Mirip tiket kereta ekonomi Perumka yang nggak ada nomor bangkunya itu. ;)
Tapi buat FA, kelas suporter berdiri justru pusatnya biang kerok. Jadi, sekarang ini semua stadion di Inggris tanpa pagar dan tidak menjual tiket bernomor kursi.
FA sempat dicap gila oleh publik. Ada pagar saja rusuh, apalagi ompong melompong?
Tapi FA memang organisasi berpengalaman. Ide mereka ternyata berhasil. Penghilangan pagar pembatas justru membuat dewasa suporter Inggris. FA juga bikin aturan buat mencatat identitas penonton yang masuk stadion. Sekali bikin rusuh, si suporter bakal di-bannedmasuk stadion di seluruh Inggris. Bahkan biasanya juga dikirim tembusan ke Eropa. Di dalam stadion juga nggak boleh terlihat pasukan polisi alias harus menyamar. Indikator sebuah pertandingan tertentu aman atau enggak, juga bisa dilihat dari jumlah aparat keamanan di stadion. Contoh nyata ada di sepakbola kita. :D
Balik ke soal stadion. Pasti nggak mungkin sepakbola Inggris adem ayem saja. Sebelum insiden itu, juga ada beberapa tawuran suporter. Dulu ada kasus “tendangan kung fu” Eric Cantona kepada suporter Crystal Palace di pinggir lapangan. Cuma, insiden kekerasan di sana bukan lagi kebiasaan atau tradisi. Suporter Inggris yang dulu sering bikin orang resah, sekarang justru relatif lebih santun. Bandingkan dengan tarkam Liga Indonesia.
Saya kadang berpikir, jika Inggris sukses dengan cara itu, apakah bola Indonesia juga bisa? Ayas cuman menjawab, mugo mugo ae iso.
Salam Saoe Jiwa

source : http://junedoyisam.wordpress.com/2012/03/24/stadion-di-inggris-tanpa-pagar-koq-iso-ya/

Read more


Profil Aremania Kupang

Wearemania.net - Kota Kupang adalah ibu kota propinsi Nusa Tenggara Timur. Kota yang mungkin masih kalah ramai di bandingkan dengan Kota Wisata Batu sekalipun. Awalnya asing dengan nama kota ini. Saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini pada tahun 2008, hanya ada 5 orang Malang yang ku kenal. Mereka adalah Nugroho, Setyo Hadi, Nurwiga Andi w, M ishak al Bashori dan istrinya. Itupun mereka satu tempat kerja denganku. Hari-hari kujalani hanya dengan mereka serta orang-orang di tempat kerjaku.
Tak jauh dari tempat kami, ada depot bakso Arema. Sayang, di kota yang notabene sebagai ibu kota sebuah propinsi ini, hanya ada 4 TV swasta yang membangun stasiun pembantu/pemancar. ANTV sebagai satu-satunya stasiun TV yang menayangkan ISL tidak ada di kota ini. Kecuali bagi mereka yang mempunyai parabola.

Sudah menjadi hal umum bahwa sebagai arek-arek Malang, kami juga Aremania. Kaos, syal, sticker AREMA pasti masing-masing dari kami memiliki. Kecintaanku pada AREMA, kuwujudkan dengan selalu memakai kaos AREMA kemanapun kupergi di kota ini kecuali pada saat jam kerja. Tapi sayang, karena tidak punya parabola, kami kesulitan nonton bareng saat pertandingan Arema di tayangkan langsung oleh ANTV. Sehingga sering kali kami hanya bisa update score dari media online.
Pernah sekali waktu saat Arema sedang bertanding, aku dan Nugroho sok akrab mendatangi depot bakso Arema, bermaksud dapat melihat pertandingan, ternyata kami malah mendengar keluhan ( di ndi ki ker osi tail AREMA neam ?) kata mereka. Semangkuk Bakso telah habis dan kami pun pulang ke kost dengan wajah murung dan kecewa karena tak dapat menyaksikan pertandingan AREMA. Kami baru bisa nonton bareng saat di kantor kedatangan tamu dari cabang Surabaya. Kamar hotel tempat tamu menginap menjadi ajang nonton bareng. Kami sangat tertolong karena tamu kantor biasanya bisa tinggal lebih dari sebulan. Sam Dimas Yudo Bramantyo mantan drummer Arema Voice juga pernah ikut nonton bareng saat Dia bertugas sementara di BII kota Kupang.

Suatu hari, aku, Nugroho dan Hadi sedang duduk-duduk di plataran Flobamora Mall. Satu-satunya Mal yang ada di NTT. Tiba-tiba aku melihat seseorang memakai kaos putih bergambar besar Logo AREMA. Tanpa sungkan-sungkan aku pun menyapa dia. Melihat aku juga memakai kaos AREMA, dia pun menyambut dengan senyuman. Saat itu kami langsung akrab. Dia adalah Eko anak Batu dan Catur anak banyuwangi yang sama sama terdampar di kota Kupang (Eko sekarang jadi salah satu dedengkot AREMANIA KUPANG). Sejak saat itu kami tak bingung lagi menonton pertandingan AREMA. karena bisa menonton kapanpun AREMA bertanding di tempat Eko. Aku lantas berfikir bahwa sebenarnya banyak orang Malang yang tinggal di Kupang. Timbulah sebuah ide untuk membuat sebuah acara untuk mengumpulkan orang-orang Malang di Kupang. Ide ku disambut dengan hangat oleh Nugroho, Bashori dan Eko lewat sebuah obrolan yang berakhir dengan rencana serius mengadakan sebuah acara.

Dengan nada optimis dan ciri khas SPIRIT AREMA kami pun mulai membuat stiker dan undangan. Teman-teman yang lain mulai promo on air di radio-radio lokal kota Kupang dengan judul TEMU KANGEN WARGA MALANG RAYA. Semula acara akan di adakan tepat dengan hari ulang tahun arema 11 Agustus 2008 yang akhirnya mundur jadi tanggal 13 Agustus 2008. Tepat pada tanggal 13 Agustus 2009 acara terlaksana dengan memuaskan. 37 orang Malang hadir dalam acara itu. Setelah pertemuan itu, setiap dari kami melihat orang memakai kaos Arema, tanpa sungkan kami akan mengejar dan meminta nomer HP untuk di hubungi saat akan ada pertemuan. Tiap ada informasi tempat orang Malang berada, kamipun langsung menuju sasaran dengan jurus sok kenal sok dekat. Tak heran kalau kadang banyak orang yang takut dan salah paham ketika kami kejar. Kami pun sering juga salah sasaran. Sering kami kira orang Malang karena berbaju Arema, ternyata orang lokal yang nggak ngerti bahasa Jawa.

Beberapa dari kami, Nugroho, Bashori, Hadi dan Wiga ditarik kembali ke cabang Surabaya. Pendiri aremania Kupang tinggal aku dan Eko. Kegiatan-kegiatan bertema sosial, nonton bareng dengan layar lebar, nongkrong tiap malam minggu serta futsal setiap hari minggu rutin dilaksanakan sehingga nama Aremania Kupang semakin di kenal di kota Kupang. Anggota semakin banyak dan berasal dari berbagai macam kalangan. Penjual basho, pedagang, mekanik, karyawan, farmasi, wiraswasta, sales, polisi, tentara, dosen,pegawai negri bahkan kepala Koramil Kota Kupang yang membuat persaudaraan ini semakin solid walaupun jauh dari kampung halaman. Tercatat sudah lebih dari 200 orang Malang di Kota Kupang. Tak hanya orang Malang, namun ada juga orang Jogja, Palembang,Surabaya, Kendari, Mojokerto, Banyuwangi, serta Lamongan yang terdaftar sebagai anggota Aremania Kupang. Dan juara ISL 09/10 merupakan kado istimewa bagi ultah ke-1 Aremania Kupang tahun 2010 kemaren. Yang membuat kami semakin bangga selalu berbaju Arema di kota Kupang ini.

1 Tahun Aremania Kupang 8 Agustus 2010
Semakin banyak anggota, jiwa wiraswastaku terpancing. Tercatat lebih dari 150 kaos dan beberapa atribut Arema yang kubawa dari Malang laku terjual. Pesanan semakin bertambah sehingga aku dan teman-teman memutuskan untuk membuat kaos serta kemeja Aremania Kupang.

Aremania Kupang mulai dikenal lewat dunia maya. Lewat facebook, Agung Hartadi sebagai salah satu aktivis Aremania kupang bersama Arema Senayan bahkan sempat mengadakan halal bihalal Aremania perantauan. Sudah 2 edisi lebaran mereka adakan. tahun 2010 dan 2011 kemaren. Kedua edisi tersebut selalu bertempat di food court MOG. Untuk edisi 2011 kemaren di hadiri juga oleh sam Ade Dcross yang membagikan undangan HALAL BIHALAL AREMA SE INDONESIA (kongres arema). Ada juga Andre aka Brigandine lionheart yang merupakan salah satu admin di Aremania facebook yang juga pernah berada di Kupang. Beberapa dari kami (eko, andre dan aku) hadir di acara HALAL BIHALAL AREMA SEINDONESIA. Di dalam GOR Ken Arok, terlihat hanya kami yang memasang bendera pada saat kongres berlangsung. Dan bendera itupun langsung di serbu sebagai background foto oleh Aremania yang lain.

Aremania di Nusa Tenggara Timur bukan Cuma ada di Kota kupang, namun di pulau-pulau lain yang pernah aku datangi juga kujumpai Aremania. AREMA TIDAK KEMANA-MANA NAMUN ADA DI MANA-MANA. Dimanapun Aremania berada, pasti selalu merindukan AREMA dan Bhumi Arema. Tak peduli siapa, bagaimana pengurus dan pengelola AREMA, kami yakin AREMA akan selalu hidup dan menjadi Juara-juara lagi di kompetisi-kompetisi berikutnya. Auman Singo Edan akan selalu menebarkan SPIRIT AREMA'' dimanapun Arek Malang berada. Semoga catatan ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi di daerah lain yang belum ada korwil Arema namun berpotensi untuk mendirikanya. Terimakasih kepada Aremania aremania di Malang dan di kota-kota lain yang telah menjadi inspirasi bagi kami. Terimakasih juga kepada www.wearemania.net selalu menampilkan berita ter update yang membuat saya tidak pernah terlewat info-info tentang AREMA.Pergilah Dualisme-dualisme yang meracuni hati kita. terimalah semua dengan lapang dada. solidaritas bagaikan sapu lidi yang tak terurai.

SATUKAN HATI SATUKAN TEKAD DAN KOBARKAN SEMANGAT!!!! SALAM SATU JIWA (Spesial By RUDYCOOL AREMANIA)

FOTO KEGIATAN AREMANIA KUPANG

2 Tahun Aremania Kupang, Berbagi Dengan Anak Yatim

Bandara El Tari Kupang, Jakarta Kami Datang.....

Bendera Aremania Kupang di GBK 2010

Bersama cak Mat Banteng di GOR Ken Arok

Deklarasi Aremania Kupang

Read more


Refleksi 16 Januari

Wearemania.net - 
 
16 Januari 2008, sore hari mendung disertai hujan gerimis di kota Kediri menambah suasana magis di hari pertandingan perdana Babak 8 Besar antara Arema vs Persiwa dimana pada akhirnya terjadilah peristiwa besar yang kami kenal dengan "Tragedi Brawijaya Obong". Sebuah tonggak awal untuk sebuah pergerakan memperbaiki kualitas sepak bola negeri ini yang dikenal dengan Revolusi PSSI.

Bagi kami, peristiwa itu adalah patokan kilometer nol untuk memulai sebuah pergerakan/revolusi yang kami mulai dari dalam diri kami sendiri dan dari komunitas kami sendiri. Revolusi kebangkitan dari caci maki dan degradasi moral pasca teracuni oleh puja-puji atas sebuah penghormatan tertinggi.
16 Januari 2011, 3 hari pasca tragedi penyerangan kereta api yang ditumpangi Aremania di Kediri setelah mendukung Arema pada pertandingan melawan Persija. Tanggal dimana kami disibukkan untuk mengumpulkan dokumentasi atas fakta yang terjadi di lapangan dan saat itulah kami jadikan sebagai sebuah tonggak perlawanan kami atas sebuah tindakan anarki yang melekat dalam dunia suporter bola negeri ini, berikut dengan bumbu segala macam provokasi penebar benci. Maka dimulailah revolusi mulai dari diri sendiri dan dari komunitas kami sendiri untuk membangkitkan hingar-bingar kemeriahan dukungan Aremania yang mulai menurun kualitasnya. Dan kami pun mulai memikirkan konsep dukungan penuh kreativitas dan sportivitas yang sudah menjadi dasar Aremania.
16 Januari 2012, sebuah tanggal di musim terberat Arema dengan tajuk dualisme yang sudah menjadikan Arema sebagai komoditi berita sepak bola negeri. Dualisme Arema yang menjadi simbol sebagai gambaran adanya dualisme liga yang ada di negeri ini. Di tanggal ini, sebuah harapan akan kami apungkan agar segala permasalahan yang terjadi di tubuh Arema segera terselesaikan dengan cara arek-arek Malang, dengan demokrasi ala Aremania. Meskipun kami tahu bahwa hukum dan keadilan, legalitas dan legitimasi bisa kalian permainkan dan bisa dimiliki oleh orang-orang yang punya harta, kedudukan, dan jabatan. Akan tetapi bagi kami rakyat biasa yang disebut Aremania, yang kami punya hanya SATU JIWA.
Jangan rampas satu jiwa yang menjadi kebanggaan kami, kembalikan ke pada kami di tempat yang semestinya. Api yang membawa simbol kerusuhan sudah kami ganti dengan api kobaran semangat untuk selalu mendukung kebanggaan kami, jadi kami mohon kembalikan rasa-rasa yang hilang karena tragedi ini, biarkan kami rasakan kembali rasa senang ketika menang dan rasa susah ketika kalah. Jangan biarkan kami mati rasa dan jangan TABUkan demokrasi kami!
-here we are-

AREMANIA KEDIRI

source : http://www.wearemania.net/aremania/korwil-aremania/1434-refleksi-16-januari

Read more


Aremania, Arti Sebuah Nama

Aremania
 “Arema are more than just a football club. They are a way of life. They are the St. Pauli of Indonesia. A culture with in a culture. Satu Jiwa, one heart or one soul”
 Sepenggal kalimat diatas ditulis oleh Anthony Sutton, seorang jurnalis ESPN setelah meliput pertandingan Persija Jakarta vs Arema Indonesia di Stadion Gelora Bung Karno pada Mei 2010. Membandingkan kota Malang dengan kota-kota lain yang ada di Indonesia, kota ini memiliki citarasa tersendiri bagi para penikmat sepakbola: tidak hanya permainan keras dan lugas, tetapi juga suguhan kreatifitas dari pendukungnya. Saat Arema bertanding, nuansa kota Malang berubah, seolah ada perayaan besar disana, sehingga dalam satu hari semua orang menggunakan atribut bernuansa biru-biru Arema. Walaupun laga baru dimulai pada sore hari, sejak pagi kesibukan akan persiapan menonton pertandingan Arema terlihat di berbagai sudut kota Malang.

Apabila anda berkeliling kota Malang pada pagi hari, anda akan melihat ada orang-orang yang memakai atribut biru khas Arema sedang mencari tiket, menjual tiket, mencari tumpangan, dan berbagai kegiatan lain yang berhubungan dengan pertandingan Arema di sore hari. Memasuki siang hari, nuansa biru Arema di kota Malang semakin terasa. Aremania mulai berdatangan dari berbagai penjuru kota Malang menuju Stadion Kanjuruhan yang terletak di sudut selatan Kabupaten Malang. Ada Aremania yang datang sendiri, ada yang bersama keluarga atau teman-teman, bahkan ada juga yang konvoi bersama sembari menabuh sner-drum dan bass-drum, sambil menyanyikan yel-yel dukungan terhadap Arema, dan mengibarkan bendera-bendera bergambar singa yang dibalut background warna biru-putih. Penulis masih ingat, kala Arema masih bertanding di Stadion Gajayana, untuk masuk ke dalam stadion haruslah sebelum jam dua siang, padahal pertandingan baru dimulai pukul empat sore. Bisa dipastikan sejak pukul dua siang stadion sudah hampir terisi penuh, sehingga agak sulit mencari tempat yang nyaman untuk menonton Arema.

Arema dan Aremania tidak hanya sekedar menjadi fanatisme terhadap klub sepakbola saja, tetapi juga terdapat identitas kebanggaan di dalamnya. Bagi orang Malang yang merantau, menyebut diri sebagaiarema atau arek Malang menjadi kebanggaan tersendiri. Kebanggaan menyebut diri sebagai arematidak hanya dialami oleh mereka yang menggemari sepakbola (khususnya suporter Arema Malang), tetapi juga dirasakan oleh mereka yang tidak suka sepakbola sekalipun. Uniknya, bagi mereka yang membuka usaha di berbagai bidang, juga menggunakan identitas arema sebagai identitas usahanya. Sehingga jangan heran apabila ada “Warung Makan Arema”, “Bakso Arema”, “Toko Mebel Arema”, “Kripik Singkong Arema”, dan lainnya.

Arema, Solusi Masalah Geng Pemuda
Sejak tahun 1970-an, geng-geng pemuda bermunculan di berbagai kota besar di Indonesia, tak terkecuali di Malang dan Surabaya. Kelompok geng pemuda di Jawa Timur terpusat pada dua kota yang selalu bersaing dalam segala hal: Malang dan Surabaya. Kera Ngalam tidak akan pernah mau mengalah dengan arek Suroboyo. Manifestasi dari persaingan ini diwujudkan dalam berbagai hal, terutama di bidang balapan, musik, dan tinju. Dalam pengakuannya, Lucky Acub Zaenal yang dulu dikenal sebagai atlet balap nasional mengaku tidak pernah mau kalah dari pembalap Surabaya. Begitu juga dalam bermusik, pernah suatu hari konser Slank di Stadion Tambaksari Surabaya berujung kerusuhan yang melibatkan arek Malang dengan arek Suroboyo. Setiap kali terdapat kerusuhan besar, baik di Malang maupun Surabaya, selalu saja melibatkan dua kelompok pemuda dari masing-masing kota.

Geng pemuda yang ada di Malang memiliki basis wilayah yang tersebar di berbagai sudut kota. Saat itu muncul nama-nama geng seperti Argom (Armada Gombal, asal Kidul Dalem), Fanhalen (Federasi Anak Nakal Halangan, asal Celaket), Saga (Sumbersari Anak Ganas, asal Sumbersari), Arpanja (Arek Panjaitan, asal Betek), dan lainnya. Arek-arek Malang ini tampil dengan mewakili asal wilayah dimana ia tinggal, sehingga loyalitas akan kelompok wilayah dan egoisme yang berbalut identitas wilayah masing-masing kerap menjadi pemicu tawuran antar kelompok pemuda di Malang. Area pertarungan pemuda pun menyebar di berbagai sudut kota Malang, beberapa yang tempat yang terkenal antara lain: Bioskop Jl. Kelud, Alun-alun Kota, Stadion Gajayana, dan Pujasera Pulosari.

Generasi muda di Malang saat itu kebanyakan pengangguran yang tidak memiliki penyaluran potensi dan energi berlebih. Banyak dari mereka hanya berkegiatan seperti mengamen, menjadi juru parkir, berdagang asongan, atau hanya sekedar cangkruk saja. Ketiadaan penyaluran energi serta keinginan untuk memperluas wilayah kekuasaan memicu pertarungan antar kelompok pemuda di Malang, serta pertarungan eksistensi & perebutan wilayah strategis seperti pada beberapa tempat yang sudah penulis sebut di atas. Kondisi inilah yang membuat Mayjend TNI (purn) H. Acub Zainal berkewajiban untuk mengelola dan mengembangkan potensi yang dimiliki arek Malang agar berproses ke arah yang positif dan mampu meningkatkan harkat dan martabat arek Malang.

Mayjend TNI (purn) H. Acub Zainal yang saat itu menjabat sebagai Danrem 084 Baladika Jaya Surabaya melihat sepakbola dapat menjadi solusi bagi masalah pemuda. Berbekal pengalaman beliau sebagai pengelola klub sepakbola NIAC Mitra dan pernah membina anak-anak muda Irian Jaya guna dikirim ke kompetisi sepakbola internasional di Bangkok, beliau menawarkan kepada putranya (Lucky Acub Zainal) untuk mendirikan klub sepakbola di Malang. Kebijakan PSSI pada tahun 1987 yang membuka keran pendirian klub sepakbola profesional untuk berlaga pada kompetisi Galatama (Liga Sepakbola Utama), serta animo masyarakat Malang yang cukup tinggi pada setiap pertandingan Persema menjadi alasan utama mengapa Arema didirikan. Selain itu, generasi muda arek Malang di mata H. Acub Zainal memiliki energi dan potensi yang cukup besar untuk dikembangkan, tetapi tidak memiliki wadah pemersatu, sehingga kerap terjadi tawuran antar geng pemuda di Malang.

Walaupun di Malang ada klub sepakbola Persema, tetapi klub ini tidak mampu mengakomodir potensi yang dimiliki arek Malang saat itu. Tetap saja pada beberapa pertandingan Persema di Stadion Gajayana terjadi kericuhan antar geng pemuda. Selain karena Persema adalah klub amatir yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Malang, prestasi klub ini tidak pernah menonjol dalam kancah persepakbolaan nasional. Oleh karenanya banyak orang Malang yang menempuh perjalanan 3 jam ke Surabaya untuk menonton pertandingan NIAC Mitra dalam kompetisi Galatama. Sementara Persebaya yang bermain dalam kompetisi Perserikatan tetap menjadi musuh abadi arek Malang, sehingga tiap pertandingan Persema melawan Persebaya di Stadion Gajayana selalu dipenuhi penonton dan tak jarang terjadi kericuhan di dalam stadion.

Tanggal 11 Agustus 1987 klub sepakbola Arema resmi didirikan dan dipersiapkan untuk mengarungi kompetisi Galatama VIII / 1988. Peran militer dalam pembentukan tim sangat kuat, selain sumbangsih fisik berupa penyediaan asrama bagi pemain beserta fasilitas latihan di Kompleks TNI AU Abdulrachman Saleh, pihak TNI juga berperan dalam pelatihan dan seleksi pemain yang dilakukan dengan cara-cara militer. Guna menarik animo penonton dalam mengenalkan Arema, diundanglah tim elit Hallelujah FC asal Korea Selatan yang saat itu terkenal di wilayah Asia. Pertandingan yang dimenangkan oleh tim tamu dengan skor telak 1-5 itu mampu menarik perhatian warga Malang. Animo masyarakat terhadap Arema semakin tinggi, dan terus meningkat pada dua laga ujicoba berikutnya melawan Merpati Airlines FC dan Persema.

Arema dipilih menjadi nama resmi klub karena merupakan singkatan dari kata Arek Malang. Sudah menjadi hal yang umum bahwa nama klub saat itu bisa membedakan mana tim yang profesional dan mana yang amatir. Klub-klub sepakbola profesional yang berlaga pada kompetisi Galatama kebanyakan tidak menyebut daerah asal mereka, seperti: Pelita Jaya, Arseto, NIAC Mitra, Arema, Warna Agung, Perkesa 78, dan lainnya. Lima huruf A-R-E-M-A dipilih dengan tujuan menjadi simbol identitas pemuda (arek) yang berasal dari Malang, dengan kata lain Arema menjadi manifestasi bersatunya arek-arek Malang yang berasal dari berbagai kelompok pemuda.

Mengatasi masalah geng pemuda di Malang tidak cukup hanya dengan mendirikan Arema, tetapi setidaknya sejak tahun 1987 arek-arek Malang sudah memiliki wadah untuk menyalurkan energi dan potensi yang dimiliki. Apa yang dilakukan H. Acub Zainal dengan mendirikan Arema mampu melokalisir potensi-potensi kericuhan oleh arek Malang yang semula tersebar di berbagai wilayah Jawa Timur menjadi terpusat di Stadion Gajayana. Pemerintah beserta perangkat keamanan turut meredam masalah geng pemuda di Malang dengan berbagai cara seperti memunculkan Peraturan Daerah tentang peredaran minuman keras dan mengembangkan kebijakan tata wilayah kota. Bioskop Kelud yang kerap menjadi lokasi tawuran antar pemuda pun ditutup, fasilitas penerangan disana diperbanyak, dan dibangun pos polisi untuk menjaga keamanan. Begitu juga dengan Alun-alun Kota yang juga kerap menjadi ajang tawuran pemuda, penerangan dan fasilitas pariwisata dibangun disana, tidak lupa pos polisi di 2 sudut areal alun-alun.

Sentralisasi kegiatan arek-arek Malang di Stadion Gajayana membuat pendukung Arema saat itu memiliki kesan brutal. Yuli Sugianto yang kini menjadi dirigen Aremania menceritakan bahwa dirinya selalu membawa pedang ke stadion untuk jaga-jaga apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, dia mengatakan bahwa perlengkapan senjata tajam adalah hal yang umum dibawa ke dalam stadion saat itu. Suasana seperti itu membuat toko-toko dan rumah-rumah di sekitar Stadion Gajayana memilih tutup apabila Arema bertanding, geng pemuda kerap tawuran untuk memperebutkan eksistensi di dalam stadion atau sekedar membalas perlakuan kelompok lain di masa lalu. Bahkan kota Malang menjadi kota mati pada saat Arema bertanding, image buruk penonton sepakbola Arema cukup meresahkan warga Malang dan menggentarkan mereka untuk keluar rumah, apalagi bergerak ke arah stadion Gajayana.

Arema yang dikenal sebagai tim jago kandang di Galatama membuat stadion Gajayana terkesan angker bagi tim tamu yang akan melawan Arema. Raihan hasil positif Arema ketika bermain di kandang menarik animo masyarakat untuk menonton Arema. Hal ini membuat Lucky Acub Zainal berinisiatif untuk membentuk Arema Fans Club (AFC), sebuah wadah suporter yang dikelola oleh klub sepakbola Arema. Kehadiran Arema Fans Club rupanya kurang mendapat respon positif dari pendukung Arema, hal ini berujung pada pembubaran Arema Fans Club pada tahun 1994. Beberapa alasan yang mengemuka dalam pembubaran Arema Fans Club adalah masalah eksklusifitas organisasi dan tidak ada regenerasi. Arema Fans Club selama berdiri lebih banyak menjalin komunikasi dengan elemen suporter lain di luar kota. Kondisi ini tidak disukai oleh beberapa kelompok geng pemuda yang saat itu banyak menjadi pendukung Arema. Lagipula pengaruh pihak keamanan (kepolisian dan tentara) dalam Arema Fans Club sangat kental, sehingga menambah sikap antipati arek-arek Malang terhadap Arema Fans Club. Beberapa kelompok geng pemuda yang semula saling bertikai berkumpul untuk membahas penolakan terhadap Arema Fans Club. Penolakan geng-geng pemuda terhadap Arema Fans Club muncul karena keinginan untuk tidak disetir oleh Yayasan PS Arema (klub), apalagi saat itu ada isu bahwa Arema Fans Club ini memiliki “bau” aranet (tentara) dan silup (polisi), musuh utama geng-geng pemuda.

Medio 1994 Aremania muncul, belum jelas siapa dan darimana inisiator nama Aremania. Kata “Aremania” berasal dari “Arema” dan “Mania”, sebuah frase simbol fanatisme pendukung Arema. Suporter Arema yang pada dasarnya memiliki basis geng-geng pemuda dari berbagai wilayah kota Malang bersatu dalam satu identitas “Aremania” dan salam “satu jiwa”. Sikap independen Aremania terwujud pada tidak adanya pemimpin di dalam tubuh Aremania, pimpinan tertinggi adalah musyawarah mufakat dari korwil-korwil Aremania yang ada di Malang. Pembubaran Arema Fans Club sebagai instrumen suporter berbasis pada korwil tidak serta merta menghilangkan dukungan terhadap Arema. Sistem korwil (koordinator wilayah) menjadi peninggalan dari Arema Fans Club pasca pembubarannya, walaupun struktural di atas korwil secara resmi dihapuskan.

Berbagai korwil Aremania hadir di stadion membawa bendera dan desain pakaian sendiri-sendiri, dengan menitikberatkan pada warna biru, gambar singa, dan pernak-pernik lain yang membedakan dengan kelompok lain. Di dalam stadion setiap korwil Aremania memiliki wilayah sendiri-sendiri, korwil yang beranggotakan banyak orang jelas memiliki wilayah terluas di tribun stadion, sementara korwil-korwil kecil pada akhirnya masuk menjadi bagian di korwil besar tersebut. Adu kreatifitas menjadi pertarungan utama bagi kelompok-kelompok arek Malang di dalam stadion. Semula mereka saling beradu dalam bentuk desain bendera dan pakaian, selanjutnya setelah Juan Rodriguez “Pacho” Rubio bermain di Arema, persaingan mereka melebar dalam bentuk nyanyian dan tarian. Setiap korwil selalu berusaha untuk menyajikan sesuatu yang baru dan diterima oleh khalayak ramai penonton Arema. Oleh karenanya mereka berusaha mencipta yel-yel baru dan tarian-tarian baru untuk mendukung kesebelasan Arema.

Apa yang dilakukan kera-kera Ngalam ini berbuah positif. Termotivasi oleh keinginan untuk membedakan diri dengan karakter arek Suroboyo yang bondho nekat, Aremania berusaha melepaskan diri dari image brutal dan anarkis yang dulu pernah melekat erat. Kreatifitas dalam mendukung Arema di dalam stadion serta sikap santun kala melakoni tour ke luar kota berbuah apresiasi dari Agum Gumelar berupa penyerahan gelar The Best Supporter untuk pertama kalinya di Indonesia kepada Aremania pada tahun 2000. Apresiasi lain juga muncul dari luar kota Malang, banyak komunitas suporter lahir di kota-kota lain seperti The Jakmania di Jakarta, Slemania di Sleman, dan Pasoepati di Solo yang terinspirasi oleh Aremania. Pada akhirnya, sesuai dengan harapan pendirinya bahwa Arema akan mampu menjadi penyalur potensi yang dimiliki arek Malang telah terwujud. Ada rasa bangga yang lebih dari sekedar mendukung klub sepakbola, yakni tentang identitas diri dalam lima huruf A-R-E-M-A. Oleh karenanya, jangan heran apabila kata “saya orang Malang” atau “saya anak Malang” jarang terucap dari perantau asal Malang, tapi “saya Arema!”.

source : http://junedoyisam.wordpress.com/2012/04/06/aremania-arti-sebuah-nama/

Read more


Mengenal Aremania Jalur Gaza ; Love In Brotherhood

jalur gazaSiapa yang tidak kenal dengan istilah Jalur Gaza? itu adalah daerah dimana tempat para pejuang muslim Palestina berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan dan pengakuan dunia sebagai negara yang berdaulat. Mereka (pejuang muslim Palestina) tidak mengenal kata menyerah untuk selalu bertaruh nyawa demi nama Palestina yang telah ditindas dan dijajah oleh zionis Israel. Meski hanya bermodal batu dan bongkahan semen reruntuhan gedung, pejuang Palestina dengan gigihnya melawan tank-tank dan senjata otomatis yang dimiliki oleh bangsa bangsat Israel.
Diilhami dengan Jalur Gaza (yang sebenarnya) para nawak Aremania yang berdomisili di daerah Pandaan dan sekitarnya mendirikan suatu korwil Aremania tersendiri. Kenapa nama Jalur Gaza yang dipakai?  Berikut penuturan dari admin FP Aremania Jalur Gaza Pandaan. Monggo disimak.
Salam satu jiwa Arema Indonesia. Puncak prestasi Arema bukanlah bertengger di posisi puncak klasemen liga ISL, namun Kemenangan yg diraih pada setiap laga pertandingan Arema Indonesia dan menjadikan itu JUARA. Faktor2 dilapangan tidak hanya taktik dan teknik dari pelatih, tetapi dukungan dan antusiasme dari supporter Arema yaitu Aremania.
Dimanapun Arema berlaga slalu ada Aremania yg mendukungnya, membuat para pemain bermotivasi ganda untuk menjalani setiap pertandingan.
Aremania yang tak pernah lelah mendukung tim kebanggan Arema Indonesia yg berlaga disetiap pertandingan. Tak terkecuali Aremania Jalur Gaza, sama dengan Aremania lain yang haus kreatifitas dan tak lelah memberikan dukungan terhadap tim pujaannya. Yang membedakan Aremania Jalur Gaza hanyalah letak geografi jalur gaza (Jalur Maut) dimana letak Jalur gaza (Jalur Maut) ini lepas dari Kabupaten Malang yaitu Pandaan, Tretes dan Trawas yg berdampingan dengan supporter lain seperti bonek, deltrasmania dan the lassak.
Walaupun jarak Pandaan ke Kepanjen cukup jauh, namun motivasi kami makin bertambah karena dukungan kami hanya untuk Arema Indonesia. Tak jarang setiap pulang dari mendukung tim kebanggan, kami sering mendapat sedikit gangguan dari oknum2 suporter lain. Luka2 akibat lemparan batu, kawan kami yg jadi bulan2an oknum tersebut. Namun dari itu semua kami tak kan pernah takut dan tak pernah luntur semangat untuk mendukung tim Kebanggaan Arema Indonesia. Karena kami Satu Jiwa untuk Arema Indonesia.
Aremania Jalur Gaza dulunya adalah Aremania pandaan yang lahir mulai tahun 2001 2002 dan mempunyai sekitar 100 orang. Sejak Arema Malang berganti Arema Indonesia, Aremania Pandaan berubah nama menjadi Aremania Jalur Gaza dengan meninggalkan sistem kedaerahannya karena Aremania Jalur gaza tidak berasal dari Pandaan saja namun juga dari, Tretes, dan Trawas.
Lahirnya Aremania Jalur Gaza ini tentu tidak bisa berdiri sendiri, namun dibantu oleh para dedengkot Aremania seperti Amin korwil sukorejo, Cak Sur tattoo dan Sam Helos Wagir. Aremania Jalur Gaza sudah memiliki KTA agar lebih mudah mengkoordinir dan tdk mudah disusupi oleh Oknum2 yg tidak bertanggung jawab.
Visi dan misi Aremania Jalur Gaza,Visi untuk mendukung Arema dimanapun berada, menjaga nama baik Arema dan Aremania. Misi Aremania Jalur Gaza untuk mendirikan sebuah korwil tetap, agar selalu bisa selalu mendampingi tim kesayangan Arema Indonesia. Aremania itu tidak kemana mana namun ada dimana mana, Kita tetap satu untuk Arema Indonesia. Salam satu Jiwa
Bertempat di Rumah makan lesehan beran karang jati pandaan,tepat tanggal 28 November 2010 AREMANIA-AREMANITA wilayah pandaan,tretes,pacet,pasuruan,trawas dan sekitarnya resmi mendirikan korwil aremania yang diberi nama korwil JALUR GAZA.Nama jalur gaza ini terinspirasi oleh daerah Negara palestina yang selalu tegang keadaannya.
Menurut ketua korwil jalur gaza sam deni korwil ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1994,yang waktu itu sama almarhum sam surtato didorong untuk deklarasi tapi keadaan waktu itu tidak memungkinkan karena daerah pandaan dan sekitarnya banyak supporter yang tidak suka dengan arema.Memang jalur gaza yang selama ini kita kenal indentik dengan sam AMIN sukorejo yang sebenarnya memakai nama arema militan.
Terlepas itu semua kata sam deni tidak jadi masalah karena tujuanya sama yaitu mendukung team AREMA SINGO EDAN.Sam deni berharap dengan adanya deklarasi ini nantinya korwil jalur gaza bisa diperhatikan untuk pendistribusian tiket pertandingan agar tidak kesulitan lagi untuk mendapatkan tiket yang selama ini daerah pandaan mendapatkan tiket dari sukorejo serta dari korwil dimalang.Pernah kejadiaan ketika mau menonton arema kurang lebih 20 orang dari pandaan berangkat ke stadion dan setelah sampai stadion tidak mendapatkan tiket padahal kalau menonton arema korwil jalur gaza berangkat dengan was-was sebab mereka harus siap-siap untuk dilempari oleh oknum bonek di daerah tsb,terlebih yang berangkat dari pacet,trawas mesti diganggu oleh oknum suporter bonek.
Kenapa mereka memilih arema padahal secara geografis daerah pandaan lebih dekat dengan pasuruan dan Surabaya,sam deni bilang karena senang,kreatif dan sikap setia kawan anak-anak arema dimanapun berada dan tidak anarki.ada seorang suporter anggota korwil jalur gaza yang dari pasuruan bilang pernah menonton pertandingan persekabpas yang waktu itu persekabpas sudah unggul tapi suporternya tetap aja berbuat anarki.makanya dia memilih menjadi suporter arema meskipun domisilinyadi pasuruan.
Deklarasi jalur gaza tidak diadakan seperti deklarasi di malang yang menggunakan panggung terbuka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.menurut sam andri sebagai humas jalur gaza pihak keamanan dari polsek,koramil,kecamatan mendukung acara deklarasi ini.deklarasi jalur gaza di hadiri oleh ,perwakilan korwil-korwil se malang raya serta dari management arema.
Anggota korwil jalur gaza kurang lebih 100 anggota yang be-kta dan diharapkan korwil jalur gaza ini kompak dan bersatu antara pandaan,trawas,pacet,pasuruan dan tretes kedepan korwil ini berharap tidak ada lagi gontok-gontokan antar supporter.ditambahkan juga oleh mbak ida sebagai sekertaris korwil jalur gaza mempunyai kegiatan rutin di samping nonton arema ada arisan keliling tiap 2 minggu sekali untuk mempererat silahturahmi antar anggota.

source : junedoyisam.wordpress.com/2012/12/26/mengenal-aremania-jalur-gaza-love-in-brotherhood/

Read more


Profil Yuli Sumpil: Sang Dirigen Aremania

Yuli Sumpil: Sang Dirigen Aremania

YULI Sugianto atau Yuli Sumpil. Demikian lajang kelahiran 14 Juli 1976 ini biasa dipanggil rekan-rekannya sesama Aremania, pendukung fanatik Arema Indonesia. Sumpil menunjukkan kampung tempat ia tinggal, yakni di Jalan Sumpil Gang I, RT 3/RW 4 Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur.
Pemuda nyentrik dengan anting-anting di kedua kupingnya, topi yang tak lepas dari kepala, dan mengenakan kaus Aremania itulah ciri khasnya. Ia selalu semangat dalam membela klub berjuluk ‘Singo Edan’ itu.
Yuli mengawali kiprah sebagai Aremania sudah cukup lama, sejak kelas 5 SD. Ia selalu hadir di lapangan untuk mendukung klub kesayangannya waktu masih berkiprah di Galatama.
Yuli pun mengenang. Kendati tidak memiliki uang untuk membeli tiket, ia tetap berusaha menonton pertandingan secara langsung di Stadion Gajayana Kota Malang . Caranya, dengan ikut penonton dewasa yang bertiket agar bisa masuk di stadion. Menonton pertandingan sepak bola seperti itu dilakoninya hingga SMP.
Ketika usianya beranjak remaja, Yuli semakin berani dan bersemangat. Ia sering nekat meloncat truk agar sampai di kota tujuan tempat Arema berlaga. Dari sinilah, bersama kawan-kawannya yang nekat, kemudian muncul istilah ‘bondo nekat’ (bonek).
Laki-laki muda itu sudah menjadi suporter fanatik klub sepakbola Arema (Arek Malang). Yuli Sugianto adalah salah satu suporter paling populer di kalangan Aremania, sebutan bagi suporter Arema. Bersama suporter Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya) yang disebut Bonek (bondho nekat/ modal nekat), Aremania terkenal sebagai suporter paling fanatik dalam sejarah sepakbola Indonesia.
Yuli berkisah sudah sejak anak-anak ia selalu berusaha melakukan apa saja demi menonton pertandingan Arema. Semasa duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) misalnya, jika tak ingin terlambat datang ke stadion, ia harus membolos sekolah sore. Dan jika pertandingan berlangsung di luar kota, itu berarti ia harus siap sejak pagi, bersiap menunggu di pinggir jalan raya, dan siap melompat ke dalam bak truk atau mobil angkutan barang lain untuk menuju kota tujuan.
Sekarang Yuli adalah dirigen Aremania. Seorang dirigen, layaknya seorang konduktor dalam pertunjukan orkestra, adalah orang yang memimpin para suporter untuk menyanyi dan menari dalam sebuah pertandingan sepakbola. Seorang dirigen menentukan lagu mana yang harus dinyanyikan dan gerakan tubuh macam apa yang mesti dilakukan. Aremania punya dua dirigen. Selain Yuli juga ada Yosep, yang biasa dipanggil Kepet.
Di kalangan Aremania, dirigen dipilih dengan cara yang tidak terlalu rumit. Tidak ada pemungutan sura yang berlangsung dengan ketat. Seseorang dipilih menjadi dirigen karena penampilan fisiknya yang menarik (ceria, nyentrik, dll.), kemampuannya berkomunikasi dengan suporter lain, dan kemampuannya membangkitkan semangat suporter untuk terus memotivasi tim yang didukungnya. Oleh sejumlah suporter seorang dirigen ditunjuk dengan cara yang sulit dijelaskan, hampir kebetulan saja, sebelum sebuah pertandingan sepakbola dimainkan. Tetapi begitu seorang dirigen terpilih, jabatan itu akan disandangnya terus, tanpa batas waktu yang jelas, sampai ia mengundurkan diri atau kehilangan kemampuan untuk memimpin. Begitulah, tujuh tahun lalu dan Kepet terpilih begitu saja sebagai dirigen Aremania. Dan hanya kepada mereka berdualah 30 ribuan Aremania mau tunduk. “Mungkin saya dipilih karena berambut gondrong dan suka menari sambil memanjat pagar pembatas lapangan. Kalau Kepet mungkin karena ia punya banyak teman. Ia kan tinggal dekat stadion,” kata Yuli.
Di Stadion Gajayana Malang, markas Arema, Yuli dan Kepet mesti berbagi wilayah kekuasaan. Wilayah kekuasaan Yuli adalah tribun bagian timur, tepat di bawah papan skor. Wilayah Kepet adalah tribun bagian selatan. Sementara tribun VIP dibiarkan tanpa dirigen.
Pertandingan sepakbola biasanya dimulai jam 4 sore, tetapi para suporter sudah memadati stadion sejak 2 jam sebelumnya. Mereka memainkan genderang, terompet, menyanyi, menari dan menyulut kembang api dan petasan. Sebelum dirigen datang, atraksi-atraksi ini berlangsung sporadis, dalam kelompok-kelompok kecil, dan tidak kompak. Tetapi begitu mereka melihat kedatangan Yuli dan Kepet, secara otomatis semuanya akan bertepuk tangan dan bertempik-sorak seperti menyambut kedatangan presiden mereka. Yuli dan Kepet tersenyum, dan begitu mereka melambaikan tangan, ribuan suporter ini menjadi lebih tenang. Semua musik, lagu, dan tarian dihentikan. Yuli dan Kepet akan segera menaiki singgasana mereka, yaitu pagar besi pembatas lapangan setinggi 2 meter. Mereka mulai menjalankan tugasnya; sambil berdiri di atas pagar menghadap ke tribun penonton mereka menggerakkan tangan dan kaki, memiringkan dan memutar tubuhnya ke kiri, kanan, depan, dan belakang sebagai alat untuk memberi aba-aba. Ribuan penonton menjadi kompak dan memainkan musik, menyanyi, dan menari. Semuanya mengikuti aba-aba dan contoh gerakan yang dilakukan Yuli dan Kepet.
Sepuluh menit sebelum pertandingan dimulai, Yuli dan Kepet memberi aba-aba berhenti. Kalau mereka sudah menaikkan tangan kanan ke atas, itu artinya tarian akan berhenti dan para suporter akan segera menyanyikan lagu Padamu Negeri.[1] Para pemain memasuki lapangan, wasit meniup peluit, pertandingan segera dimulai, tarian dan lagu dimainkan kembali. Karena atraksi-atraksinya yang menarik, Arema pernah memenangi penghargaan suporter terbaik dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).
Satu-satunya kelompok suporter besar yang tetap tinggal “liar” adalah Aremania. Klub dan Pemda tidak memberi bantuan dana atau berkeinginan membuat organisasi formal untuk suporter. Para suporter tetap membuat kelompoknya sendiri dengan keinginan mereka sendiri, kelompok-kelompok ini mereka sebut dengan Korwil (Koordinator Wiyalah). Di Malang sekarang ini sekurang-kurangnya ada 125 Korwil Aremania. Tiap Korwil punya seorang ketua yang hanya bertugas mengumpulkan suporter di wilayahnya menjelang Arema bertanding. “Tidak perlu organisasi-organisasian. Kalau ada organisasi itu repot, nanti malah diatur-atur, disuruh begini, disuruh begitu, bayar ini, bayar itu. Apalagi kalau sampai dikait-kaitkan sama partai politik segala,” kata Ponidi—dikenal sebagai Tembel—Ketua Korwil Stasiun. Meski tiap Korwil punya ciri khas sendiri, yang ditandai dengan bendera, spanduk, seragam, dan dandanannya, komando di stadion tetap ada di tangan dirigen. Hanya Yuli dan Kepet yang mampu mengatur dan menenangkan merea. “Pengurus klub atau walikota sekalipun tidak akan bisa ada artinya bagi suporter. Dia tak akan mampu mengatur 30 ribu orang. Tapi begitu Yuli atau Kepet yang ngomong, ya semuanya manut,” jelas Tembel.
Yuli adalah pemuda dari keluarga miskin yang tinggal di sebuah kampung di bagian timur Malang. Sebelum menjadi dirigen Aremania, sejak lulus dari sebuah Madarasah Aliyah, Yuli bekerja sebagai pencuci mikrolet—angkutan umum dalam kota. Ia biasa bekerja dari jam 4 sore hingga jam 12 malam, dari pekerjaannya, dalam sehari Yuli bisa memeroleh 10 ribu hingga 15 ribu rupiah.
Sejak menjadi dirigen, Yuli praktis berhenti bekerja. Menurutnya pilihan ini adalah saran orangtuanya yang tak tahan melihat Yuli menghabiskan hampir semua waktunya untuk mengurusi sepakbola, sepakbola, dan sepakbola. Ia kini menggantungkan hidupnya pada orangtuanya. Bapaknya, Asip, bekerja sebagai tukang kayu panggilan. Semenntara ibunya, Juwariyah, mendapatkan uang dengan menjual makanan rumahan bikinannya ke warung-warung di sekitar kampungnya. Yuli mengatakan setiap hari mendapat uang saku antara 500 hingga 2000 rupiah dari bapak atau ibunya. “Yul, ini ada sedikit uang untuk beli rokok,” kata Yuli menirukan ibunya.
Dalam kiprahnya sebagai seorang dirigen, sempat membuat seorang insan perfilman untuk mengangkatnya dalam sebuah film, yaitu  The Conductors, film dokumenter karya Andi Bachtiar Yusuf.
The Conductors berusaha untuk mengungkap sisi lain dari Addie MS (Twilite Orchestra), AG Sudibyo (Paduan Suara Mahasiswa UI) dan Yuli “Sumpil” (Aremania), menampilkan kiat dan semangat dari anak manusia yang sangat mencintai profesinya tersebut. Film yang telah diputar pada ajang Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2007 lalu tersebut merupakan karya dokumenter kedua pria yang lebih akrab dipanggil “Ucup” setelah The Jak (2007). Dan setelah premiere di Jakarta, akan diputar di Bandung, Malang, Semarang, Yogyakarta, Jember, Purwokerto, Pusan (Korea Selatan).
“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,”
Jika Liga sedang berjalan—yang berarti setiap minggu hampir selalu saja ada pertandingan sepakbola—Yuli harus menyisihkan sedikit jatah uang rokoknya agar bisa membeli tikat dan masuk stadion. Tetapi kalau kondisi keuangan keluarganya yang benar-benar sulit, Yuli kadang terpaksa menjual asesoris-asesoris suporternya untuk bisa membeli tiket. Tak jarang ia harus merelakan kaus atau syal kesayangannya dengan harga 10 hingga 20 ribu rupiah. “Sebenarnya sedih juga, karena barang-barang itu punya nilai sejarah bagi saya. Tapi saya akan lebih sedih lagi kalau tidak bisa masuk ke stadion dan menjadi dirigen bagi teman-teman,” katanya. Kadang-kadang Yuli juga membantu menjual tiket pertandingan. Beberapa hari sebelum pertandingan Yuli akan mengambil tiket di Mess Arema. Untuk tiap tiket seharga 10 ribu rupiah bisa dijualnya ia mendapat bagian 10 persen atau seribu rupiah. Agar bisa nonton pertandingan sekurang-kurangnya Yuli harus bisa menjual 10 tiket.
Seperti kebanyakan pemuda kota yang tinggal di kampung padat dan miskin, Yuli gemar sepakbola dan sering terlibat tawuran (perkelahian massal) antarkampung. “Buat saya dulu tawuran adalah bagian dari sepakbola. Sepakbola nggak ada tawuran seperti sepakbola banci,” kata Yuli. Ia kemudian bercerita, beberapa tahun lalu—sebelum menjadi dirigen—bersama 30 temannya ia datang ke Jakarta untuk melihat Arema bertanding. Ia berangkat dari rumah dengan sudah menyiapkan sebilah pedang. “Waktu itu, ini perlengkapan standar,” katanya. Di Jakarta ia terlibat bentrokan dengan kelompok Bonek di depan Stasiun Pasar Senen. Mula-mula hanya saling melempar batu, tapi kemudian menjadi saling kejar, memukul dengan potongan kayu atau besi, bahkan hingga sabetan pedang. “Yang saya ingat, keesokan harinya saya baca di koran ternyata ada 3 orang Bonek yang mati. Sementara kami semua selamat,” katanya.
Yuli kini ingin melupakan masa lalunya. Di ruang tamu rumahnya yang sempit, ia memasang fotonya ketika bersalaman dengan Ketua PSSI Agum Gumelar. Di foto itu, Yuli—berambut gondrong dan berkaus Arema warna biru—tampak tersenyum bangga. Katanya, “Saya diundang di acara pembukaan Liga Indonesia dan dikirimi tiket pesawat untuk hadir mewakili suporter”.
Karena tak bekerja, sehari-hari Yuli menghabiskan waktunya dengan nongkrong sja. Saya ingat waktu bertemu dengannya pertama kali tiga tahun lalu, ia tengah nongkrong di Salon Cimenk yang terletak beberapa ratus meter saja dari rumahnya. Didik, pemilik salon ini, adalah teman Yuli sesama Aremania.  Untuk urusan dandanan Yuli mengaku memang sering dibantu Didik. Sekali mencat rambut ia cuma akan membayar 10 atau 20 ribu. Tapi Yuli lebih sering tak membayar, karena ia memang jarang punya cukup uang. Suatu ketika karena merasa sungkan dan terlalu sering tidak membayar, sebelum berangkat ke stadion Yuli pernah mencat saja rambut gondrongnya dengan cat kayu, warna biru. Jelasnya, “Agar mudah membersihkannya, saya lumuri dulu rambut saya dengan minyak goreng, setelah itu baru saya cat. Saya ingin selalu bisa menarik perhatian di lapangan.”[ad#kumpulblogger]
Yuli punya cukup banyak koleksi asesoris Aremania.  Yuli punya macam-macam kaus Arema, dari kaus seperti yang dipakai para pemain—warna biru putih—sampai kaus-kaus bergambar kepala singa, lambang Arema, yang memang punya julukan sebagai tim Singo Edan (singa gila). Kebanyakan kaus macam ini bertuliskan “Kera Ngalam” atau “Ongis Nade”. Keduanya adalah bahasa slang Malang yang berarti “Arek Malang” dan “Singo Edan”.
“Saya biasanya pakai kaus Arema, tapi bawahannya bisa ganti-ganti, yang penting warna dan modelnya menyolok mata. Seorang teman suporter pernah memberi saya pakaian Skotlandia,” kata Yuli . Sebentar kemudian ia mengeluarkan lagi beberapa pakaian, dari yang berbahan kulit sintetis hingga kain sarung dan kain perca. Hampir semua pakaian ini dirancang sendiri oleh Yuli. Biasanya ia mendapat ide model-model pakaian baru setelah menonton pertandingan sepakbola Liga Italia atau Inggris di televisi.
Saya membuka-buka koleksi foto Yuli. Ia memberikan penjelasan detil untuk tiap foto yang saya lihat. Ketika saya sampai pada sebuh foto yang memerlihatkan sepasang lelaki dan perempuan berbaju pengantin, sementara di sekelilingnya adalah laki-laki dan perempuan yang semuanya berkaos biru Arema, Yuli menjelaskan bahwa itu adalah acara pernikahan seorang Aremania. Ia malah menceritakan tentang seorang Aremania lain yang naik haji ke Mekkah dengan membawa syal dan bendera Arema.
Yuli Sumpil, atraksimu dan kiprahmu sebagai dirigen bagi Aremania kala Arema bertanding akan selalu dinanti. Dirimu sebagai dirigen bagai seorang conductor dalam orkestra Aremania, orkestra yang menampilkan nyanyian, atraksi dan tarian Aremania.
Yuli Sumpil, dari sekian nyanyian seluruh Aremania yang kau pimpin selama ini, kami masih sering mendengar nyanyian yang bernada Rasis. Kami juga berharap dengan kepemimpinanmu di atas tribun akan bisa membawa nyanyian yang lebih sering hanya untuk mendukung skuad Arema yang sedang berjuang, dan tidak lebih sering menyanyikan tentang tetangga sebelah, biarlah mereka tetap J*****k, karena biar kita tidak menyebut mereka J*****k, mereka tetap J*****k juga. Oyi kan?
Biodata:
Nama lengkap : Yuli Sugianto
Nama lapangan: Yuli Sumpil
Tempat, tanggal lahir: Malang, 14 Juli 1976
Pendidikan: MA (SMA) Al-Amin Blimbing, Kota Malang
Ayah: Asip
Ibu: Djuariyah
Saudara: Anak ketujuh dari sembilan bersaudara
Keterlibatan di sepak bola:
- Menjadi suporter sejak kelas 5 SD
- Menjadi Dirijen Aremania sejak 1998-1999
Penghargaan :
- Terbaik film dokumenter The Conductors
- Mengantarkan Aremania menjadi The Best Supporter Piala Indonesia 2006
Sumber : mediaindonesia.com, aremastore.com

Read more


Sumber Permusuhan Aremania vs Bonek

Belum habis rasa penasaran ayas atas posting ayas yang berjudul sumber permusuhan Aremania vs Bonek yang mengulas tentang segala sesuatu yang menyebabkan perseteruan antara dua kelompok supporter terbesar di Indonesia, yaitu antara Aremania dengan Bonek. Setiap kali ayas buka internet, sudah dapat ayas pastikan dalam satu tab terpisah, ayas pasti membuka Mr Google yang sangat lengkap pengetahuannya tentang apapun. Dalam tab tersebut, ayas mengetikkan judul2 yang sekiranya bisa ayas pakai untuk mencari file2, artikel2, posting2 yang berbau dan memuat tentang Aremania vs Bonek.
Memang ayas ini tergolong agak bagus rejekinya, sehingga  ada aja posting2 yang ayas temui yang memuat tentang Aremania vs Bonek. Saat ini ayas sedang membuka salah satu posting yang judulnya plek sama dengan judul posting ayas, tapi ditambahi dengan istilah2 lainnya dalam judulnya. Blog bernama cak-faris.blogspot.com memuat judul Sepakbola, Kapitalisme, dan Konflik Sosial: Sejarah Perseteruan Aremania dan Bonek. Karena penasaran ayas mencoba untuk membukanya, ternyata puanjang sekali isinya. Tapi demi memuaskan rasa penasaran ayas ayas membukanya. Materinya buagus ternyata, ayas membacanya……..(sek tak moco yoooo……..) setelah beberapa lama tik tok tik tok tik tok…….(bunyi jam), akhirnya belum selesai ayas mbaca, ayas mikir, mending tak bagi2 ae nang nawak2 pembaca lainnya lewat blog ayas.
Ok, setelah ayas semedi dan berdo’a untuk memohon petunjuk (jare arek2 lebay…..), ayas tekadkan untuk memuatnya ulang disini. Monggo disimak :
Pendahuluan
Hari ini persepakbolaan nasional sudah mulai menapak maju, dimana setiap klub sepakbola yang ada dibawah naungan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) dibina untuk lebih profesional. Bentuk profesionalitas itu oleh PSSI dituangkan dalam format baru Liga Indonesia, dimana sejak tahun 1994 kompetisi yang sebelumnya terbagi dua disatukan dalam konsep Liga Indonesa dengan kasta tertinggi terletak pada Divisi Utama. Setelah berganti-ganti konsep dan format kompetisi, akhirnya pada tahun 2008 Divisi Utama Liga Indonesia berubah menjadi Indonesian Super League. Proses pembinaan kompetisi beserta klub-klub yang ada didalamnya diharapkan mampu membuat iklim sepakbola di Indonesia menjadi lebih modern dan mampu menelurkan bibit-bibit baru pemain asli Indonesia yang lebih berkualitas.
Kemajuan persepakbolaan nasional tentu harus diikuti oleh komunitas suporter yang menjadi basis pendukung sebuah klub sepakbola. Karena adalah sebuah omong kosong apabila sebuah klub sepakbola itu mampu bertahan tanpa dukungan suporter yang ada dibelakangnya. Tetapi sayangnya sudah menjadi rahasia umum bahwasanya persepakbolaan Indonesia dikenal akan kerusuhan dan permainan yang menjurus kasar. Kerusuhan demi kerusuhan, entah itu akibat ketidakdewasaan suporter atau provokasi ofisial pertandingan kepada suporter menjadi cerita lama dalam dunia persepakbolaan Indonesia. Konflik Jakarta-Bandung, Semarang-Jepara, Jogja-Solo, dan Malang-Surabaya menjadi cerita pasti mengenai aroma panas dalam konflik suporter di Indonesia.
Belum dewasanya suporter di Indonesia tentu menjadi penghambat bagi pengembangan profesionalitas klub-klub di Indonesia. Aksi anarkis yang dilakukan oleh oknum suporter menjadi salah satu faktor lambatnya pengembangan profesionalitas klub Indonesia. Belajar dari kasus rasisme Aremania beberapa saat yang lalu tentu menjadi sebuah pelajaran berharga bagi seluruh elemen suporter yang ada. Kerugian sebesar hampir 1 miliar rupiah bagi Arema tentu menjadi sebuah permasalahan tersendiri. Arema yang merupakan klub profesional tanpa dukungan dana APBD tentu kesulitan membayar gaji pemain dan lainnya. Padahal skala permasalahan baru sekitar denda dan hukuman, belum pada level anarkisme tingkat tinggi seperti perusakan stadion dan beberapa fasilitas, kerusuhan antar-suporter, hingga aksi-aksi kejahatan yang melibatkan komunitas suporter.
Salah satu pertarungan suporter yang paling sering disorot oleh media massa adalah rivalitas Aremania dan Bonek. Dua elemen suporter dari Arema Indonesia  dan Persebaya Surabaya ini memiliki tensi rivalitas yang sangat tinggi, dimana perseteruan antar kedua elemen suporter ini tak jarang berakhir dengan bentrokan, kerusuhan, kerusakan material, hingga jatuhnya korban jiwa. Ekspresi saling benci keduanya juga tertumpah ketika mendukung kesebelasan masing-masing, walaupun yang dihadapi adalah tim sepakbola selain Arema Indonesia atau Persebaya Surabaya.
Konflik Aremania melawan Bonek sudah menjadi cerita lama dalam diskusi antar-suporter di Indonesia. Pertarungan yang sudah mendarah-daging dalam kedua elemen suporter tersebut menjadi bumbu pedas dalam forum antar-suporter. Walaupun belum ada yang pernah memfilmkannya layaknya film Romeo-Juliet, tetapi aroma panas selalu terasa dalam kehidupan sehari-hari warga Malang dan Surabaya. Tidak jarang ditemui di rumah seorang Aremania segala atribut Bonek menjadi kain lap, sementara di Surabaya segala atribut Aremania menjadi keset.
Aroma panas kedua elemen ini tentu menarik untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut, karena sifat persaingannya yang begitu kental dan sudah mendarah-daging. Belum lagi pembentukan iklim sepakbola Indonesia ke arah modern tentu harus mewaspadai satu hal yang kini masih menjadi kontroversi: industri sepakbola. Modernisasi sepakbola secara tidak langsung membawa dunia sepakbola ke arah industri, dimana pada akhirnya kapital juga ikut bermain dalam menentukan suasana dan atmosfir sebuah pertandingan. Bukan tidak mungkin beberapa peristiwa yang berkaitan dengan sepakbola Indonesia hari ini berkaitan erat dengan suasana pasar ekonomi.
Selain dari perspektif industri sepakbola, tentu konflik-konflik yang timbul juga tidak luput dari permasalah sosial dan budaya dalam sebuah masyarakat. Masalah hegemoni dan pengakuan akan ‘the one and the best’ juga menjadi salah satu permasalah konflik suporter Indonesia. Persoalan chauvinisme dan fanatisme dalam sebuah masyarkat juga tidak dapat dihilangkan sebagai faktor-faktor pemicu konflik. Belum lagi soal dendam yang berasal dari peristiwa yang terjadi sebelumnya. Begitu banyak permasalahan yang timbul dalam masyarakat sehingga terbawa dalam kancah sepakbola membuat stadion masih belum menjadi tempat yang nyaman dalam menikmati pertandingan sepakbola.
Dengan mempelajari proses historis perseteruan kedua kelompok suporter ini diharapkan adanya pembelajaran serta solusi agar konflik-konflik yang terbangun menjadi sportif dan tidak anarkis. Pengkajian akan sebuah konflik dengan memandang dari perspektif sosiologi –dimana masyarakat dan kondisi kultural akan menjadi objek yang dikaji– diharapkan akan timbul sebuah mediasi entah itu berupa negoisasi atau yang lainnya. Dengan begitu posisi suporter sebagai sebuah pendukung klub akan terjadi hubungan timbal balik dengan klub yang didukung. Selain itu diharapkan pula perdamaian antar-suporter sepakbola yang ada di Indonesia dapat terjadi.
Sejarah Aremania dan Rivalitas dengan Bonek
Tahun 1988 lahirlah Yayasan Arema Fans Club (AFC) yang didirikan oleh Ir. Lucky Acub Zaenal. Yayasan ini hadir sebagai basis kelompok suporter dari Yayasan PS Arema yang didirikan setahun sebelumnya. Tahun pertama AFC berdiri dipimpin oleh Ir. Lucky Acub Zaenal dengan 13 korwil  (koordinator wilayah) yang ada dibawahnya. Keberadaan AFC yang begitu formal dan eksklusif membuat kalangan suporter yang berasal dari kelas bawah tidak mampu menjangkau organisasi tersebut. AFC sendiri pada akhirnya belum mampu menciptakan kerukunan antar-suporter di Malang, sehingga harus dibubarkan pada tahun 1994.
Kondisi chaos dalam kota, dimana sering terjadi perselisihan antar-geng yang berlanjut ke dalam stadion membuat kota Malang menjadi sepi di kala Arema bertanding. Banyak toko-toko dan warung-warung tutup, bahkan hingga mengunci pintu dan jendela. Beberapa narasumber bahkan menceritakan bahwa ketika itu seorang suporter membawa batu, pentungan, dan golok adalah hal biasa . AFC yang belum mampu menyatukan elemen-elemen suporter yang ada di Malang akhirnya membubarkan diri. Menjelang bubarnya AFC, beberapa suporter sepakbola Malang berkumpul dan mendiskusikan mengenai Aremania. Beberapa nama seperti Handoko, Yuli Sumpil, Ovan Tobing, Leo Kailola, dan Lucky Acub Zaenal yang merupakan pentolan dari beberapa kelompok suporter PS Arema di Malang berkumpul dan mengambil keputusan bahwa Aremania didirikan dalam sebuah organisasi non-formal (tanpa bentuk) tetapi terus menjaga persatuan dan sportivitas. Sehingga sejak saat itu tidak ada ketua resmi dari Aremania.
Ketiadaan ketua bukan berarti menimbul perpecahan dalam Aremania. Kultur masyarakat Malang yang egaliter membangun kebersamaan dalam ketiadaan struktur organisasi tersebut. Prinsip “sama rata, sama rasa, satu jiwa” yang dimiliki oleh warga Malang menjadikan Aremania menjadi kelompok suporter yang memiliki kekompakan dan persatuan yang kuat. Rasa egaliter pula yang membuat Aremania kompak dan mudah dikendalikan oleh Yuli dan Kepet, dirigen Aremania saat ini.
Titik balik Aremania terjadi pada tahun 1993, pasca PS Arema menjuarai kompetisi Galatama PSSI. PS Arema yang pada tahun-tahun sebelumnya belum memiliki begitu banyak pendukung, mendapatkan perpindahan pendukung begitu banyak dari Ngalamania. Kedewasaan arek Malang akan dampak negatif dari anarkisme membawa dampak positif bagi perjalanan Aremania selanjutnya. Aremania lalu mempelopori untuk selalu hadir mengawal pertandingan Arema di kandang lawan. Dimulai dari Cimahi pada tanggal 31 Mei 1995, Aremania selalu mengikuti kemanapun Arema pergi dan mendukung sembari menularkan virus suporter damai kepada elemen-elemen suporter lawan.
Bulan Mei 1996 Aremania berani untuk melakukan lawatan ke stadion ‘musuh abadi’ untuk mendukung Arema dan menularkan virus perdamaian ke Bonek yang menjadi elemen suporter Persebaya. Aremania datang dengan pengawalan dari DANDIM Kota Malang pada pertandingan yang disaksikan oleh para petinggi PSSI dan gubernur Jawa Timur, dimana mereka menunjukkan eksistensi perdamaian yang dibawanya. Stadion Tambaksari yang dikenal ‘biadab’ karena jarangnya suporter lawan yang berani memasuki stadion tersebut akibat tekanan, intimidasi, kerusuhan, dan provokasi Bonek menjadi saksi eksistensi Aremania .
Rivalitas Malang Surabaya
Berbicara masalah persaingan dan rivalitas dua elemen suporter di Jawa Timur ini, maka kita tidak dapat mengesampingkan sejarah dan kultur sosial masyarakat masing-masing kota. Malang yang secara demografis adalah sebuah kota yang ada di pinggiran gunung, dimana pembangunan-pembangunan yang dilakukan sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda hingga zaman Orde Baru membawa kemajuan yang sangat pesat bagi kota ini. Kemajuan yang membuat masyarakatnya merasa mampu untuk menyaingi kota metropolitin sekelas Surabaya. Surabaya yang selalu dianggap ‘number one’ dalam berbagai kondisi membuat masyarakat Malang tidak terima dan menganggap arek Suroboyo adalah saingan utama mereka. Dalam tataran propinsi misalnya, dimana Malang merupakan kota kedua setelah Surabaya. Hal ini memicu kecemburuan sosial yang sangat tinggi oleh arek Malang terhadap arek Suroboyo .
Kondisi ‘tidak mau kalah’ ini membuat suhu konflik Malang-Surabaya begitu panas. Begitu juga dengan sepakbola, dimana suporter asal Malang selalu berusaha menyaingi suporter asal Surabaya. Arek Suroboyo sudah lama memiliki sifat bondho nekat, dimana pernah mereka aplikasikan dalam upaya melawan tentara sekutu dalam pertempuran 10 November 1945. Sifat bondho nekat yang masih menjadi kultur masyarakat Surabaya modern juga terbawa dalam sepakbola. Pada akhirnya, bondho nekat ini menjadikan suporter Surabaya saat itu terkesan brutal dan anarkis, seperti halnya Hooligans di daratan Eropa.
John Psipolatis pernah menyinggung akan perbedaan ‘suporter brutal’ dan ‘hooligan’ dalam kajiannya tentang sepakbola Indonesia. Ia menyatakan bahwa untuk di Indonesia lebih sesuai dengan sebutan ‘suporter brutal’, karena mereka datang ke stadion untuk menikmati pertandingan dan sesudahnya membuat onar. Sementara ‘hooligan’ belum pantas disandang oleh suporter di Indonesia karena Hooligan datang dengan niat untuk membuat kerusuhan tanpa menikmati pertandingan sepakbola.
Konflik dalam hal sepakbola dimulai sejak tahun 1967, dimana terjadi kerusuhan dalam pertandingan Liga Perserikatan antara Persebaya Surabaya melawan Persema Malang di Surabaya. Kondisi ini dibalas oleh arek-arek Malang dalam pertandingan Persema Malang melawan Persebaya Surabaya di Malang. Akhirnya, konflik suporter yang merupakan pertarungan geng Malang-Surabaya ini terus berlanjut pada tahun 70’an. Periode 80’an menjadi puncak ketegangan antara Bonek dan Ngalamania, dimana tahun 1984 terjadi ‘Perang Badar’ antara Ngalamania dengan Bonek. Peperangan yang terjadi antara Arek Malang dan Arek Suroboyo itu membuat Presiden Soeharto kala itu menyikapinya dengan ucapan “kalau sepakbola membuat persatuan hancur, lebih baik tidak usah”.
Rivalitas Bonek – Aremania
Berdirinya Armada 86 hingga berevolusi menjadi PS Arema pada tahun 1987 membuat konflik semakin memanas. Dalam kompetisi Perserikatan, Persema dan Persebaya sudah memanaskan suhu konflik antar-suporter di Jawa Timur. Dengan hadirnya Arema yang mengikuti kompetisi Galatama, suhu itu kian memanas dengan rivalitas Arema dan Niac Mitra Surabaya. Semifinal Galatama tahun 1992 yang mempertandingkan PS Arema Malang melawan PS Semen Padang di stadion Tambaksari Surabaya menghadirkan awalan baru sejarah konflik Aremania-Bonek. Arek Malang (saat itu belum bernama Aremania) membuat ulah di Stasiun Gubeng pasca kekalahan Arema Malang dari Semen Padang. Kapolda Jatim saat itu akhirnya mengangkut mereka dalam 6 gerbong kereta api untuk menghindari kerusuhan dengan Bonek.
Kejadian di Stasiun Gubeng itu membuat panas Bonek yang ada di Surabaya. Tindakan balasan mereka lakukan dengan mencegat dan menyerang rombongan Aremania pada akhir tahun 1993 saat akan melawat ke Gresik. Peristiwa ini dibalas oleh Aremania pada tahun 1996 dengan melakukan lawatan ke Stadion Tambaksari dengan pengawalan ketat DANDIM. Keberanian Aremania untuk hadir di Stadion Tambaksari kala pertandingan Persebaya melawan Arema saat itu telah membuat Bonek tidak bisa berbuat apa-apa dan harus menahan amarah mereka dengan cara menghina Aremania lewat kata-kata saja. Hal ini karena pertandingan tersebut disaksikan oleh para petinggi PSSI dan gubernur Jawa Timur saat itu, serta pengawalan ketat DANDIM kota Malang terhadap Aremania. Bagi Aremania, hal ini sudah sangat mempermalukan Bonek dengan datang langsung ke jantung pertahanan lawan sembari menunjukkan kesantunan Aremania dalam mendukung tim kesayangan. Semenjak itulah tidak ada kata damai dari Bonek kepada Aremania, dan Aremania sendiri juga menyatakan siap untuk melayani Bonek dengan kekerasan sekalipun.
Kejadian ini dibalas oleh Bonek di Jakarta pada tahun 1998. Tanggal 2 Mei 1998 dimana Aremania akan hadir dalam pertandingan Persikab Bandung vs Arema Malang, Aremania yang baru turun dari kereta di Stasiun Jakarta Pasarsenen diserang oleh puluhan Bonek. Ketika itu rombongan Aremania yang berjumlah puluhan orang menaiki bus AC yang sudah disiapkan oleh Korwil Aremania Batavia. Di tengah jalan, belum jauh dari Stasiun Pasarsenen tiba-tiba bus yang ditumpangi Aremania dihujani batuan oleh Bonek. Untuk menghindari jatuhnya korban, rombongan Aremania langsung turun dari bus untuk melawan Bonek yang menyerang mereka. Bahkan Aremania sampai mengejar-ngejar Bonek yang ada di Stasiun Pasarsenen. Tindakan Aremania ini mendapat applaus dari warga setempat, sehingga Bonek harus mundur meninggalkan area Stasiun Pasarsenen.
Kondisi rivalitas yang begitu panas antara Aremania dan Bonek membuat keduanya menandatangi nota kesepakatan bahwa masing-masing kelompok suporter tidak akan hadir ke kandang lawan dalam laga yang mempertemukan Arema dan Persebaya. Nota kesepakatan yang ditandatangani oleh Kapolda Jatim bersama kedua pemimpin kelompok suporter tersebut ditandatangani di Kantor Kepolisian Daerah Jawa Timur pada tahun 1999. Semenjak tahun 1999, maka kedua elemen suporter ini tidak pernah saling tandang dalam pertandingan yang mempertemukan kedua klub kesayangan masing-masing.
Tetapi nota kesepakatan itu tidak mampu meredam konflik keduanya. Tragedi Sidoarjo yang terjadi pada bulan Mei 2001 menunjukkan masih adanya permusuhan kedua elemen ini. Kala itu pertandingan antara tuan rumah Gelora Putra Delta (GPD) Sidoarjo melawan Arema Malang di Stadion Delta Sidoarjo dalam lanjutan Liga Indonesia VII. Karena dekatnya jarak Surabaya-Sidoarjo membuat sejumlah Bonek hadir dalam pertandingan tersebut. Menjelang pertandingan dimulai, batu-batu berterbangan dari luar stadion menyerang tribun yang diduduki oleh Aremania. Kondisi ini membuat Arema meminta kepada panpel untuk mengamankan wilayah luar stadion. Karena lemparan batu belum berhenti membuat Aremania turun ke lapangan, sementara di luar stadion justru terjadi gesekan antara Bonek dengan aparat. Turunnya Aremania ke lapangan pertandingan membuat pertandingan dibatalkan. Terdesaknya aparat keamanan yang kewalahan menghadapi Bonek membuat Aremania membantu aparat dengan memberikan lemparan balasan ke arah Bonek. Aremania pun harus dievakuasi keluar stadion dengan truk-truk dari kepolisian.
Kejadian rusuh yang berkaitan antara Aremania dengan Bonek masih berlanjut pada tahun 2006. Kekalahan Persebaya Surabaya atas Arema Malang di stadion Kanjuruhan dalam laga first leg Copa Indonesia membuat kecewa Bonek di Surabaya. Seminggu kemudian, kegagalan Persebaya Surabaya mengalahkan Arema Malang di stadion Gelora 10 November Tambaksari Surabaya membuat Bonek mengamuk. Laga yang berkesudahan 0-0 ini harus dihentikan pada menit ke-83 karena Bonek kecewa dengan kekalahan Persebaya dari Arema Malang. Kekecewaan ini mereka lampiaskan dengan merusak infrastruktur stadion, memecahi kaca stadion, dan merusak beberapa mobil dan kendaraan bermotor lain yang ada di luar stadion. ANTV yang menayangkan pertandingan tersebut meliputnya secara vulgar, bahkan berkali-kali menunjukkan gambar rekaman mengenai mobil ANTV yang dirusak oleh Bonek. Aremania menyikapi hal ini dengan menyerahkannya secara total kepada pihak berwajib dan PSSI.
Rivalitas keduanya tidak hanya hadir lewat kerusuhan dan peperangan, tetapi juga dengan nyanyian-nyanyian saat mendukung tim kesayangannya. Bonekmania, di kala pertandingan Persebaya melawan tim manapun, pasti akan menyanyikan lagu-lagu yang menghina Arema dan Aremania. Lagu-lagu yang menyebutkan Arewaria, Arema Banci, Singo-ne dadi Kucing, dan beberapa lagu lain kerap mereka nyanyikan di Stadion Gelora 10 November Tambaksari Surabaya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Aremania, dimana lagu-lagu anti-Bonek juga mereka kumandangkan kala Arema menghadapi tim lain di Stadion Kanjuruhan. Bahkan persitiwa terbaru adalah tersiarnya kabar mengenai dikepruknya mobil ber-plat N ketika malam tahun baru di Surabaya oleh pemuda berkaos hijau (oknum Bonek?).
Atmosfir Malang – Surabaya
Seperti yang ditulis oleh Feek Colombijn dalam View from The Periphery: Football in Indonesia, dimana ia menyebut bahwa dinamika suporter di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa. Kultur Jawa yang mengutamakan keselarasan dalam harga diri, dimana penolakan yang amat sangat terhadap hal yang bisa mempermalukan diri sendiri, menjadi faktor utama konflik antar suporter di Indonesia. Kultur Jawa yang menghindar dari konflik dan tidak mau dipermalukan menjadi semacam dari anti-thesis dari sepakbola yang harus siap sedia untuk dipermalukan. Tetapi kultur Jawa pula yang memicu reaksi apabila penghinaan itu terjadi di depan umum dan sangat memalukan, maka ekspresi kemarahan dan anarkisme yang muncul untuk menjaga wibawa dan harga diri.
Kondisi ini yang memicu atmosfir panas Malang–Surabaya. Geng pemuda asal Malang yang dibantai oleh Bonek di tahun 1967 memicu perasaan dendam dari Arek Malang. Belum lagi persoalan rivalitas “number one”, dimana dalam level propinsi posisi Malang masih dibawah Surabaya. Sifat tidak terima Arek Malang menjadi nomor dua dibawah Arek Suroboyo ini membuat keduanya susah berjabat tangan. Persaingan atas dasar pride ini berlanjut pasca melorotnya prestasi Persema Malang, dimana Arema mengambil alih posisi rivalitas Malang-Surabaya tersebut.
Pergulatan harga diri ini terlihat jelas ketika Aji Santoso pindah dari Arema ke Persebaya, akhirnya Aji Santoso pun dianggap pengkhianat oleh Aremania. Ketika Aji Santoso ingin kembali ke Malang, ia pun harus melalui begitu banyak tim sebelum akhirnya mengakhiri karirnya bersama Arema Malang. Ahmad Junaedi pun menjadi korban rivalitas Aremania-Bonek. Ketika Ahmad Junaedi sudah menjadi bintang sepakbola nasional dan dibeli Surabaya, maka ketika Persebaya menawarkan Ahmad Junaedi untuk kembali ke Arema pun ditolak oleh Aremania. Akhirnya Arema pun lebih memilih untuk mengasah bakat Johan Prasetyo daripada memakai tenaga Ahmad Junaedi . Dalam hal simbol pun tantangan kepada Bonek juga dikumandangkan. Dengan pemilihan simbol singa menunjukkan bahwa di belantara Jawa Timur Arema ingin menjadi nomor satu, diatas Ikan Sura dan Buaya.
Arema menjadi identitas resistensi daerah terhadap pusat (Surabaya) , dimana melalui dialek jawa timur dengan tatanan huruf yang dibalik pada osob kiwalan khas Malang seolah menunjukkan bahwa Arema menjadi identitas kultural masyarakat Malang. Selain itu Arema juga merupakan pemersatu warga kota Malang yang sebelumnya terpecah pada beberapa desa/wilayah/daerah. Arek Malang selalu berusaha membedakan dirinya dengan arek Suroboyo. Ketika arek Suroboyo itu bondho nekad, maka arek Malang itu bondho duwit. Ketika Bonek itu suka membuat kerusuhan, maka Aremania ingin menyebarkan virus perdamaian. Konflik identitas juga menjadi lahan rivalitas kedua kubu suporter besar Jawa Timur ini.
Kapitalisme Sepakbola
Secara disadari atau tidak, fanatisme dan pertarungan kedua elemen suporter ini menjadi makanan empuk bagi kapitalisme. Sepakbola boleh jadi hari ini tidak hanya berbicara masalah sportivitas dan kesehatan, tetapi juga merambah dalam dunia politik dan ekonomi. Industri sepakbola menjadi salah satu bisnis yang menguntungkan bagi pengusaha-pengusaha kelas kakap hari ini, tentu dengan syarat mereka bisa mengendalikan iklim sepakbola itu sendiri.
Dalam hal konflik suporter di Jawa Timur, boleh jadi media massa menjadi provokator dalam berbagai peristiwa persepakbolaan di Jawa Timur. Sebagai contoh Jawa Pos misalnya, dimana secara eksplisit menyatakan keberpihakannya kepada Persebaya Surabaya. Dapat dimaklumi sebenarnya apabila melihat kantor redaksi yang berada di Surabaya serta posisi penting para pengurus Jawa Pos dalam kepengurusan Persebaya Surabaya. Dalam beberapa tulisan yang ada, Jawa Pos selalu menampilkan porsi lebih kepada Persebaya, bahkan tidak jarang dukungan kepada Bonek selalu mereka tuliskan dalam berita-beritanya.
PT Bentoel Prima Tbk yang pernah mengakuisisi Arema juga merasakan betul dampak menguntungkan bisnis sepakbola yang mereka bangun. Walaupun menghadapi hambatan begitu banyak dari pesaingnya , tetapi secara materiil PT Bentoel Prima Tbk mengalami keuntungan yang begitu besar dari sekedar pasang tulisan bentoel-arema di kaos para pemain Arema.
Bisnis sepakbola inilah yang sedang menguasai persepakbolaan modern hari ini. Di belahan dunia manapun, modernisasi sepakbola diikuti dengan berkembang pesatnya industri sepakbola. Dalam buku How Soccer Explains The World: An Unlikely Theory of Globalization, Franklin Foer menuliskan bahwa virus globalisasi telah merasuk kian dalam ke dunia sepakbola, dan faktor pride (kebanggaan/fanatisme) menjadi faktor ekonomi yang sangat menguntungkan bagi para kapitalis-kapitalis besar.
Kesimpulan
Modernisasi dalam sepakbola secara tidak langsung diikuti oleh berkembangnya kapitalisme dalam ranah sepakbola. Seolah-olah menjadi kapitalis adalah syarat mutlak untuk mengembangkan sebuah persepakbolaan dalam negeri. Melihat realitas di lapangan, bukan tidak mungkin hal diatas benar adanya. Karena ketika mengembangkan sepakbola tanpa sokongan dana yang kuat tentu akan membuat sebuah badan, klub, atau kompetisi menjadi rontok. Hanya saja kekhawatiran muncul ketika suporter sepakbola dijadikan obyek untuk mengkapitalisasi sepakbola tadi, dimana pada akhirnya suporter sepakbola juga yang dipermasalahkan.
Terkadang, berdasarkan perbincangan dengan kawan-kawan pemerhati sepakbola nasional, kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di lapangan selalu diawali orang orang yang tidak jelas siapa pelakunya. Sebagai contoh ketika terjadi kerusuhan di Madiun, baik Aremania dan Laskar Sakera (pendukung Persekabpas Pasuruan) tidak tahu menahu siapa yang memulai melempari batu-batu ke arah penonton. Tetapi karena yang hadir di stadion saat itu adalah Aremania dan Laskar Sakera, tentu pada akhirnya bentrok fisik tidak dapat dihindari. Efek pasca kejadian hari itu adalah banyaknya toko-toko yang tutup di Madiun, image PT Bentoel Arema Tbk juga tercoreng, dan entah mengapa beberapa hari sesudahnya media massa begitu laku di pasaran.
Begitu pula yang terjadi saat kerusuhan Bonek di Stadion Gelora 10 November di Surabaya beberapa tahun lalu. Dimana mau tidak mau Aremania harus mengakui bahwa kemenangan PS Arema atas Persebaya Surabaya hari itu cukup kontroversial, ada kesan wasit memihak Arema. Kemenangan 2-1 untuk Arema pun harus dibayar mahal dengan perusakan stadion dan beberapa fasilitas umum beserta kendaraan pribadi oleh Bonek yang menonton hari itu.
Begitu banyaknya tangan-tangan tak terlihat yang bermain-main diatas konflik suporter tentunya harus diwaspadai oleh Aremania maupun Bonek. Jangan sampai begitu banyak orang mati sia-sia saat pertempuran kedua suporter tersebut ternyata hanya menjadi ‘mainan globalisasi’ oleh segelintir orang yang ingin mengambil keuntungan didalamnya. Untuk itulah perlunya melihat kembali sejarah konflik antar kedua elemen suporter ini, supaya kejadian-kejadian negatif dapat diminimalisir dan era baru yang lebih damai dapat tercipta.
Kultur masyarakat Jawa yang melingkupi konflik Aremania-Bonek seharusnya bukan menjadi kambing hitam atas berbagai peristiwa yang terjadi. Sudah seharusnya dua elemen suporter yang sudah dikenal akan militansinya ini berdamai dan menciptakan suasana kondusif dalam persepakbolaan nasional. Sudah saatnya baik Aremania maupun Bonek untuk mendewasakan diri dengan melihat dari kacamata modernisasi dan sportivitas dalam mendukung tim kesayangannya. Tidak ada salahnya Bonek turut bergabung dalam usaha mewujudkan suporter Indonesia damai, sehingga mampu membuat suasana stadion begitu damai dan orang tidak perlu takut untuk menyaksikan secara langsung pertandingan sepakbola di tanah air.
“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,”
Yuli Sumpil – Dirigen Aremania
Ayas sampaikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Cak Faris yang telah mengulas tuntas tentang judul ini.

Read more


Sejarah AREMANIA

AREMANIA: DARI LATAR BELAKANG HOOLIGANISME KE PARA SUPORTER SEPAKBOLA TELADAN
Oleh:  John Psilopatis
Universitas Muhammadiyah Malang Bekerja sama ACICIS
Semester Februari-Juni 2002
BAB II Sejarah Aremania
A. Arema dan Arema Fans Club 
PS Arema didirikan pada tanggal 11 Agustus 1987 oleh H. Acub Zaenal dan Ir. Lucky Zaenal.  Dari awalnya Arema klub swasta. Pada waktu Arema berdiri Liga Indonesia dibagi dua: liga untuk klub semi-profesional bernama Galatama dan Liga klub Perserikatan.  Klub-klub Perserikatan tergantung pada pemerintah daerah untuk dana.  Sementara klub Galatama tergantung pada sponsor swasta.  Walaupun Arema belum pernah juara selama zaman Ligina, Arema juara Galatama pada tahun 1993.  Pada tahun 1994 klub semi-profesional digabungkan dengan klub Perserikatan untuk menjadi Ligina.
Pada tahun 1988 yayasan Arema Fans Club (AFC) berdiri.  Ketua pertamanya adalah Ir. Lucky Zaenal.  Pada awalnya ada 13 korwil.  Setiap korwil adalah pengurus hal suporter Arema di sebuah kampung atau daerah di Malang (*Peran korwil akan dibicarakan secara lengkap di Bagian A, BAB III).  Di artikel `Aremania Junjung Sportivitas’ diterbitkan di Bestari, no.  156, 2001 diceritakan bahwa menurut suporter Arema, AFC itu sangat individual, yaitu berkaitan dengan hubungan antara suporter dengan suporter lain.  Akibatnya AFC terhadap kesulitan mendorong kerukunan suporter.  AFC pernah dianggap sebagai yayasan yang terlalu ekslusif maupun kelas menengah untuk diterima oleh kebanyakan suporter Arema.  Sekitar tahun 1994 AFC dibubarkan.  Menurut Lucky Zaenal itu karena banyak kesibukan dan soal generasi.  Walaupun keadaan tokoh-tokoh AFC pasti mempengaruhi keruntuhan AFC, harus ditanyakan mengapa AFC tidak diteruskan oleh kelompok atau orang baru.  Mungin itu tidak terjadi karena sudah jelas bahwa AFC tidak didukung oleh suporter.  Barangkali tokoh-tokoh AFC sadar pada fakta itu.  Makanya mantan-tokoh AFC langsung terlibat dalam proses mengembangkan nama dan simbol yang akan mempersatukan suporter.  Memang tidak semua inisiatip AFC gagal.  Harus diingatkan bahwa dengan AFC mulai sistem organisasi suporter yang berdasarkan pada korwil.  Korwil-korwil tidak hilang dengan kematian AFC tetapi jumlahnya bertambah.  Di samping itu AFC berdiri dalam konteks keras yaitu pada waktu geng-geng pemuda Malang merupakan para suporter
B. Brutalisme ke Hooliganisme
Ada dua istilah yang dipakai untuk menggambarkan suporter yang tidak sportif dan membuat kerusuhan: suporter brutal dan hooligan.  Artinya dua istilah hampir sama.  Perbedaan antara dua istilah itu hanya soal konteks.  Istilah hooligan itu berasal di luar konteks Indonesia dan bersifat perbandingan.  Istilah suporter brutal lebih sering dipakai dalam konteks Indonesia.  Hooligan sama dengan suporter brutal karena yang jelas kegiatannya berdasarkan pada egoisme buruk.  Seorang hooligan mau membuat kerusuhan dan kekerasan untuk membesarkan egonya.  Seorang hooligan tidak ikut pertandingan untuk menikmati sepak bola tetapi untuk membuat kericuhan.  Seorang Hooligan adalah musuh perkembangan sepak bola apalagi komunitas suporter murni. Akhirnya kalau memakai contoh suporter brutal Arema kelihatannya perbedaan antara dua istilah hanya soal konteks.
Suporter Arema menjadi terkenal atas brutalisme antara waktu Arema berdiri dan pertengahan tahun 1990-an. Ada kekerasan antara suporter walaupun Arema menang atau kalah.  Pada waktu itu beberapa geng pemuda merupakan para suporter Arema.  Setiap kampung memiliki geng sendiri.
Yang berikutnya adalah daftar nama geng-geng Malang sama tempat asalnya kalau ada:
Nama Geng                                            Tempat Asal
Aregrek                                                 Sekitar Jl. Basuki Rachmat
Arnak (Armada Nakal)                               Sukun
Anker (Anak Keras)                                   Jodipan
Argom (Armada Gombal)                          Kidul Dalem
Arpanja (Arek Panjaitan)                           Betek
Fanhalen (Federasi Anak Nakal Halangan)  Celaket
(Sarang Anak Setan)                                  -
Inggris                                                     Kasin
Jrot                                                           -
Ermera                                                      -
Saga (Sumbersari Anak Ganas)                  -
Geng-geng Malang dan tempat asalnya
Geng-geng ini membuat suasana menakutkan di stadion.  Tempat pertandingan menjadi kesempatan untuk geng-geng tersebut membuktikan siapa yang paling keras.  Persaingan keras antara geng-geng terjadi walaupun semuanya medukung Arema.  Jadi semua upaya untuk membuat suporter Arema rukun dan kompak dihalangi.  Tawuran terjadi antara suporter Malang dan suporter dari luar tetapi juga di antara para suporter Arema sendiri.  Bentrokan tidak terjadi karena provokasi tetapi disebab oleh suasana brutalisme ditimbulkan suporter Malang.
Masih diingatkan oleh supporter Arema (dengan malu) bahwa suporter Malang brutal sebelum supoprter Surabaya menjadi brutal. Akhirnya, waktu antara 1987 dan pertengahan tahun 1990-an suporter Arema membuktikan bahwa mereka bisa mengimbangi egoisme Hooligan Inggris.
Suporter Malang menjadi terkenal sebagai Hooligan Indonesia.  Sering selama akhir 1980-an dan awal 1990-an sering ada  tawuran antara suporter Surabaya dan Malang.  Sayangnya persaingan keras itu antara Bonek dan suporter Arema sulit dibatasi.  Di Surabaya orang dari Malang diganggu dan kendaraan yang berplat N (plat Malang) dirusak.
Sementara di Malang kendaraan yang berplat L (plat Surabaya) mengalami hal yang serupa.  Pada tahun 1992 ada semacam sweeping’ menghadapi orang yang berKTP Surabaya.  Polisi terpaksa melakukan operasi untuk menghentikan aski brutal itu.  Akhirnya permusuhan berkembang antara orang kedua kota Jawa Timur tersebut melainkan antara suporter saja.  Lagipula Bonek nama suporter Surabaya menjadi istilah berarti hooligan Indonesia.  Jadi kata bonek yaitu yang tidak pakai huruf besar artinya hooligan walaupun Bonek itu berarti suporter Surabaya.  Karena persaingan keras itu sering Aremania dan Bonek dianggap sama saja.  Khususnya di luar Malang banyak orang yang bersikap bahwa Aremania adalah bonek juga.  Banyak orang tidak membedakan antaranya.  Selama tahun-tahun itu masyarakat Malang tutup jendela dan mengunci pintu kalau ada pertandingan Arema.  Sekarang suporter Arema telah benar-benar maju tetapi terhadap peringatan masyarakat yang menganggap bahwa mereka masih brutal.
C.  AREMANIA muncul
Pada pertengahan tahun 1990-an geng-geng Malang mulai luntur.  Sementara itu istilah Aremania muncul sebagai nama para suporter Arema.  Sebetulnya dua fenomena tersebut merupakan perubahan total dalam budaya pemuda Malang yang dikatalisasikan oleh beberapa tokoh.
Di artikel `Aremania Mengukir Sejarah Baru’ diterbitkan di Bestari, no. 156, 2001 Gus Nul mantan pelatih Arema menceritakan bahwa walaupun kurang jelas dari mana istilah Aremania itu muncul, nama itu mempersatukan suporter Arema.  Secara psichologis persamaan dasar antara Arema dan Aremania membuat suporter merasa bersatu.  Kata Aremania bisa dibagi Arema dan Mania.  Aremania itu muncul secara spontan dari suporter Malang yang mulai bosan dengan perkelahian geng-geng tersebut.  Ada beberapa alasan untuk perubahan itu.
Pertama-tama geng-geng mulai luntur karena soal generasi.  Anggota geng walaupun masih muda selama akhir 1980-an, di pertengahan 1990-an lebih dewasa.  Karena sudah lumayan tua mulai bosan dengan kegiatan geng.
Di samping itu, pada 1994 Ligina yang pertama dimulai dan PSSI mulai mendorong sepak bola Indonesia menjadi lebih profesional.  Pemain asing mulai main untuk klub Indonesia.  Itu termasuk upaya untuk menaikkan kualitas liga sepak bola.  Pemain asing pernah main untuk Arema.  Pernah ada pemain dari Afrika, Amerika Selatan, Korea Selatan dan juga Australia.  Dari semua ini yang paling terkenal ada pemain dari Negara Chile bernama Rodriguez `Paco’ Rubio.  Sekarang menurut suporter Malang dia semacam pahlawan sepak bola Arema.  `Paco’ Rubio menembus gol lawan selama putaran Delapan Besar Ligina VI.  Di samping itu, selama Ligina VII ada pemain dari Afrika namanya Frank Bob Manuel yang dengan sayang dipanggil `Bobby’ (selama Ligina VIII main untuk klub perserikatan Malang Persema).  Selama Ligina VIII Jaime Rojas (mantan pemain     Persema) juga berasal dari Chile masuk klub.  Dengan berupaya ke profesionalisme suporter mulai lebih tertarik pada permainan khususnya karena impor pemain luar negeri.  Juga ada pemain lokal yang menjadi bintang.  Misalnya Ahmad Junaedi selama Ligina VI tetapi setelah itu dia pindah ke Persebaya dan menjadi musuh suporter fanatik.  Akhirnya mau kembali ke Arema dia ditolak oleh pengurus Arema.  Daripada membeli Junaedi lagi mereka memilih mendidik pemain muda berasal dari Jawa Tengah bernama Johan Prasetyo.  Johan Prasetyo telah menjadi bintang Aremaa.  Selain Prasetyo ada Aji Santoso, pemain yang berpengalaman itu pernah main untuk TimNas Indonesia.  Karirnya setelah di Arema ke Persebaya dan kemudian ke PSM Makassar.  Akhirnya main untuk Persema sebelum main di Arema lagi.  Dengan impor pemain asing dan perhatian pada pemain profesional orang Indonesia, yang berkembang antara para suporter Indonesia adalah minat pada sepak bola bukan fanatisme terhadap klub saja.
Di artikel `Supporter Bergeser Jadi Football Minded’ diterbitkan di Jawa Pos 9 Maret 2002 perubahan sikap suporter digambarkan.  Ternyata bahwa para penonton mulai memilih menonton pertandingan menurut suguhan kualitas sepak bolanya.  Yaitu penonton mulai memilih pertandingan dengan lawan kualitas sepak bola tinggi.  Barangkali suporter Indonesia dipengaruhi tayangan sepak bola dari luar negeri.  Suporter mulai menuntut kualitas dari sepak bola Liga Indonesia.
Di samping itu perubahan suporter Malang didorong beberapa tokoh perintis Aremania.  Sebenarnya munculnya generasi geng dapat dicegah karena upaya tokoh Aremania.  Di artikel `Aremania Sebuah Gerakan Rakyat’ diterbitkan di Kompas, 1 April 2002 diceritakan bahwa suporter didorong oleh tokoh seperti Ovan Tobing, Lucky Zaenal, Iwan Eko Subekti dan Leo Kailolo untuk menjadi suporter bersatu dan sportif.  Pasti mereka sadar bahwa suporter brutal akan merugikan PS Arema, dan kalau klub Arema akan berusaha ke profesionalisme seharusnya suporter juga.  Tokoh yang tersebut membantu membangun simbol klub Arema yang telah menjadi simbol suporter juga.  Di artikel `Aremania junjung sportivitas’ diterbitkan di Bestari, no 156 2001 bahwa tokoh perintis ini mengusulkan Aremania dijuluki `Macan Putih’ atau `Singa Putih’ karena Arema berdiri pada 11 Agustus yang termasuk zodiak Leo. Kemudian secara spontan ada orang antaranya yang teriak `edan’.  Mungkin itu mucul dari bagian belakang istilah Aremania yaitu `mania’.  Kata `mania’ berarti edan. Dari latar belakang nama Aremania dan simbol Singo Edan semacam bahasa Malang berkembang.  Kata-kata bahasa Indonesia dan bahasa Jawa terbalik merupakan bahasa Malang atau fenomena Ngalaman.  Misalnya Singo Edan menjadi Ongis Nade dan Orang Malang menjadi Genaro Ngalam.  Di samping itu arek-arek Malang menjadi Kera-kera Ngalam.  Surat kabar Radar Malang itu Jawa Pos-nya Kera Ngalam.  Sekitar pertengahan tahun 1990-an suporter Arema mulai berubah.  Citra negatif terhadap suporter Arema ada sampai sekarang tetapi selama beberapa tahun yang lalu Aremania pernah diakui sebagai suporter Indonesia terbaik.  Pada waktu ribuan suporter ke Jakarta untuk putaran Delapan Besar Ligina VI Ketua Umum PSSI Agum Gumelar terkesan oleh penampilan suporter Arema di Stadion Senayan.  Dia mengakui Aremania sebagai suporter kreatif, sportif dan atraktif.  Di samping itu PSSI pernah mengundang Yuli Sugianto (dirigen suporter Arema) untuk mewakili suporter Indonesia.  Selama Ligina VII sering diakui oleh suporter klub lain sebagai guru suporter lain.  Pada Januari tahun 2001 di Tangerang, suporter mengucapkan selamat datang kepada Aremania dan sesudah ada insiden lemparan terhadap Aremania mereka mengucapkan termima kasih karena Aremania tidak terpancing oleh oknum provokator Tangerang.
Pada Juli tahun itu diakui oleh suporter Solo sebagai `guru hebat’. Lagipula kemajuan Aremania mempengaruhi keadaan di Malang.  Selama waktu Krismon, Malang tenang walaupun dimana-mana di Jawa telah kacau.  Itu karena pemuda Malang telah merasa bersatu sebagai Aremania dan tidak ingin membuat kerusuhan di kotanya.  Katanya ada suporter Solo yang mengirim sepasang bh dan celana dalam perempuan ke Aremania agar mengucapkan Aremania para penakut.  Namun Aremania tidak mudah dipancing. Yang jelas dalam lingkungan suporter sepak bola telah dianggap maju dari masa dulunya.  Lagipula mereka dianggap suporter di Indonesia.  Namun proses ini mulai lebih dari 5 tahun yang lalu dan Aremania sampai tahun 2001 berjuang untuk menghapus sisa-sisa brutalisme.
D.  Sisa-sisa Brutalisme
Aremania tidak langsung berhasil dalam perjuangan untuk menghapus citra suporter brutal.  Sampai tahun 1999 ada bentrokan antara suporter di Malang tetapi khususnya dengan Bonek.  Keadaan kacau hampir tidak bisa dicegah aparat keamanan.  Persaingan keras antara suporter Malang dan Surabaya terjadi selama ada kesempatan Arema melawan Persebaya.  Akibatnya di Malang suporter Surabaya harus dilarang masuk Malang supaya mencegah insiden yang tidak diinginkan.  Pengurus Arema pernah minta pertandingan Arema versus Persebaya diadakan di luar Malang agar tidak ada tawuran.  Namun ini diprotes
Aremania yang menuntut bahwa pertandingan Arema tetap milik masyarakat Malang.  Namun tahun-tahun tersebut harus dibedakan dari zaman geng-geng.  Mungkin tahun-tahun yang berikut kelunturan geng-geng Malang bisa dianggap sebagai waktu peralihan.  Sampai tahun 2001 ada insiden yang terjadi di luar Malang.  Salah satu contoh konflik antara suporter Malang dan Surabaya adalah tragedi Sidoarjo yang terjadi pada bulan Mei tahun 2001.
Tragedi Sidoarjo:  Pada Ligina VII Aremania mendukung tim kesayangannya di pertandingan away.  Arema melawan Gelora Putra Delta (GPD) di Sidoarjo.  Soalnya tiga kelompok suporter mucul di stadion Delta: Deltamania, Aremania dan Bonek.  Karena jarak antara Surabaya dan Sidoarjo jumlah sedikit suporter Surabaya datang untuk menjenkelkan suporter Arema.  Tiga kelompok ini dibagi supaya tidak ada bentrokan.  Aremania menempati sektor utara sementara Bonek dan Deltamania ada di tribun VIP.  Pertama-tama sebelum pertandingan mulai sekitar jam 14. 15 ada lemparan batu dari luar stadion.  Dua suporter Arema terluka dan Aremania menuntut bahwa tempat di luar stadion khususnya sekitar sektor utara diamankan.  Di samping itu Aremania dimarahkan kabar bahwa dua mobil Aremania dirusak.  Pada jam 15.10 lemparan batu antara sektor utara dan tribun timur mulai.  Polisi terhadap kesulitan membatasi lemparan karena Bonek dapat sumber batu dari luar stadion.  Pada jam 16.00 pertandingan sepak bola dimulai.  Pada jam 16.20 aparat keamanan megeluarkan tembakan peringatan untuk menghentikan lemparan.  Pada menit ke-29 pertandingan harus dihentikan karena suporter masuk lapangan dan kerusuhan mulai terjadi di luar stadion.  Aremania harus dievakuasi oleh aparat keamanan.  Akhirnya 15 orang terluka, 7 mobil dan 2 sepeda motor dirusak.  Juga stadion Delta dihancur dari aksi lemparan dan bentrokan yang berikutnya.  Reaksi Aremania penuh dengan kesedihan terhadap tragedi Sidoarjo.  Para suporter Arema merasa mereka salah dipersalahkan untuk tragedi Sidoarjo walaupun Bonek adalah provokator.  Pak Marheis salah satu korwil Aremania yang dianggap oleh sebagian suporter sebagai tokoh yang memperbolehkan ketertiban antara korwil-korwil tidak bisa menahan tangisnya setelah insiden Sidoarjo.  Ovan Tobing seorang perintis Aremania setelah tragedi itu berpendapat bahwa tragedi di Sidoarjo merupakan pelajaran untuk PSSI.  Pada waktu Arema main di Malang Aremania membawa spanduk yang protes disalahkan atas kejadian di Sidoarjo.  Sayangnya bahwa insiden seperti itu menegaskan citra Aremania sebagai suporter brutal karena dalam insiden itu Aremania sebetulnya di kedudukan sulit.  Pertama-tama mereka dilempari dari luar stadion.  Lagipula mereka terhadap Bonek yang siap dengan sumber batu dari luar stadion.
Aremania diserang di Jogja:  Selain masalah Bonek ada kelompok lain yang iri pada Aremania jadi mencoba memancingnya.  Pada bulan Oktober tahun 2001 Aremania diundang ke pertandingan di Jogjakarta.  Di Jogja Aremania diserang oleh Brajamusti (supporter PSIM).  Seperti di Sidoarjo ada lemparan batu dari luar stadion.  Aremania terpaksa masuk lapangan untuk menghindari lemparan dari luar stadion.  Dan Aremania sempat terkurung di stadion, karena hampir seluruh penjuru stadion sudah di kepung oleh Brajamusti yang membawa berbagai alat sajam. Tragedi ini berakhir setelah waktu itu Sri Sultan Hamengkubuwono datang ke stadion untuk menenangkan para supporter Jogja untuk menyuruh mereka m[ulang dan menghentikan aksinya, serta tak lupa Sultan juga memberikan bungkusan nasi kepada Aremania yang masih terkurung di dalam stadion. Selanjutnya di upayakan evakuasi sampai batas kota Jogja. Pertandingan dihentikan dan harus dimain hari berikutnya di tempat yang dirahasiakan.  Slemania, para suporter Sleman pada umumnya sangat malu pada penyerangan itu.  Mereka mulai menyanyi dengan gaya Aremania:
Maaf Maaf Maaf Aremania
    Maafkan kami atas kejadian ini
Pada umumnya ada persahabatan antara Aremania dan para suporter lain tetapi kadang-kadang ada oknum kelompok yang mencoba memancing Aremania.  Dan jarang Aremania terpancing dengan mudah.  Selama Ligina VIII tidak ada masalah bentrokan kalau suporter lain datang ke Malang.  Aremania membuktikan bahwa telah sportif.  Supporter apalagi pemain saja butuh sportivitas.  Setelah kejadian seperti di Jogja, Aremania berjanji mereka tidak akan membalas dendam kalau suporter Sleman datang ke Malang.  Korwil Cilewung juga mendorong Aremania untuk tidak membalas dendam Bonek.  Dia sadar bahwa kalau membalas dendam pasti tidak akan dibedakan dari Bonek. Harus diakui walaupun lama berjuang dengan sisa-sisa brutalisme Aremania telah agak berhasil dalam tugasnya.
Suporter Arema bersemangat kepada tim kesayangannya tetapi juga kepada negara Republik Indonesia. Dengan kompak suporter Arema sebelum permulaian pertandingan menyanyi lagu nasionalis `Padamu Negeri'.  Lagu itu dinyanyi suporter dengan bangga. Nasionalisme merupakan salah satu aspek dasar suporter Arema.  Aremania mendukung Arema tetapi akhirnya semua maupun suporter tim lawan bersaudara. Malang aman karena persaudaraan itu.  Lagipula Malang lepas daripada masalah pertentangan kesukuan atau konflik agama yang timbul di mana-mana di Indonesia. Aremania berpendapat bahwa kalau Malang bisa begitu rukun, mengapa negara Indonesia belum bisa seperti itu?  Yang jelas persatuan Aremania muncul secara alami dan karena itu ada sikap positif terhadap persatuan negara Indonesia.
[SALAM 1 JIWA]
by.http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/field_topics/john.doc
source : http://www.mail-archive.com/radioliner@yahoogroups.com/msg00903.html

Read more

FOLLOWER

Sample Text

MENUNGGU KESUKSESAN ADALAH TINDAKAN BODOH YANG SIA - SIA

INFO Bermanfaat

--------AREMANIA UNEJ----------

--------AREMANIA UNEJ----------

Entri Populer

Translate

Web hosting for webmasters